PDA

View Full Version : Pengelolaan Risiko Pasar Bank Mandiri (Market Risk Management)


r1n2rd
29th July 2014, 01:54 PM
Pengelolaan Risiko Pasar Bank Mandiri (Market Risk Management) (http://bankernote.com/pengelolaan-risiko-pasar-bank-mandiri-market-risk-management/) Risiko Pasar – Trading Book

Risiko pasar trading book merupakan potensi kerugian yang disebabkan oleh perubahan suku bunga dan nilai tukar atas portfolio trading (termasuk derivative instrument). Dalam melakukan pengelolaan risiko pasar trading book, Bank menerapkan prinsip segregation of duties dengan memisahkan fungsi dan tanggung jawab secara independen atas transaksi perdagangan Treasury Group yang terdiri dari unit front office unit (transaksi trading), middle office unit (proses manajemen risiko, menyusun kebijakan dan prosedur) dan back office unit (proses settlement transaksi). Bank melakukan proses valuasi secara harian dari sumber yang independen untuk seluruh instrument yang diklasifikasikan dalam portfolio trading book. Sumber harga pasar yang digunakan antara lain:

Harga pada Reuters, Bloomberg maupun sumber sejenis;
Harga yang tercatat di bursa (exchange prices) atau pasar sekunder;
Harga pada layar dealer (screen prices); atau
Kuotasi yang paling konservatif yang diberikan oleh minimal 2 (dua) broker dan/atau market maker yang memiliki reputasi baik dan salah satunya bersifat independen.
Dinamika pasar finansial Indonesia yang memiliki karakteristik yang unik, dalam beberapa instrument seringkali dijumpai tidak memiliki harga pasar. Dalam memperlakukan instrumen yang tidak memiliki harga pasar, Bank menggunakan mark to model berdasarkan metodologi yang sesuai. Untuk memastikan akurasi dan efektivitas metode mark to model, dilakukan review secara berkala.
Dalam rangka memastikan bahwa Bank memiliki modal yang cukup untuk mengantisipasi risiko pasar trading book, pengukuran risiko pasar untuk perhitungan kecukupan modal dilakukan dengan menggunakan 2 metode yaitu model standar dan model internal. Pendekatan model standar digunakan oleh Bank dalam perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang dilaporkan secara bulanan kepada Bank Indonesia dan triwulanan dengan melakukan proses konsolidasi dengan perusahaan anak. Sedangkan perhitungan dengan model internal dilakukan sebagai laporan kepada manajemen yang dilakukan secara harian dengan metodologi Value at Risk (VaR).
Tabel 7.1. Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Metode Standarl (dalam Jutaan Rupiah)
http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Gambar-1-Pengungkapan-Risiko-Pasar-Dengan-Menggunakan-Metode-Standar.jpg (http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Gambar-1-Pengungkapan-Risiko-Pasar-Dengan-Menggunakan-Metode-Standar.jpg)
Gambar 1 – Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Metode Standar
Pendekatan VaR menggunakan 2 metode yaitu: (i) Metode Variance Covariance untuk perhitungan risiko pasar transaksi plain vanilla products. Metode ini, menggunakan konsep Exponential Weighted Moving Average (EWMA) dalam perhitungan volatilitas yaitu memberikan bobot lebih besar untuk data – data terkini dengan nilai decay factor yang digunakan adalah sebesar 0.94; (ii) Metode Historical Simulation untuk perhitungan risiko pasar transaksi derivatif.
Realisasi Value at Risk tahun 2013 adalah sebagai berikut:
Tabel 7.2.a Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Model Internal (Value at Risk/VaR) – Bank Secara Individual (dalam Jutaan Rupiah)
http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Gambar-2-Pengungkapan-Risiko-Pasar-Dengan-Menggunakan-Metode-Internal.jpg (http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Gambar-2-Pengungkapan-Risiko-Pasar-Dengan-Menggunakan-Metode-Internal.jpg)
Gambar 2 – Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Metode Internal
Tabel 7.2.b Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Model Internal (Value at Risk/VaR) – Bank Secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak * (dalam Jutaan Rupiah)
http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Gambar-3-Pengungkapan-Risiko-Pasar-Dengan-Menggunakan-Metode-Internal-Secara-Konsolidasi.jpg (http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Gambar-3-Pengungkapan-Risiko-Pasar-Dengan-Menggunakan-Metode-Internal-Secara-Konsolidasi.jpg) Gambar 3 – Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Metode Internal Secara Konsolidasi
Sedangkan perbandingan realisasi Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) antara metode Standar dengan model internal pada tahun 2013 adalah sebagai berikut:
http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Gambar-3-Market-Risk-Capital-Charge.jpg (http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Gambar-3-Market-Risk-Capital-Charge.jpg)
Gambar 3 – Market Risk Capital Charge
Dalam rangka memastikan risiko yang dihadapi sesuai dengan risk appetite, Bank melakukan monitoring risiko pasar atas aktivitas treasury dengan cara membandingkan hasil pengukuran risiko pasar terhadap limit yang telah ditetapkan. Monitoring dilakukan atas utilisasi limit secara harian yang meliputi limit individual (Intraday Net Open Position Limit, Overnight Net Open Position Limit, Loss Limit dan Holding Period Limit) serta limit portfolio (VaR Limit dan Greek Limit). Selain itu, Bank juga melakukan pemantauan atas kinerja treasury untuk memastikan target bisnis dan pendapatan tercapai. Untuk memastikan akurasi dan efektivitas model VaR, Bank melakukan pengujian dengan menggunakan backtesting. Proses backtesting akan memberikan gambaran sejauh mana penyimpangan yang terjadi, apakah estimasi kerugian yang didapat dari perhitungan VaR sejalan dengan dengan actual/hypothetical loss dan sejauh mana penyimpangan tersebut dapat ditolerir. Pelaksanaan backtesting dilakukan dengan dua metode perhitungan yaitu dengan metode Unconditional Coverage Test (Basel Zone dan Kupiec Test) serta Conditional Coverage Test
(Christoffersen Test). Berdasarkan hasil backtesting periode Desember 2013, perhitungan VaR dengan dua metode tersebut dapat disimpulkan “akurat”, dimana jumlah penyimpangan P/L terhadap daily VaR masih dapat diterima dan tidak bersifat saling mempengaruhi satu sama lain.

