View Single Post
Old 3rd January 2015, 05:42 AM   #1
Sek Des
 
Join Date: 26 Apr 2013
Userid: 967
Location: Jakarta, Indonesia
Age: 25
Posts: 570
Real Name: Nana
Likes: 1
Liked 4 Times in 4 Posts
Default Dua Hal Ini Jadi Senjata Ekonomi RI Melesat 5,8%




Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) antusias mengatasi ketertinggalan pembangunan infrastruktur dengan menggenjot investasi dan ruang fiskal sekira Rp 240 triliun. Infrastruktur akan menjadi urat nadi Indonesia menumbuhkan perekonomian di tahun ini.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional dapat menyentuh level 5,8 persen pada akhir 2015. Proyeksi ini sama dengan target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015.

"Kita ingin memberi penekanan, jika momentum reformasi struktural berjalan dengan baik, (pertumbuhan ekonomi) bisa mengarah ke atas sekira 5,6 persen sampai 5,8 persen," ujar dia di Jakarta, Jumat (2/1/2015).

Pemerintah tengah menjalankan reformasi struktural dari sisi anggaran, mulai dari pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM), penghematan anggaran perjalanan dinas dan rapat hingga mencabut subsidi Premium serta merealisasikan subsidi tetap pada BBM jenis Solar.

Kebijakan tersebut semakin memperlebar ruang fiskal pada APBN tahun ini hingga tercatat sekira lebih dari Rp 240 triliun. Pemerintahan Jokowi berkomitmen mengalihkan penghematan itu kepada infrastruktur demi peningkatan investasi.

"Kita mendengar penyehatan fiskal senilai Rp 240 triliun. Bisa nggak itu jadi satu anggaran, investasi dan infrastruktur berjalan baik. Kalau bisa dampaknya akan baik," terang Agus.

Tantangan ke depan, menurut dia, harus mengelola fiskal dan moneter secara sinkron. Menyehatkan defisit transaksi berjalan agar tidak melebihi ambang batas 3 persen. Jika gagal dalam pengelolaan tersebut, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi terkontraksi.

"Kalau implementasi tidak kuat, (pertumbuhan ekonomi) akan mengarah ke bawah. Neraca transaksi berjalan bisa di bawah 3 persen, tapi waspada di kuartal II akan kembali defisit dengan jumlah cukup besar karena ada tekanan pembayaran dividen ke luar negeri yang cukup tinggi. Ini isu struktural," jelas Agus.


sumber
miss_nha is offline   Reply With Quote
Sponsored Links