View Single Post
Old 2nd January 2015, 08:14 AM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 2 Nov 2014
Userid: 2780
Posts: 711
Likes: 0
Liked 4 Times in 4 Posts
Default Indonesia siap lepas landas dalam kegiatan tanggap darurat


Dunia penerbangan kembali berduka. Tahun 2014 adalah tahun dengan kejadian accident maupun incident penerbangan terbanyak dalam sejarah. Setelah hilangnya pesawat Malaysia Air MH-370 yang hingga kini belum jelas lokasi jatuhnya, disusul kasus salah tembak pesawat dari airlines yang sama MH-17 di Ukraina. Kini pesawat dari maskapai pionir penerbangan murah Air Asia QZ-8501 mengalami ganasnya cuaca di atas perairan antara Belitong-Pontianak dalam perjalanannya dari Surabaya menuju Singapura. Ini berarti, dalam 1 tahun sudah 3 kecelakaan pesawat komersial reguler dengan jumlah kemalangan di atas 100 penumpang. Semoga keluarga para penumpang diberikan ketabahan dan kesabaran, dan semoga Pemerintah serta petugas terkait dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya dalam menangani tragedi kemanusiaan ini.

Dugaan sementara memang faktor cuaca yang menjadi biang keladi hilangnya pesawat. Namun seperti biasanya, JakartaGreater selalu ingin mengupas hal-hal yang terjadi di balik atau sekitar kejadian dari sisi militer-intelijen.

Masih ingat dengan Ban/Pelarangan Maskapai Penerbangan Indonesia ke seluruh angkasa Eropa di pertengahan tahun 2007-an ?. Komisi Keselamatan Penerbangan Uni Eropa mengeluarkan ultimatum larangan bagi 51 maskapai penerbangan di Indonesia untuk melayani rute-rute di Eropa. Hal itu menyusul terjadinya 2 kecelakaan besar yaitu hilangnya pesawat Adam Air di sekitar perairan selat Makassar pada awal tahun 2007 dan gagal take off pesawat Mandala di Bandara Polonia Medan pada 5 september 2005, serta 2 kecelakaan sekunder yaitu peristiwa tergelincirnya Lion Air di Bandara Adi Sumarmo Solo pada 30 November 2004 disusul Garuda di tempat yang sama pada 7 Maret 2007.

Badan Keselamatan Penerbangan Eropa memperpanjang larangan terbang tersebut karena menganggap bahwa, masalah mendasar ada pada Pengawas Regulasi Penerbangan di Indonesia. Meskipun Pemerintah Indonesia waktu itu telah memperbaiki sekitar 60 % dari 69 temuan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO), namun mereka tidak langsung merekomendasikan untuk mencabut larangan terbang tersebut.

Saat itu ramai publik percaya bahwa Komisi UE sengaja memperpanjang larangan terbang tersebut karena adanya persaingan bisnis semata. Asumsi publik ini menyeruak setelah pemesanan 10 Boeing 787 Dreamliner dan 18 Boeing 737 NG senilai US$ 2 milyar mendapat jaminan pemerintah. Sebaliknya, pemesanan 9 pesawat Airbus (3 unit kemudian ditangguhkan) harus diselesaikan Garuda dan ECA (kreditur/leasing pesawat) tanpa jaminan pemerintah.
Menarik untuk melihat beberapa waktu ke depan, apa yang akan dilakukan oleh Komisi Keselamatan Terbang Uni Eropa atas 3 kecelakaan total dalam 1 tahun ini yang dialami maskapai penerbangan jiran kita. Silakan dibandingkan, 2 kecelakaan total plus 2 kecelakaan sekunder di Indonesia dalam 3 tahun, dengan 3 kecelakaan total dalam setahun oleh maskapai penerbangan Malaysia. Jika tidak ada semacam ban atau bahkan sekedar travel warning, maka patut dipertanyakan kredibilitas Komisi UE ini. Atau sebaliknya, kita harus angkat topi atas hebatnya upaya penutupan fakta oleh Pemerintah Jiran kita sehingga hanya pucuk gunung es dari ketidakberesan birokrasi penerbangan mereka saja yang terlihat di permukaan.

Apapun juga, kini operasi pencarian dan penyelamatan terus digalakkan. Pemerintah bergerak cepat. Dinas perhubungan, TNI, Polri, Basarnas dan institusi lain berlomba memberikan bantuan terbaiknya sesuai arahan Presiden. Namun semua bergerak selaras dan harmonis. Tidak atau belum ada 1 pejabatpun yang mengeluarkan pernyataan yang saling bertolak-belakang. Keluarga para korban juga merasa sangat terbantu dengan informasi yang sangat mudah didapat dari posko bantuan. Bahkan pusat informasi tanggap-darurat di Bandara Juanda Surabaya dan Pangkal Pinang dibentuk lebih cepat dari posko serupa di Singapura dan Kuala Lumpur. Hanya dalam hitungan beberapa jam sejak pesawat dinyatakan hilang, Basarnas dan Dishub serta Deplu sudah membuat posko sementara sebagai pusat informasi di Juanda, dan langsung mengundang CEO AirAsia, Tony Fernandes untuk datang dan memberikan keterangan langsung. Kecepatan dan Kerjasama antar lini dan antar departemen mendapat pujian dan apresiasi dari banyak pihak. Bukan hanya dari keluarga penumpang, pemerhati penerbangan domestik dan internasional pun menyoroti hal tersebut.

Analis Penerbangan dari Inggris, Julian Brey sangat mengapresiasi tanggap darurat yang sudah dilakukan oleh Pemerintah RI. Ia membandingkan hal tersebut dengan kejadian serupa pada kasus hilangnya pesawat maskapai Malaysia sebelumnya. Brey bahkan menyatakan bahwa tanggap darurat pemerintah Indonesia, masih jauh lebih baik daripada apa yang dilakukan pemerintah Inggris atas kejadian serangan terorisme pada layanan kereta api London beberapa tahun berselang.
supry is offline   Reply With Quote
Sponsored Links