View Single Post
Old 29th November 2014, 06:41 PM   #1
Sek Des
 
Join Date: 3 Nov 2014
Userid: 2785
Posts: 234
Likes: 0
Liked 2 Times in 2 Posts
Default Rumah Tahan Bencana Warisan Leluhur

Quote:


BANDA ACEH - Mahmud (70) terlihat santai bersama anak dan dua tetangganya di bawah di kolong Rumoh Aceh miliknya, di Gampong Krueng Jangko, Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie.

Mereka hanya mengobrol ringan sambil sesekali tertawa renyah. Kolong rumah kayu panggung tradisional itu favoritnya bersantai dengan keluarga setiap saat. Angin berhembus tanpa penghalang, membuat suasananya sejuk.

“Ini salah satu kelebihan Rumoh Aceh,” katanya saat berbincang dengan Okezone beberapa waktu lalu.

Rumah ini merupakan warisan mertuanya, ia tak ingat kapan ini dibangun. “Pokoknya sudah puluhan tahun lalu,” ujarnya. Tak terhitung pula sudah berapa kali rumah ini diguncang gempa. “Alhamdulillah tidak ada-apa”.

Rumoh Aceh merupakan rumah adat masyarakat Aceh yang ramah terhadap bencana. Bentuknya persegi dengan 16 hingga 44 tiang penyangga, tergantung besar kecilnya ukuran rumah. Tiang ini berdiri jarang-jarang, sehingga kala banjir datang arusnya tak terhalang.

Dinding dan penahan anginnya berbentuk delta dipenuhi ukiran-ukiran unik, bernilai seni tinggi. Pintu masuk rendah, sehingga siapa saja yang masuk harus menunduk sebagai simbol penghormatan. Rata-rata Rumoh Aceh berdiri menghadap kiblat, menyirat nilai Islami.

Rumoh Aceh memiliki tiga bagian utama yakni; seuramoe keu (serambi depan) dan seuramoe likot (serambi belakang). Bagian tengah disebut rambat atau serambi tengah, letaknya lebih tinggi dari dua seuramoe tadi. Lantai tiap bagian ini berupa papan atau bambu. Masing-masing bagian ini memiliki fungsi tersendiri.

Serambi depan yang terdapat di ujung tangga atau pintu utama, biasanya digunakan untuk menerima tamu laki-laki, tempat beribadah dan mengaji anak-anak. Serambi belakang untuk tamu perempuan dan ruang keluarga. Sedang rambat, separuh disekat untuk tempat tidur.

Bagian bawahnya (kolong) dibiarkan lapang, untuk tempat bersantai keluarga, bermain anak-anak atau mengayun bayi. Di sini biasanya juga diletakkan jeungki (alat penumbuk tradisional) dan krong padee (penyimpan gabah). Kolong ini juga berfungsi untuk menyambut tamu, sebelum dipersilakan naik ke rumah.

Keberadaan Rumoh Aceh kini terus menyusut, seiring banyak masyarakat yang beralih ke rumah beton dengan arsitektur modern. Belum ada survei jumlah Rumoh Aceh yang masih tersisa.

Rumoh Aceh mudah ditemui di pedalaman dan sepanjang pantai utara dan timur provinsi itu. Masih ada sebagian masyarakat yang melestarikan rumah warisan leluhur ini. Salah satunya di kampung wisata Lubok Sukon, Aceh Besar yang menjadikan tatanan Rumoh Aceh sebagai destinasi.

Di Krueng Jangko sendiri meski masih ada puluhan Rumoh Aceh, tapi keberadaannya mulai mengkhawatirkan. Bangunan yang ada semuanya sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Beberapa di antaranya sudah mulai dirobohkan, diganti dengan rumah rendah permanen.

Helmi Hasan (48), tokoh masyarakat Cot Baroh, kampung tetangga Krueng Jangko, sulitnya mendapatkan utoh (tukang ahli) dan kayu bermutu tinggi menjadi sebab menyusutnya Rumoh Aceh.

Bukan perkara mudah mendapatkan material kayu untuk pembangunan Rumoh Aceh. Kayunya biasanya diambil dari pohon yang sudah berusia di atas 60 tahun, sehingga bisa tahan hingga ratusan tahun.

Tukangnya juga tak sembarang, harus berpengalaman dan memiliki jiwa seni tinggi. Biasanya, kata dia, peletakan batu pertama Rumoh Aceh harus dilakukan utoh berpengalaman dengan ritual khusus pada tengah malam yang sunyi. Peletakan batu pertama disertai doa-doa dan diisyaratkan agar “rumah ini menjadi pelindung bagi penghuninya dan bebas dari gangguan”.

Rumoh Aceh didesain untuk kenyamanan ekstra bagi penghuninya. Di antaranya karena letaknya tinggi, bisa menjadi tempat berlindung dari binatang buas yang dulu sering masuk kampung di malam hari.

“Kesucian rumah juga terjaga dari binatang bernajis seperti anjing. Kotoran najis juga mudah dibersihkan karena saat dicuci air akan jatuh ke bawah lewat celah lantai, kalau lantai semenkan merembes ke mana-kemana,” ujar Helmi.

Rumoh Aceh juga relatif bebas dari nyamuk, karena tingkat kelembaban dan udara yang masuk ke ruangan terjaga. Sumur dan toilet biasanya dibuat di luar rumah, lebih higenis. Udara segar selalu memenuhi ruangan lewat jendela dan celah lantai papan, tetap sejuk walau matahari menyengat.

Kontruksi Rumoh Aceh ramah terhadap bencana, terutama banjir dan gempa. Gempa dahsyat berkekuatan 8,9 skala richter yang disusul gelombang tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004, menjadi bukti nyata betapa kokohnya rumah adat ini. Rumoh Aceh tak ada yang roboh saat itu.
sumber: http://news.okezone.com/read/2014/11...arisan-leluhur
agusjember is offline   Reply With Quote
Sponsored Links