View Single Post
Old 1st December 2014, 04:09 PM   #1
Sek Des
 
Join Date: 3 Nov 2014
Userid: 2785
Posts: 234
Likes: 0
Liked 2 Times in 2 Posts
Default Dua Programer Musik Bandung Mengeruk Untung lewat Software


Quote:
Lima komputer dan dua laptop berderet di ruang kerja PT Kuassa Teknika yang berukuran 4 x 6 meter. Beberapa action figure seperti Superman, Batman, maupun Resident Evil ikut mendekorasi ruangan kantor bercat putih di Jalan Sukasenang V, Bandung, itu.

Seorang di antara dua owner PT Kuassa Teknika, Arie Ardiansyah, sudah menunggu Jawa Pos di ruang tamu, Kamis pagi (20/11). Kawannya, Grahadea Kusuf, menyusul kemudian. Sambil menunggu Dea, panggilan Grahadea, Arie mengawali success story mereka di bidang industri musik digital.

Menurut Arie, scene musik Kota Bandung hampir tidak pernah mati. Berbagai aliran musik tumbuh subur di Kota Kembang itu. Tak heran jika kemudian atmosfer nge-band sangat kental di Bandung.

Virus band-band-an itulah yang juga dirasakan Arie dan Dea. Bersahabat sejak di bangku SMAN 20 Bandung, keduanya tergabung dalam satu band. Musik punk menjadi pilihan ketika mereka bermain untuk Band Disconnected sejak 1998.

Dari aktivitas musik itulah, Arie dan Gea kemudian sepakat untuk patungan membangun sebuah studio musik di Jalan Sukasenang V, Bandung, 2009. Mereka harus mengeluarkan dana sekitar Rp 60 juta untuk itu semua.

’’Tapi, setelah punya studio musik, kami ternyata tergoda untuk punya studio rekaman sendiri. Namun, kami tidak punya banyak uang,’’ tutur Arie.

Untuk membuat studio rekaman, minimal mereka harus menyiapkan anggaran Rp 500 juta. Padahal, Arie dan Dea hanya punya Rp 50 juta. ’’Kami tidak mungkin bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu cepat. Maka, ya sudah, kami urungkan cita-cita itu,’’ tambah Arie.

Dia lantas memutuskan untuk mendalami lagi hobinya di bidang programming musik. Tiga tahun sebelum membuka studio, bapak satu anak tersebut memang sering bereksperimen dengan ampli gitar serta komputer.

Arie senang mengeksplorasi suara gitar dan berbagai efek yang diciptakan, lalu mengunggah hasil eksperimen itu ke dunia maya. Berkat ketekunannya mengolah musik sejak 2008, lewat blog aradaz.blogspot.com, pria kelahiran Palembang tersebut lantas dikenal luas oleh kalangan musik dalam dan luar negeri.

Melihat respons positif dan banyaknya komentar yang diterima Arie di blognya, alumnus Ilmu Tanah Universitas Padjadjaran Bandung itu makin termotivasi membuat sebuah software rekaman sendiri. Peranti lunak tersebut digunakan untuk kebutuhan recording, mixing, dan mastering. ’’Saya sih mikirnya bagaimana homerecording bisa jadi tren. Apalagi, industri musik Indonesia mengarah ke sana. Konsep homerecording ini semangatnya tetap indie dan bisa bertahan untuk jangka waktu lama,” tutur Arie.

Setelah dua tahun mengulik ’’mainan’’ barunya itu, akhirnya Arie dan Dea sepakat untuk mengomersialkan software tersebut. Dipilihlah nama ’’Kuassa’’ sebagai label produk mereka. Penambahan satu huruf ’’s’’ dalam ’’Kuassa’’ untuk membedakan dengan brand lain. April 2010 Kuassa meluncurkan software perdana, Amplifikation One. Software itu menghasilkan suara gitar yang tak fanatik pada satu genre musik saja. Arie menyebut produknya itu sebagai produk all around. Software tersebut dibanderol dengan harga 49,95 USD atau sekitar Rp 609 ribu. Sayang, sambutan pasar tak begitu apik. Arie mencatat hanya tujuh pembeli untuk Amplifikation One. Itu pun dalam jangka waktu cukup lama, April–November.