http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Backtesting-Value-at-Risk.jpg (http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Backtesting-Value-at-Risk.jpg) Backtesting Value at Risk
Pada kondisi pasar yang sangat ekstrim, Bank melakukan proses stress testing untuk mengevaluasi ketahanan modal terhadap pergerakan faktor pasar yang sangat signifikan dan mempersiapkan strategi yang diperlukan jika kondisi krisis tersebut terjadi. Pelaksanaan stress testing dilakukan dengan mengkombinasikan stressed scenario: (i) Berdasarkan skenario Bank Indonesia, dengan potensi kerugian terbesar yang dialami Bank yaitu sebesar Rp. 298,64 Miliar (apabila suku bunga meningkat 400 basis point dan kurs Rupiah ter-apresiasi 20%); (ii) Berdasarkan historical scenario Bank, dengan potensi kerugian terbesar yang dialami Bank yaitu sebesar Rp. 395,156 Miliar (apabila suku bunga meningkat 31 – 575 basis point dan kurs Rupiah ter-apresiasi 30%).
Risiko Pasar – Banking Book

Risiko pasar banking book disebabkan perubahan suku bunga dan nilai tukar atas aktivitas banking book. Risiko pasar banking book dikelola dengan mengoptimalkan struktur neraca Bank untuk mendapatkan imbal hasil yang maksimal sesuai tingkat risiko yang dapat diterima Bank. Pengendalian risiko pasar banking book dilakukan dengan menetapkan limit – limit yang mengacu pada ketentuan regulator dan internal yang dimonitor secara mingguan maupun bulanan oleh
Market Risk Management Unit (Unit Pengelola Risiko Pasar ).

