PDA

View Full Version : 5 Warga Difabel Indonesia yang Berprestasi & Menginspirasi


andi.teguh
8th October 2012, 05:39 PM
1. Ratna Indraswari Ibrahim


http://images.detik.com/customthumb/2012/08/31/10/143041_raswariheyderaffanbbc.jpg?w=460

Ratna Indraswari Ibrahim, seorang penulis dan sastrawati kelahiran Malang, Jawa Timur, pada 21 April 1949 ini mengalami kelumpuhan sejak usia 10 tahun, demikian dikutip dari BBC Indonesia.

Karena kelumpuhannya itu, Ratna terus menggunakan kursi roda, mengaku sempat terpuruk dan mengalami kemarahan saat usianya beranjak remaja. Ratna bahkan sempat tidak percaya akan adanya Tuhan dan menjadi atheis.

"Tapi ternyata Tuhan itu ada..," simpulnya, setelah menjalani kehidupan lebih dari 50 tahun.

Ratna dibesarkan di keluarga yang cinta akan buku, dan diperkenalkan oleh ayahnya dengan bacaan-bacaan yang berat sejak usia 6 tahun. Perempuan ini kemudian menemukan jalan hidupnya dalam dunia tulis-menulis dan sastra.

"Dunia tulis-menulis itulah jalan saya," katanya.

Dalam berkarya, Ratna dibantu asistennya untuk mengetikkan buah ide dan cerpen atau novel yang dia lontarkan. Tempat favoritnya mengerjakan itu adalah di kamar pribadinya yang dipenuhi dengan buku yang terletak di Jalan Diponegoro 3, Malang. Tak heran Ratna menjuluki dirinya sebagai 'sastrawan lisan'.

Dari hasil berkarya dengan cara itu, sudah ada sekitar 400 cerpen dan novel yang dilahirkannya. Kecintaannya akan buku juga membuatnya mendirikan toko buku 'Tobuki, Toko Buku Kita' di sebelah rumahnya.

"Saya ingin menjadi seperti Virginia Woolf," jawab Ratna, jika diberi kesempatan untuk mengulang waktu. "Dan, karena itu, saya ingin lebih tekun menulis...," imbuhnya.

Virginia Woolf adalah penulis Inggris dan tokoh feminis. Selain menulis, Ratna juga mendirikan organisasi dan kerap berdiskusi dengan aktivis, seniman dan mahasiswa di Kota Malang.

Hingga pada tahun 2011, Ratna terserang stroke dengan komplikasi penyakit jantung dan paru-paru hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Senin, 28 Maret 2011 di RS Saiful Anwar, Malang. Ratna meninggalkan novel yang belum selesai dan belum berjudul mengenai romantika aktivis di era reformasi tahun 1998.


2. M Ade Irawan

http://images.detik.com/content/2012/08/31/10/143133_madeirawanfacebook.jpg


M Ade Irawan merupakan penyandang tunanetra, namun keterbatasan fisiknya itu mempertajam penggunaan indera-indera lainnya. Ade lahir dari pasangan Endang Dewi Mardeyani dan Irawan Subagyo pada 15 Januari 1994 di Colchester, Inggris.

Kendati sempat terguncang, orang tua Ade menerima kondisi Ade dan selalu men-support minat Ade. Ibundanya, Endang, pada penghujung 1995 mendapatkan beasiswa master di universitas ternama di New York, AS hingga 1999, dan mendapati putra kecilnya aktif dan senang meraba-raba alat musik perkusi seperti kendang.

Kembali ke Indonesia tahun 1999, Ade yang saat itu diajak orang tuanya jalan ke mal, Ade menekan tuts piano dan berbunyi. Spontan, Ade langsung meminta dibelikan alat musik itu. Satu keyboard Casio pun mulai menjadi teman Ade saat usia 7 tahun.

Ade kemudian mengagumi musisi jazz George Benson dan setahun kemudian, dia memutuskan memilih jazz sebagai musik pilihannya. Bakatnya semakin terasah saat mengikuti ibundanya yang bertugas di Chicago, AS tahun 2004. Chicago merupakan tempat para berkumpul musisi blues dan jazz di dunia.

Ibu Ade kemudian sering membawa putranya bermain di kafe-kafe dan untuk bertemu teman-teman sesama musisi. Menginjak usia belasan tahun permainan piano Ade makin luar biasa dan tampil di Chicago Winter Jazz Festival pada tahun 2006 dan 2007, saat usianya 12 tahun.