Tak putus asa, Desember 2010 Kuassa kembali meluncurkan produk kedua yang diberi nama Amplifikation Crème. Peruntukkan software itu masih sama, yakni untuk suara gitar. Namur, di produk tersebut, Arie membuat karakter suara gitar yang lebih metal. Dibanderol lebih murah daripada produk pertama, yakni 34 USD (sekitar Rp 415 ribu), Amplifikation Crème laku keras. Apalagi, oleh situs-situs audio mancanegara seperti KVRaudio.com dan audiofanzine.com, produk kedua Kuassa tersebut diberi rating tinggi. ’’Kami juga kaget begitu pasar merespons dengan luar biasa. Penjualan Amplifikation Crème laku keras. Dilepas akhir 2010, pada 2012 kami hitung sudah seribu orang yang beli,” tutur Dea yang banyak mengurus visual software sekaligus proses transaksinya. Peraih gelar master bisnis administrasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengatakan, pasca kesuksesan Amplifikation Crème, penjualan produk lainnya ikut membaik. Setelah Amplifikation Crème, mereka membuat Amplifikation Vermilion, Cerberus Bass Amplifikation, Eve AtSeries Equalizer, dan Kratos Maximizer. Software yang terakhir itu tercatat merupakan produk Kuassa dengan harga paling mahal, yakni 69,95 USD atau Rp 853 ribu.

Berdasar catatan hingga Oktober lalu, enam software produk Kuassa tersebut sudah dibeli 7 ribu orang. Pemasukan Kuassa pun meningkat tajam. Yang awalnya, saat launching, hanya Rp 50 juta, kini sudah lebih dari Rp 1 miliar. Pembelinya kebanyakan dari Amerika Serikat (35 persen); disusul Inggris dan Jerman, masing-masing 12 persen; Prancis (7 persen); Kanada (5 persen); Australia (4 persen); dan Jepang (3 persen).

Hebatnya, dari para pembeli tersebut, terdapat beberapa nama besar. Misalnya, musisi dari Jepang Masahiro Aoki. Aoki adalah komposer musik video game untuk perusahaan-perusahaan di Negeri Sakura. Salah satunya Capcom. Dari Amerika ada nama Dieter Hartmann, komposer musik untuk film-film Hollywood. Di antaranya, film Butterlfly Effect, Ghost Rider: The Spirit of Vengeance, End of Watch, Watchmen, dan The Guardians of The Galaxy.

’’Kami nggak sangka kalau pembelinya orang-orang top. Jelas, kami bangga banget ternyata ada produk Indonesia yang disukai orang-orang profesional di Jepang dan Hollywood,” ucap Dea.

Yang mengejutkan, pembeli dari Indonesia justru amat sedikit. Dari 7 ribu pembeli software Kuassa, hanya tujuh orang yang dari tanah air sendiri. ’’Itu angka resmi dari penjualan lho. Nggak tahu kalau dibajak. Karena pernah ada laporan teman kalau software Kuassa ada di lapak-lapak penjual software bajakan. Tapi, mau bagaimana lagi, iklim bisnis di Indonesia masih seperti itu,” ujar Dea. Ke depan Dea dan Arie berusaha mengembangkan bisnis mereka. Yang terdekat, mereka akan membuat software versi mobile. Mereka ingin software karya mereka ada di Google Playstore atau Applestore.

’’Mudah-mudahan segera terwujud. Ini target kami tahun depan,’’ tandas Dea.

Sementara itu, salah satu pengguna software Kuassa, musisi Hogi Wirjono, mengaku cukup puas memakai Kratos Maximizer dan Eve At Series Equalizer selama dua tahun terakhir. Menurut personel band Agrikulture itu, software produksi Kuassa tersebut sangat membantu dalam proses bermusik. Utamanya ketika proses mastering dan recording. Musisi sekaligus produser Anang Hermansyah juga memberikan pujian setinggi langit atas kualitas software karya anak-anak Bandung itu. Dia mengatakan, secara kualitas, software Kuassa tidak kalah bersaing dengan software musik Barat yang berstatus major label. ’’Aku pakai DAW (Digital Audio Workstation), tapi juga aku mixing pakai Kuassa di studio rekaman aku. Kualitasnya tidak kalah dengan produk luar, sangat-sangat tidak kalah,’’ kata saumi artis cantik Ashanty itu. Pria yang kini sibuk menjadi anggota Komisi X DPR itu menyatakan, membuat software music bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan keseriusan yang tinggi, sense memainkan alat musik yang kuat. Dan, berbagai software produk Kuassa mampu menghasilkan kualitas yang luar biasa. ’’Kalau urusan platform musik, Kuassa punya semua. Jadi, membuat semua itu bagi aku bukan hal yang mudah,’’ ujarnya. Apa yang dihasilkan Kuassa, menurut Anang, perlu didorong untuk lebih maju lagi. Dunia Barat boleh saja menunjukkan diri sebagai pencetus industri musik mutakhir, pembuat rekaman musik pertama di dunia. Namun, untuk urusan musik di era digital, Indonesia patut berbangga dengan Kuassa. ’’Kita siap bertanding,’’ ujarnya.
sumber: http://www.jawapos.com/baca/artikel/...sisi-Top-Dunia
agusjember is offline   Reply With Quote
Sponsored Links