View Single Post
Old 12th November 2012, 06:54 PM   #2
andi.teguh
[M]
newbie
 
andi.teguh's Avatar
 
Join Date: 22 Sep 2012
Userid: 285
Location: http://www.forumku.com
Posts: 1,697
Real Name: andi teguh
Likes: 0
Liked 232 Times in 171 Posts
Default

Keris Pusaka Setan Kober



Suatu saat tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang, hingga ususnya terburai. Arya Penangsang dengan sigap, menyangkutkan buraian ususnya itu pada wrangka atau sarung-hulu keris yang terselip di pinggangnya, dan terus bertempur. Saat berikutnya , Sutawijaya terdesak hebat dan kesempatan itu digunakan oleh Arya Penangsang untuk segera penuntaskan perang tanding tersebut, dengan mencabut keris dari dalam wrangka atau ngliga keris (menghunus), dan tanpa sadar bahwa wilah(an) atau mata keris Kyai Setan Kober langsung memotong ususnya yang disangkutkan di bagian wrangkanya. Ia tewas seketika. Sutawijaya terkesan menyaksikan betapa gagahnya Arya Penangsang dengan usus terburai yang menyangkut pada hulu kerisnya. Ia lalu memerintahkan agar anak laki-lakinya, kalau kelak menikah meniru Arya Penangsang, dan menggantikan buraian usus dengan rangkaian atau ronce bunga melati, dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap digunakan hingga saat ini.

Keris Kyai Sengkelat Kyai Sengkelat adalah keris pusaka luk tiga belas

yang diciptakan pada jaman

Majapahit (1466 – 1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi

(Brawijaya V) karya Mpu Supa Mandagri.

Mpu Supa adalah salah satu santri

Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi

runcing untuk menggiring onta. Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang

bermunajat. Ketika ditanya besi itu berasal darimana, dijawab lah bahwa besi itu

milik Muhammad saw. Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat

menjadi sebilah pedang.

Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan

aji ini dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas

dan diberi nama Kyai Sengkelat. Setelah selesai, diserahkannya kepada Sunan

Ampel. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang

dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu,

seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat

asal agama Islam. Maka oleh Sunan Ampel disarankan agar Kyai Sengkelat

diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan kehebatan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel (maskot) kerajaan dan diberi gelar Kangjeng Kyai Ageng Puworo, mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton.

Pusaka baru itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik

perhatian Adipati Blambangan. Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan berhasil. Mpu Supa yang telah mengabdi pada kerajaan Majapahit diberi tugas untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke Majapahit. Dalam menjalankan tugasnya, sang Mpu menyamar sebagai seorang pandai besi yang membuat berbagai alat pertanian dan mengganti namanya menjadi Ki Nambang.

Keris Pusaka Nagasasra Sabuk Inten Keris Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten


adalah dua benda pusaka peninggalan Raja Majapahit. Nagasasra adalah nama salah satu dapur (bentuk) keris luk tiga belas dan ada pula yang luk-nya berjumlah sembilan dan sebelas, sehingga penyebutan nama dapur ini harus disertai dengan menyatakan jumlah luk-nya. Bagian gandik keris ini diukir dengan bentuk kepala naga ( biasanya dengan bentuk mahkota raja yang beragam ), sedangkan badannya digambarkan dengan sisik yang halus mengikuti luk pada tengah bilah sampai ke ujung keris. Dengan ciri-ciri antara lain adalah kruwingan, ri pandan dan greneng, dan beberapa empu (berdasarkan zamannya seperti Majapahit , Mataram dan Mataram Nom) membuat keris ber-dapur nagasasra.Pada keris dapur Nagasasra yang baik, sebagian besar bilahnya diberi kinatah emas, dan pembuatan kinatah emas semacam ini tidak disusulkan setelah wilah ini selesai, tetapi telah dirancang oleh sang empu sejak awal pembuatannya. Pada tahap penyelesaian akhir, sang empu sudah membuat bentuk kinatah ( yang benar adalah tinatah = kata ‘tatah’ yang artinya dalam bahasa Indonesia = pahat,dengan sisipan in, menjadi tinatah )sesuai rancangannya . Bagian-bagian yang kelak akan dipasang emas diberi alur khusus untuk “tempat pemasangan kedudukan emas” dan setelah penyelesaian wilah selesai, maka dilanjutkan dengan penempelan emas oleh pande emas. Salah satu pembuat keris dengan dapur Nagasasra terbaik, adalah karya empu Ki Nom, merupakan seorang empu yang terkenal, dan hidup pada akhir zaman kerajaan Majapahit sampai pada zaman pemerintahan Sri Sultan Agung Anyokrokusumo di Mataram, tetapi ada sebagian ahli lain yang mengatakan bahwa Ki Supo Anom pada zaman kerajaan Mataram, sebenarnya adalah cucu dari empu Supo Anom yang hidup pada zaman Majapahit, dan golongan ini menyebut Ki Nom dengan sebutan Ki Supo Anom II, dan yang hidup di zaman Majapahit disebut Ki Supo Anom I.