Ade juga mengkuti audisi khusus dengan musisi jazz Amerika Serikat, seperti Coco Elysses-Hevia, Peter Saxe, Ramsey Lewis, John Faddis, Dick Hyman, Ryan Cohen, dan Ernie Adams. Ade mempelajari huruf braille Farnsworth School plus pianis tetap pada acara musik di sekolah itu dan di Jazz Links Jam Session (Jazz Institute of Chicago) di Chicago Cultural Center.

Musisi jazz dalam negeri seperti Idang Rasjidi, Indra Lesmana, Bubi Chen hingga bos Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana juga memberinya perhatian. Jaya membuatkan Ade pagelaran resital tunggal pada Juni 2010 lalu, dan menjulukinya Ade 'Wonder' Irawan, merujuk musisi tunanetra, Stevie Wonder. Ade juga menjadi penampil pada Java Jazz Festival 2010 lalu.

Ade yang kini duduk di kelas 3 SMA SLB Lebak Bulus ingin menjadi pianis yang terkenal di dunia.



lanjutan di bawah

andi.teguh
8th October 2012, 05:39 PM
3. Angkie Yudistia

http://images.detik.com/customthumb/2012/08/31/10/143210_angkieyudishtiadetikhot.jpg?w=460

Angkie Yudistia, adalah penyandang tunarungu sejak usia 10 tahun namun hal itu tak membuatnya pasrah menjalani hidup. Meski berat, ia mampu menyelesaikan pendidikannya di sekolah umum sejak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Praktis, keterbatasan Angkie itu menimbulkan banyak masalah selama belajar di SD hingga SMA. Tak jarang ia mengaku sering kali menerima cacian dan hinaan. Ketika itu, rasa malu memang membuat Angkie menutupi jati dirinya sebagai penyandang tunarungu.

"Dulu aku diledekin, dikatain budek, tuli itu sering banget di lingkungan," ungkapnya seperti dikutip dari detikhot, Selasa, 8 Mei 2012 lalu.

Angkie kemudian menyelesaikan studinya di jurusan periklanan di London School of Public Relations(LSPR), Jakarta, dan lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,5. Di kampus yang sama, Angkie bahkan telah meraih gelar master setelah lulus dari bidang komunikasi pemasaran lewat program akselerasi.

Semasa kuliah, Angkie pun selalu aktif dalam berbagai kegiatan. Ia merupakan finalis Abang None mewakili wilayah Jakarta Barat pada 2008. Selain itu ia juga berhasil terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, serta Miss Congeniality dari Natur-e, serta berbagai prestasi lainnya. Bungsu dari dua bersaudara itu pernah pula berkarier sebagai humas di berbagai perusahaan. Berbagai prestasi dan semangatnya itulah yang pada akhirnya membuat Angkie tergerak untuk memotivasi para penyandang difabel lainnya.

Angkie mulai terlibat dengan kegiatan sosial saat bergabung dengan Yayasan Tunarungu Sehijara pada 2009. Sejak saat itu hingga kini, ia pun kerap jadi pembicara dan menjadi delegasi Indonesia di berbagai kegiatan internasional di mancanegara yang berkaitan dengan kaum difabel.

Di usianya yang masih 25 tahun, Angkie sudah menjadi founder dan CEO (chief executive officer) Thisable Enterprise. Perusahaan yang didirikan bersama rekannya itu fokus pada misi sosial, khususnya membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik alias difabel (Different Ability People).

"Di balik keterbatasan pasti ada kelebihan. Walaupun aku terbatas mendengar, bukan berarti harus terbatas melakukan apapun. Aku ingin menunjukkan semua batas harus ditembus, karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," ungkapnya seraya tersenyum.

Kepedulian pemilik tinggi 170cm dan berat 53kg itu pun terus berlanjut dengan meluncurkan buku berjudul 'Invaluable Experience to Pursue Dream' (Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas) akhir 2011 lalu. Pengalaman hidup dan pemikirannya dituangkan lewat karyanya itu.

"Buku itu bukan hanya ditujukan untuk penyandang difable saja, tapi juga teman-teman lainnya yang normal. Kita memang beda, tapi bukan untuk dibedakan," sambungnya menegaskan.



4. Gola Gong

http://images.detik.com/content/2012/08/31/10/143246_ngdokpribadiwikipedia.jpg


Bagi Anda yang mengalami masa remaja di era 1980-an, tentu tak asing dengan novel 'Balada Si Roy' yang ditulis Gola Gong. Gola Gong bernama asli Heri Hendrayana Harris.

