View Single Post
Old 21st November 2014, 10:26 AM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 2 Nov 2014
Userid: 2780
Posts: 711
Likes: 0
Liked 4 Times in 4 Posts
Default Habibie sebut subsidi BBM warisan keliru Orde Baru


Merdeka.com – Presiden ketiga Republik Indonesia Bacharudin Jusuf Habibie menyatakan tidak setuju bila Bahan Bakar Minyak terus disubsidi. Pandangan ini sudah disampaikan sejak dia bergabung dengan pemerintahan pada era Orde Baru.

Dia mengenang diskusinya bersama Presiden Soeharto awal 1980-an mengenai potensi subsidi energi salah sasaran. Dari seharusnya dinikmati warga yang mayoritas tidak mampu, malah menguntungkan kalangan menengah ke atas.

“Saya tidak setuju energi disubsidi. Bayangkan misalnya perusahaan asing, investasi di sini. Dia awalnya menghitung ongkos produksi berdasarkan harga pasar. Tapi ada BBM bersubsidi, dia beli itu, dia bakar untuk perusahaannya dan untung lebih besar. Ini tidak bisa dicegah, itu sifat manusia,” kata Habibie saat memberi orasi ilmiah di Seminar “Refleksi Tiga Tahun MP3EI” di Jakarta, Kamis (4/9).

Sayangnya, saran Habibie yang kala itu menjabat menteri riset dan teknologi tak digubris. Soeharto berkukuh mempertahankan subsidi, dengan alasan negara masih punya uang.

Kala itu, Indonesia memproduksi 1,8 juta barel minyak per hari. Konsumen di dalam negeri cuma menyerap sepertiganya, sisanya diekspor. Karenanya Indonesia masih bisa bergabung dengan kartel minyak internasional, OPEC.

Kini keadaan sudah berbalik, dengan produksi terus anjlok, sementara konsumsi melonjak dua kali lipat. Habibie heran, mengapa pemerintahan pasca Orde Baru masih mempertahankan kebijakan subsidi BBM yang bikin anggaran mubazir.

“Anda bisa bayangkan berapa triliun kita harus subsidi, bisa di antara Rp 250-300 triliun,” urainya.

Prinsip itu yang membuatnya menaikkan harga jual BBM pada 1999, selepas menggantikan Soeharto. Dia berpandangan tak perlu ragu menghapus total subsidi BBM, duitnya dialihkan ke anggaran pendidikan dan kesehatan.

Kalau ada protes, dia meyakini itu hanya sementara. Sedangkan pemerintah akan menikmati keuntungan jangka panjang.

“Saya tidak tahu siapa yang suka protes itu (kalau BBM naik). Tapi dari pengalaman saya, bangsa ini adalah bangsa pejuang. Bangsa ini mau berkorban, asal jelas berkorban untuk siapa,” kata Habibie.

“Zaman saya tidak ada subsidi BBM, silakan dicek. Yang jelas uangnya direncanakan untuk pembangunan, untuk pendidikan gratis, kesehatan gratis, atau modal kerja UKM dengan suku bunga 0 persen,” imbuhnya. (www.merdeka.com)
supry is offline   Reply With Quote
Sponsored Links