View Single Post
Old 12th November 2014, 08:25 AM   #1
Sek Des
 
Join Date: 30 Oct 2014
Userid: 2753
Posts: 301
Likes: 0
Liked 2 Times in 2 Posts
Default Krisis Petani di Negeri Agraris



Quote:
VIVAnews – Terik matahari begitu menyengat. Sinarnya menyorot tubuh sekelompok laki-laki dan perempuan. Mereka tak lagi muda.

Di tengah sawah yang sudah disulap menjadi ladang jagung, mereka sibuk bekerja. Pakaiannya pun ala kadarnya. Caping dan topi di kepala, cukup untuk melindungi cuaca panas siang itu.

Di sisi kiri atau kanan mereka tampak onggokan jagung yang sudah dimasukkan dalam karung. Sesekali, terdengar gelak tawa dari arah mereka. Ada keriangan.

Ya, mereka adalah para buruh tani yang sedang memanen jagung milik tetangganya. Ansori (40) salah satunya. Warga Desa Talangsuko, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini ikut bermandi keringat demi anak istri.

Ansori sebenarnya memiliki sawah seluas 2.000 meter persegi. Namun, lahan itu tak cukup untuk menghidupi anak istrinya sehari-hari.
“Sekarang, satu hektare tebu hasilnya sedikit. Lebih banyak menanam jagung. Apalagi jagung proyek, sudah pasti terbeli dan hasil tanamnya juga sedang bagus,” ujar Ansori saat ditemui VIVAnews di sela panen jagung, Rabu, 2 November 2014.

Pria berkulit legam ini menguasai seluk beluk pertanian. Sejak duduk di bangku SMP, ia sering membantu orang tuanya bertani. Dari orang tuanya pula, ia mendapat warisan sawah seluas 2.000 meter persegi tersebut.

Meski, hasil panennya selalu ludes karena harus dibagi dengan dua saudara dan orang tuanya. “Setiap panen saya bisa dapat lima sak (kantong). Ya, lumayan untuk dimakan sendiri tiga bulan,” ujar ayah empat anak ini.

Di antara tiga bersaudara, hanya Ansori yang tertarik menekuni profesi sebagai petani. Dua saudaranya memilih menjadi buruh di industri material bangunan. Bagi Ansori, bertani jauh lebih mudah dan mengasyikkan dibanding bekerja bidang lain yang tak ia mengerti.

Meskipun, hasil panen tak cukup menghidupi empat anak dan istrinya. “Sekali panen bisa dapat 1,5 ton, dipotong biaya pupuk dan buruh panen Rp1,5 juta. Rata-rata bisa dapat Rp3 juta hingga Rp4 juta," Ansori menjelaskan.
"Kalau dibagi berempat, ya sangat tidak cukup untuk hidup empat bulan. Jadi beras panen tidak dijual, buat dimakan sendiri saja,” ujarnya.

Untuk menutup delapan bulan berikutnya, ia harus bekerja, menjadi buruh tani di lahan orang. Anak-anak Ansori tak tertarik mengikuti jejaknya. “Anak yang pertama umur 19 tahun. Dia tak mau jadi petani. Ya, saya tidak bisa maksa. Dia kerja jadi buruh di pabrik paving,” katanya.

Menurut dia, kerja di pabrik, upah yang diterima lumayan besar. Upah diberikan per hari plus libur sehari dalam sepekan.

“Kalau tani dapatnya empat bulan sekali. Tapi, tidak ada libur. Kerja di ladang orang, biar dapurnya bisa masak nasi dan lauknya setiap hari,” ujar pria yang hanya lulus SMP ini.

Ansori tak sendiri. Ada sekitar 125 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sari Tani di desanya yang bernasib sama. Mereka hanya petani gurem yang memiliki lahan di bawah satu hektare.

Ketua Kelompok Tani Sari Tani Ahmad mengatakan, semakin kecil lahan semakin sedikit keuntungan yang didapat. Akibatnya, banyak petani yang memilih menyewakan lahan yang hanya sepetak daripada menggarap sendiri lantaran biaya operasional tak sesuai dengan pendapatan.

“Pupuknya mahal dan selalu naik. Biaya obat kalau ada hama. Beli bibit juga mahal. Biaya buruh tani untuk panen juga tak sedikit. Belum kalau salah tanam dan cuacanya tak sesuai, bisa rugi karena rusak dan hama. Sedangkan harga gabah dan jagung seperti itu saja,” ujarnya saat ditemui VIVAnews, Rabu 5 November 2014.
http://sorot.news.viva.co.id/news/re...negeri-agraris
akiyamashinichi is offline   Reply With Quote
Sponsored Links