View Single Post
Old 15th November 2014, 08:02 PM   #18
nonasakamoto
KaDes Forumku
 
Join Date: 3 Nov 2014
Userid: 2791
Location: Indonesia
Posts: 723
Real Name: Secret. lol.
Likes: 0
Liked 2 Times in 2 Posts
Default Jakarta bisa jadi tujuan wisata belanja

Jakarta bisa jadi tujuan wisata belanja

http://www.merdeka.com/khas/jakarta-...santosa-1.html



Quote:
Merdeka.com - Banyak orang menuding makin banyak pusat belanja membikin Ibu Kota Jakarta kian macet. Namun Ketua Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Handaka Santosa menepis pandangan miring itu.

Dia bilang keberadaan mal justru mengurai kemacetan. Dia tidak bisa membayangkan betapa mandeknya lalu lintas jika pusat belanja hanya sedikit di Jakarta. Handaka menegaskan mal juga mampu menyediakan lapangan kerja. Bahkan keberadaan 76 pusat belanja di Jakarta bisa menjadikan kota ini sebagai tujuan wisata belanja.

Berikut penjelasan Handaka saat ditemui Faisal Assegaf dari merdeka.com Senin malam lalu dari merdeka.com di kantornya, lantai 45 Wisma BNI 46, Jakarta.

Berapa jumlah mal di Jakarta saat ini?

Saat ini mal di Jakarta ada 76 mal, di seluruh Indonesia ada sekitar 260. Pusat belanja itu terdiri dari pusat perdagangan dan mal. Mal itu tempatnya kita sewain, kayak Palza Indonesia, Senayan City. Sedangkan pusat perdagangan seperti ITC Roxy kiosnya dijual. Makanya kadang pengaturan tempat jualan di pusat perdagangan tidak serapih mal. Kalau mal kan sewa, kalau jelek kita tidak sewa lagi.

Mengenai jumlah, saya yang tahu jumlahnya. Jangan minimarket dibilang mal. Disebut jumlahnya 170-an mungkin minimarket dianggap mal, toko modern.

Apakah benar predikat Jakarta kota paling banyak malnya di dunia?

Bukan. Saya ketemu pengurus asosiasi pariwisata Hong Kong. Dia bilang kalau di Hong Kong malah lebih lagi, bukan hanya 76. Dia bilang kita perlu banyak turis, butuh banyak sarana. Kalau pusat belanja punya daya tarik, orang akan belanja ke kita lebih nyaman.
Jadi bisa menjadi tujuan wisata belanja.

Dulu orang ke Malaysia gitu-gitu aja. Sekarang orang ke Malaysia, Penang, belanja. Dengan menteri pariwisata baru, kita mengharap dukungan pemerintah agar pusat belanja bisa menjadi tujuan wisata belanja.

Apakah semua 76 mal di Jakarta layak menjadi tujuan wisata belanja?

Saya yakin semua mal menjadi tujuan wisata. Misalnya mal kelas atas, Plaza Indonesia dan Pacific Place. Banyak turis datang karena kebutuhan mereka di segmen itu. Sebaliknya ada turis datang ke kelas bawah, termasuk pusat perdagangan, sebab segmen mereka di situ.

Jadi kita tidak bisa bilang mal mana bisa menjadi tujuan wisata belanja. Karena turis itu ada kelas atas dan ada turis kelas biasa. Semua bisa menjadi sarana wisata belanja.

Apakah memang sudah ada program Jakarta menjadi tujuan wisata belanja?

Saya ditunjuk ketua Jakarta Great sale pada 2011 dan berhasil. Gubernur Fauzi Bowo menunjuk saya lagi untuk tiga tahun ke depan.Saya melihat orang akan belanja kalau ada tawaran benar-benar menarik, entah barangnya bagus, harganya bagus. Di Jakarta Great
Sale saya mengikutsertakan semua ritel ada dalam mal untuk ikut program itu.

Nilai penjualan naik tiap tahun selama penyelenggaraan Jakarta Great Sale. Dengan begitu, orang makin percaya. Orang dari Kota Solo nggak perlu lagi ke Singapura untuk berbelanja. Jadi cukup ke Jakarta.

Di Orchard Road kalau orang bawa tas tiga, bahasanya bukan bahasa Melayu tapi bahasa Indonesia.

Kalau kita benar-benar ingin pusat belanja kita dikunjungi, kita harus mengusahakan barang-barang di dalamnya diminati. Bisa diminati karena barangnya bagus bukan berarti mahal, ada promosi, dan ada harga jual kompetitif.

Wawancara terpotong 59 detik karena Handaka mesti menjawab panggilan telepon.

Anda mengklaim pelaksanaan Jakarta Great Sale berhasil. Apa indikatornya?

Dikatakan berhasil bila ada kenaikan penjualan di toko-toko ritel. Kedua, saya selalu tanya pelanggan, ritel, dan orang luar negeri kok ada yang ke Indonesia.

Berapa kenaikan penjualannya?

Dari 2013 ke 2014 kenaikannya sekitar sepuluh persen. Biasanya kenaikan per tahun akibat Jakarta Great Sale 15 sampai 20 persen.

Apakah 76 mal cukup buat menjadikan Jakarta sebagai tujuan wisata belanja?

Mal ini tujuannya untuk orang berbelanja baik turis asing atau pelancong lokal. Menurut saya, sekarang ini sudah mencukupi. Mal kelas atas dan kelas bawah saling melengkapi.

Yang jadi keluhan masyarakat, keberadaan mal membikin macet. Apa komentar Anda?

Pendapat itu kelihatannya kenyataannya begitu. Tapi coba dilihat sebelum mal buka jam sepuluh pagi, jalanan sudah macet. Saya pukul delapan ke kantor jalan macetnya nggak karuan, padahal mal belum buka.

Kalau dibilang mal penyebab kemacetan itu tidak benar. Belum buka aja sudah macet. Kalau jam sepuluh buka, mal itu malah jadi pengurai kemacetan. Coba bayangin kalau mal itu cuma ada di Pondok Indah. Semua orang dari mana-mana datangnya ke Mal Pondok Indah. Bisa dibayangkan betapa macetnya.

Mal dibangun berdasarkan rencana tata ruang. Masak, mal dibangun dapat IMB (Izin Mendirikan Bangunan) malah disalahin.

Mal juga menyerap jumlah tenaga kerja. Satu toko seluas sepuluh sampai 18 meter persegi membutuhkan satu pekerja. Kalau ada mal menyewakan kios totalnya seluas 60 ribu meter persegi membutuhkan lebih dari tiga ribu pekerja. Itu yang orang nggak pikirkan.
nonasakamoto is offline   Reply With Quote