View Single Post
Old 16th December 2014, 04:28 PM   #1
Warga Forumku
 
Join Date: 7 Oct 2014
Userid: 2657
Posts: 4
Likes: 0
Liked 0 Times in 0 Posts
Default Kompromi dalam Pekerjaan, Pasangan, dan Keluarga

Bagaimana bisa kita hidup dengan orang lain, yang tentu memiliki banyak perbedaan dengan kita, tetapi tetap bisa saling menjaga dan menghormati kebutuhan satu sama lain? Bagaimana jika kita ingin nonton film action, sementara pasangan ingin nonton drama komedi? Bagaimana jika anak-anak ingin wisata ke theme park, sedangkan kita ingin ke agrowisata? Bagaimana jika staff audit ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum pukul 18:00, sedangkan kita belum selesai entry data?

Jawabannya sederhana : kompromi. Kompromi adalah sebuah mekanisme penyelarasan perbedaan kebutuhan dan keinginan, bagaimana caranya agar setiap pihak bisa mendapatkan apa yang diinginkan tanpa mengganggu kepentingan orang lain. Di dalam kompromi, mutlak dibutuhkan toleransi, pengorbanan dan kerja sama, agar bisa menyajikan kepuasan bagi semua orang.

Kompromi dalam pekerjaan


Dalam bekerja, kita sering dituntut untuk bekerja secara profesional. Profesional dalam hal ini sering diartikan sebagai 'bekerja sebaik mungkin tanpa mempertimbangkan kebutuhan pribadi sama sekali'. Tidak salah memang. Tetapi, harus ada batasnya. Di sinilah kita perlu berkompromi, dengan rekan kerja, atasan, klien, maupun bawahan. Beberapa hal yang perlu kita kompromikan antara lain:

1. Gaji
Selalu, setiap kali kita masuk ke dalam lingkup pekerjaan yang baru, gaji adalah hal pokok yang menjadi pertimbangan. Meskipun Kita sangat membutuhkan pekerjaan, bukan berarti kita harus mau menerima gaji yang ditentukan. Kompromikan fee yang akan kita terima, agar apa yang akan kita lakukan sesuai dengan yang didapat.

2. Jam kerja dan lembur
Katakanlah dedikasi, loyalitas, dan profesionalitas adalah hal yang utama, tetapi kita juga tidak bisa mengikuti semua tuntutan jam kerja, apalagi yang tidak masuk akal.

3. Cara bekerja
Biasanya perusahaan sudah menentukan mekanisme kerja untuk setiap karyawan, tetapi yang menjalani-lah yang tahu apa saja kebutuhan dan hambatannya dalam bekerja. Jika dirasa mekanisme menbuat pekerjaan kita kurang maksimal, kompromikan hal ini. Begitu juga jika kita adalah wiraswasta, kompromikan cara bekerja kita dengan klien atau partner.

4. Pembagian tugas dan wewenang
Dengan partner kerja di kantor, bagaimana kita membagi tugas? Kompromikan hal ini, agar tidak terjadi ketimpangan jumlah tugas dan beban kerja.
Kita bisa berkompromi dalam 4 hal di atas, tapi jangan berkompromi dengan integritas kerja, martabat dalam bekerja, dan kesehatan. Keempatnya adalah nilai pasti yang tidak bisa ditawar dan dibeli.


Kompromi dengan pasangan

Ada banyak hal yang perlu kita kompromikan dengan pasangan, masalah jumlah anak yang ingin dimiliki, pembagian peran dalam keluarga, komitmen, sampai hal-hal remeh seperti binatang peliharaan dan menu makanan. Kompromi dengan pasangan sedikit-banyak akan mengubah cara berpikir, kebiasaan, dan sikap kita pada beberapa hal. Misalnya ketika pasangan ingin kita berhijab, sementara kita belum siap untuk itu. Kita tidak harus memaksakan diri mengikuti kemauannya, tetapi cobalah untuk mulai memakai pakaian yang lebih sopan dan tertutup, meskipun tidak memakai kerudung. Dalam kompromi dengan pasangan, perhatikan hal-hal berikut :
  • Kompromi harus membuat kita dan pasangan menjadi lebih baik dengan saling mengerti dan bersikap dewasa.
  • Tidak ada prince charming ataupun Cinderella dalam kehidupan nyata, jadi setiap pihak harus menyingkirkan keinginannya untuk memiliki pasangan yang seperti tokoh putri dan pangeran dalam dongeng.
  • Pikirkan masak-masak apa yang benar-benar kita inginkan dalam hubungan kalian. Apakah pasangan Kita memang perlu berubah? Ataukah kita yang seharusnya perlu belajar menerima kekurangan orang lain?
  • Sampaikan dengan baik kebutuhan kita dari hubungan yang dijalani, mengapa harus berkompromi dan mengapa kita tidak bisa bertahan dengan dirinya yang sekarang.


Kompromi dalam keluarga

Siapapun kita dalam keluarga, entah masih menjadi anak, suami/istri, ataukah ayah/ibu, kompromi dalam keluarga harus menjadi budaya. Tanpa kompromi, keluarga bisa menjadi kaku dan masing-masing anggota merasa tidak nyaman. Siapa yang akan membetulkan talang bocor, pukul berapa jam paling malam di rumah, apakah boleh mengajak teman datang ke rumah, dan hal lainnya yang harus dikompromikan dengan baik.

Kompromi bukan hanya masalah diskusi, tetapi juga komitmen untuk saling menjaga hubungan baik dan bekerja sama.


sumber: http://www.arthinkle.com/articles/de...n-dan-keluarga
raul45 is offline   Reply With Quote
Sponsored Links