Risiko suku bunga banking book timbul akibat pergerakan suku bunga pasar yang berlawanan dengan posisi atau transaksi yang dimiliki Bank, yang dapat berpengaruh pada profitabilitas Bank (earning perspective) maupun nilai ekonomis modal Bank (economic value perspective). Sumber-sumber risiko suku bunga banking book adalah repricing risk (repricing mismatch antara komponen aset dan kewajiban), basis risk (penggunaan suku bunga acuan yang berbeda), yield curve risk (perubahan bentuk dan slope yield curve), dan option risk (pelunasan kredit atau pencairan deposito sebelum jatuh waktu). Bank menggunakan repricing gap dan melakukan sensitivity analysis guna memperoleh proyeksi Net Interest Income (NII) dan Economic Value of Equity (EVE). berdasarkan hasil simulasi sensitivity analysis per 31 Desember 2013, dampak perubahan suku bunga sebesar 100 bps akan mengakibatkan NII Bank turun sebesar 4,75% untuk 12 bulan kedepan dari target yang telah ditetapkan dan Equity Bank turun sebesar 2,06%.
http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Gambar-4-Analisis-Sensitivitas-Suku-Bunga3.jpg (http://bankernote.com/wp-content/uploads/2014/07/Gambar-4-Analisis-Sensitivitas-Suku-Bunga3.jpg)
Gambar 4 – Analisis Sensitivitas Suku Bunga
Risiko nilai tukar timbul akibat pergerakan nilai tukar pasar yang berlawanan pada saat Bank memiliki posisi terbuka. Risiko nilai tukar berasal dari transaksi valuta asing dengan nasabah dan counterparty yang menyebabkan posisi terbuka dalam valuta asing maupun posisi struktural dalam valuta asing akibat penyertaan modal. Bank mengelola risiko nilai tukar dengan melakukan pemantauan dan pengelolaan Posisi Devisa Netto (PDN) sesuai dengan limit internal dan regulasi. Per 31 Desember 2013, PDN keseluruhan (absolut) sebesar 2,06% dari modal.
Manajemen Pricing

Bank menerapkan kebijakan pricing produk dana maupun produk kredit sebagai salah satu strategi memaksimalkan Net Interest Margin (NIM) dan sekaligus mendukung Bank menguasai revenue market share dengan mempertimbangkan kondisi persaingan. Bank secara konsisten berupaya menerapkan strategi sebagai market leader dalam hal pricing pendanaan. Namun demikian, dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas dan kebutuhan dana, Bank dapat menerapkan strategi agresif (lebih besar dari pesaing utama) atau defensif (sama atau lebih kecil dari pesaing utama).* Bank menerapkan risk based pricing yaitu pemberian suku bunga kredit kepada nasabah bervariasi berdasarkan tingkat risiko kreditnya. Dalam rangka meminimalkan risiko suku bunga, maka suku bunga kredit disesuaikan dengan suku bunga sumber dana pembiayaan. Selain biaya dana, suku bunga kredit ditetapkan dengan mempertimbangkan biaya overhead, premi risiko kredit dan marjin keuntungan Bank dengan tetap memperhatikan competitiveness dengan pesaing utama. Suku bunga kredit dapat berupa suku bunga mengambang (floating rate) atau suku bunga tetap (fixed rate). Bank mempublikasikan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) valuta Rupiah melalui pengumuman di setiap kantor Bank, website Bank dan setiap triwulan melalui surat kabar sesuai Surat Edaran Bank Indonesia No.13/5/DPNP tanggal 8 Februari 2011.
Sumber laporan tahunan Bank Mandiri http://www.bankmandiri.co.id pada bagian risiko pasar

Pengelolaan Risiko Pasar Bank Mandiri (Market Risk Management) (http://bankernote.com/pengelolaan-risiko-pasar-bank-mandiri-market-risk-management/)