Seperti dilansir dari Wikipedia, Gola Gong kehilangan tangan kirinya sejak usia 11 tahun. Penyebabnya, saat bermain di alun-alun Kota Serang, Banten, Gola Gong dan teman-temannya melihat tentara latihan terjun payung. Gola pun menantang teman-temannya untuk adu keberanian seperti penerjun payung itu dengan..lompat dari pohon di pinggir alun-alun.

Ayahnya kemudian menyarankan Gola Gong harus banyak membaca. "Kamu harus banyak membaca dan kamu akan menjadi seseorang dan lupa bahwa diri kamu itu cacat," kata ayahnya, Harris, kala itu.

Novelnya yang populer di kalangan remaja kala itu, 'Balada Si Roy' awalnya dimuat berseri di majalah remaja pria 'Hai' dari tahun 1989-1994, yang ditulis Gola saat dirinya duduk di bangku SMA. 'Balada Si Roy' menceritakan pemuda yang mencari jati diri, senang berpetualang dengan gaya backpacker. Selain menulis novel, Gola Gong yang juga seorang traveller, gemar juga menulis cerita-cerita perjalanan.

Sejak 2001 dia mendirikan komunitas kesenian Rumah Dunia di lahan 1.000 meter persegi di belakang rumahnya di kawasan Komplek Hegar Alam, Ciloang, Serang, Banten. Di Rumah Dunia, Gola Gong menyebarkan virus "Gempa Literasi", yaitu gerakan kebudayaan menghancurkan kebodohan lewat kata (sastra dan jurnalistik), swara (musik), rupa (teater dan film), dan warna (melukis). Gempa literasi itu berupa kegiatan: 1. Orasi literasi, 2. Pelatihan, 3. Hibah buku, 4. Aneka lomba literasi, 5. Penerbitan, 6. Bedah/peluncurna buku, 7. Bazaar buku murah

Mendekati paruh baya, Gola Gong lumpuh total karena melawan penyakit osteoarthritis atau pengapuran sendi. Namun Gola Gong tak menyerah mencari kesembuhan sambil merawat 'Rumah Dunia'nya.



5. Stephanie Handojo

http://images.detik.com/content/2012/08/31/10/143331_stephaniehandojo.jpg

Sejak lahir mengidap downsyndrome, Stephanie Handojo mesti menjalani kehidupan yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Meskipun punya kekurangan, ia dapat membuktikan dirinya mampu berprestasi tinggi.

Gadis yang lahir pada 5 November 1991 ini tumbuh besar bersama kedua orangtuanya, Maria Yustina dan Santoso Handojo. Mereka merawat dan membesarkan Stephanie penuh kasih sayang.

Stephanie yang kini duduk di bangku kelas 3 SMA, sejak kecil memang sudah mulai mengikuti kegiatan positif khususnya di bidang olahraga seperti berenang dan bulutangkis. Bahkan, saat menginjak usia 12 tahun, ia berhasil meraih juara 1 pada kejuaraan Porcada.

Meskipun ia terlahir dengan kekurangan, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Stephanie menggali bakatnya yang lain di dunia musik. Ia tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) karena mampu bermain piano dengan 22 lagu selama 2 jam.

Kendati begitu ia masih fokus dalam bidang olahraga, dengan perkembangan prestasi yang makin gemilang. Terpilih mewakili Indonesia di ajang Special Olympics World 2011 di Athena, Yunani, Stephanie meraih medali emas dari cabang renang nomor 50 meter gaya dada, seperti dikutip dari detiksport, Rabu 18 April 2012.

Special Olimpics Indonesia (SOina) sebagai organisasi yang menaungi atlet-atlet tunagrahita melihat bahwa anak didiknya itu mempunyai kemampuan dan semangat yang luar biasa. Mereka kemudian merekomendasikan Stephanie, setelah menyisihkan dua anak lain, untuk mengikuti seleksi khusus yang dilakukan UNICEF dan Inggris menjelang Olimpiade 2012.

Ia akhirnya terpilih mewakili Indonesia dalam tim yang terdiri dari 20 anak dari 20 negara, untuk ikut membawa obor Olimpiade tersebut.


sumber (http://news.detik.com/read/2012/08/31/142811/2004450/10/2/5-warga-difabel-indonesia-yang-berprestasi-menginspirasi991101mainnews)

jendralpanu
16th October 2012, 05:34 AM
nyimak dulu om