View Single Post
Old 30th December 2014, 10:48 PM   #1
Sek Des
 
Join Date: 3 Nov 2014
Userid: 2785
Posts: 234
Likes: 0
Liked 2 Times in 2 Posts
Default Tumbuhkan Kesadaran Hidup Sehat dengan Kearifan lokal

Quote:
Sisi budaya ternyata mempunyai peranan penting dalam menumbuhkan kesadaran hidup sehat masyarakat. Indonesia yang terdiri dari banyak suku bangsa, adat istiadat, budaya, dan tradisi, seharusnya, mempunyai banyak perspektif dalam melakukan upaya peningkatan kesehatan.
Dengan banyaknya kearifan lokal itu, Tentunya, setiap komunitas mempunyai pola hidup serta kebiasaan yang berbeda-beda dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi ditengah lingkungan komunitas. Termasuk penyelesaian soal kesehatan.
Menkes RI, Nila F. Moeloek, mengatakan untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat masyarakat, pemerintah sudah menyiapkan sarana-prasarana, SDM,dan fasilitas. Namun, Menkes menilai kesehatan itu tetap harus didorong dari perilaku hidup sehat seseorang.
"Saya kira, sesuai fakta apa yang terjadi di komunitas kita. Kementerian menyiapkan sarana, SDM, P2 PL, Litbangkes, secara keseluruhan meraka sejalan dengan apa yang dilakukan terhadap komunitas, pelayanan kesehatan terhadap masyarakat," ujarnya.
Meskipun Pelayanan kesehatan telah menyebar pesat, Namun diakui Menkes penelitian terhadap bentuk peningkatan kesehatan belum merata.
"Kenapa kita terserang penyakit? Perilaku kita sendiri bagaimana? Penelitian sudah di beberapa tempat, namun, masih banyak tempat yang belum terjangkau untuk kesehatan yang benar," ungkapnya.
Akibatnya, penduduk desa memilih pengobatan tradisional yang dinilai lebih terjangkau dan banyak dilingkungan tempat tinggal.
Sementara itu, Kabalitbangkes Kementerian Kesehatan RI, TJandra Yoga Aditama, mengatakan dimensi budaya merupakan aspek amat penting dalam menentukan status kesehatan seseorang, masyarakat, dan bahkan bangsa.
Hal ini disebabkan karena segala unsur dalam masyarakat termasuk perilaku kesehatan dipengaruhi oleh kebudayaan. Dia menilai salah satu faktor kegagalan intervensi masalah kesehatan antara lain karena kita tidak memahami sepenuhnya keberadaan manusia secara humanis, termasuk sisi budaya yang dianutnya.
"Dengan mempertemukan pandangan rasional dan indigenous knowledge diharapkan akan menimbulkan kreatifitas dan inovasi untuk mengembangkan cara-cara pemecahan masalah kesehatan masyarakat dengan kearifan lokal masing-masing daerah," katanya, kepada indopos.co.id, selasa (30/12).
Dalam menyelesaikan masalah dan meningkatkan status kesehatan di Indonesia, sambungnya, berbagai upaya untuk mengatasi masalah kesehatan telah dilakukan.
Namun, masalah tersebut belum dapat diselesaikan dengan optimal karena masih ada faktor budaya yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu, perlu dilakukannya sebuah penelitian kesehatan dalam perspektif kebudayaan.
Tujuannya, kata dia, untuk mengidentifikasi secara mendalam unsur-unsur budaya yang mempengaruhi kesehatan di masyarakat terkait KIA, PTM, PM dan PHBS dan mengidentifikasi peran dan fungsi sosial masyarakat yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan terkait dengan pelayanan kesehatan.
Diakui Tjandra, kekayaan alam Indonesia merupakan potensi besar dalam mengembangkan penelitian tanaman obat. Terdapat sekira 15.773 informasi ramuan tradisional yang ditemukan sering menjadi bahan obat untuk kesembuhan masyarakat.
Ramuan itu didominasi gejala/penyakit yang berkaitan dengan perilaku hidup sehat, seperti demam, sakit kepala, sakit kulit serta sakit perut, juga gejala/penyakit yang berkaitan dengan metabolism atau penyakit degeneratif, seperti kanker/tumor dan darah tinggi. Selain itu, terdapat juga ramuan untuk malaria sebanyak 486 ramuan, 75 ramuan untuk TBC dan 13 ramuan untuk HIV/AIDS.
Dia menambahkan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Litbangkes, terhadap sejumlah tumbuhan yang sering dijadikan bahan obat oleh masyarakat adat diketahui, tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan berjumlah 19.738 informasi, dimana 13.576 berhasil diidentifikasi hingga tingkat spesies yang terdiri dari 1.740 spesies/jenis dari 211 familia.
"Tumbuhan obat yang sering digunakan antara lain yaitu Curcuma domestica Val. Atau yang biasa dikenal sebagai kunyit, paling banyak digunakan yaitu di 191 etnis, disusul Piper betle L., Cocos nucifera L. dan Zingiber officinale Roscoe dan Jatropha curcas L.," ungkapnya.
- See more at: http://www.indopos.co.id/2014/12/tum....mrSO8SEt.dpuf
sumber: http://www.indopos.co.id/2014/12/tum...fan-lokal.html
agusjember is offline   Reply With Quote
Sponsored Links