Keris Kyai Carubuk


Keris Kyai Condong Campur Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor. Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur. Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang, satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusen dan lis-lis-an.Condong Campur merupakan suatu perlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan. Condong berarti miring yang mengarah ke suatu titik, yang berarti keberpihakan atau keinginan. Sedangkan campur berarti menjadi satu atau perpaduan. Dengan demikian, Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu.

Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang mpu. Bahan kerisnya diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak yang jahat. Dalam dunia keris muncul mitos dan legenda yang mengatakan adanya pertengkaran antara beberapa keris. Keris Sabuk Inten yang merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dalam pertikaian tersebut, Sabuk Inten kalah. Sedangkan keris Sengkelat yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi ini akhirnya memerangi Condong Campur hingga akhirnya Condong Campur kalah dan melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus(komet atau bintang berekor), dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun untuk membuat huru hara, yang dalam bahasa Jawa disebut ontran-ontran.

Keris Taming Sari


Keris Taming Sari adalah keris yang dipunyai oleh Taming Sari. Di ceritakan pemilik asal keris ini adalah merupakan pendekar atau hulubalang kerajaan Majapahit yang bernama Taming Sari. Keris ini kemudianya bertukar tangan kepada hulubalang Melaka yang telah berjaya membunuh Taming Sari bernama Hang Tuah. Menurut cerita yang di ceritakan kejadian ini berlaku pada zaman kesultanan Melaka di bawah pemerintahan Sultan Muzafar Shah. Sultan tersebut hendak menikahi anak perempuan raja Majapahit. Angkatan Melaka telah berkunjung ke Majapahit bersama – sama dengan para pembesar dan hulubalang Melaka yang terdiri dari Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekiu, Hang Kasturi dan Hang Lekir.Ketika sambutan kepada Sultan tersebut perbagai persembahan di sembahkan dan akhir sekali Taming sari meminta kebenaran kepada raja Majapahit untuk menantang hulubalang Melaka bermain keris. Tantangan tersebut di terima oleh Hang Tuah dan berlakulah babak permainan dan bertikam keris. Kedua – dua pendekar nampak sama hebat dan gagah … namun pada satu ketikan Hang Tuah berjaya menikam Taming Sari dengan keris nya … tetapi tidak lut atau kebal . Maka Hang Tuah berasakan bahwa kekebalan Taming Sari adalah disebabkan kesaktian yang ada pada kerisnya lalu Hang Tuah berusaha merampas keris itu. Ketika di dalam pertempuran itu Hang Tuah berjaya membuat helah yang menyebabkan keris Taming Sari terlekat ke dinding lalu ia merampasnya.

Namun adalah pantang membunuh musuh yang tidak bersenjata lalu diberikan keris beliau kepada Taming Sari dan di pendekkan cerita Hang Tuah berjaya menikam Taming Sari lalu mati. Lalu keris itu telah dihadiahkan kepada Hang Tuah oleh raja Majapahit. Keris ini juga terbabit di dalam membunuh Hang Jebat yang membalas dendam akibat hukuman bunuh oleh Sultan kepada Hang Tuah.

Keris Si Ginje




sumber
__________________


Likes:(1)
andi.teguh is offline   Reply With Quote