View Single Post
Old 11th January 2015, 07:59 AM   #1
Wakil Camat
 
Join Date: 31 Oct 2014
Userid: 2758
Location: SmovieX.com | Tempat nonton dan download Film | Sering-sering berkunjung yah!
Posts: 3,641
Likes: 41
Liked 5 Times in 5 Posts
Default Pengutang Asia Tertekan Apresiasi Dolar AS

Quote:
JAKARTA - Perusahaan Asia yang tersangkut utang dalam dolar Amerika Serikat terancam oleh apresiasi mata uang tersebut serta rencana AS menaikkan tingkat suku bunga.

Dalam beberapa tahun terakhir, di tengah pertumbuhan ekonomi kuat dan suku bunga rendah, perbankan memberikan pinjaman miliaran dolar kepada banyak perusahaan di Asia. Kini, seiring pelemahan ekonomi Cina-lokomotif pertumbuhan Asia-beban perusahaan-perusahaan tersebut bertambah. Pasalnya, pemangkasan proyeksi pertumbuhan mengurangi laba, sedangkan jumlah mata uang lokal yang dibutuhkan untuk membayar bunga juga lebih banyak.

Beban lebih berat dirasakan oleh peminjam di Asia Tenggara, kawasan yang mengalami depresiasi mata uang paling tajam.

Kini, empat bank terbesar Thailand mencatat kredit macet naik ke 2,8 persen dari total pinjaman, dibanding 2,6 persen pada akhir 2013. Bank Indonesia memprediksi bahwa kredit macet naik menjadi 2,4 persen pada 2014 dari 1,8 persen pada tahun sebelumnya.

“Dolar AS yang kian menguat serta suku bunga lebih tinggi di AS akan kian menyulitkan perusahaan membayar utang [dalam dolar AS] melalui penerimaannya domestik,” ujar Hung Tran dari Institute of International Finance.

Kondisi terkini menjadi pengingat akan krisis moneter 1998 saat mata uang lokal merosot terhadap dolar AS. Perbankan pun mengalami tekanan karena perusahaan yang meminjam dalam denominasi dolar AS sulit membayar utang. Namun, banyak analis mengesampingkan perbandingan tersebut. Pasalnya, perbankan di kawasan kini lebih terkapitalisasi dan pemerintah memiliki cadangan devisa yang baik.

Pascakrisis keuangan 2008, banyak perusahaan Asia memanfaatkan tingkat suku bunga rendah dan gelombang dana segar di pasar global, di tengah upaya AS menggelontorkan stimulus ke dalam sistem keuangan.

Pada 2014, mata uang Asia melemah. Desember tahun lalu, Bank Indonesia harus melakukan intervensi guna menjaga nilai rupiah karena tingkat depresiasi yang tinggi. Malaysia dan Thailand pun mengalami hal serupa.

Dalam kondisi semacam ini, masih ada perusahaan yang belum terproteksi, ujar para analis dan bankir.

“Ancaman terbesar bagi pengutang adalah terjadi kurs mata uang bergerak ke arah tidak bersahabat, sementara liabilitas berada dalam denominasi dolar AS dan arus laba adalah dalam mata uang lokal,” ujar Keith Pogson dari Ernst & Young Asia-Pasifik. (Oleh Enda Curran)



Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Wall Street Journal.
SUMBER : Okezone.com
sucyresky is offline   Reply With Quote
Sponsored Links