View Single Post
Old 28th January 2015, 10:58 AM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 2 Nov 2014
Userid: 2780
Posts: 711
Likes: 0
Liked 4 Times in 4 Posts
Default Politik Harga Minyak dan Perang Ukraina

Perseteruan NATO (AS) dan Rusia soal Ukraina telah melebar ke persoalan ekonomi. AS mencoba menekan Rusia dengan menjatuhkan harga minyak dunia ke titik paling dalam. Rusaknya ekonomi Rusia karena biaya produksi minyak mereka lebih mahal dari harga minyak saat ini yang di bawah USD 50/barrel.

Muatan politis terlihat dalam jatuhya harga minyak dunia, karena OPEC tidak juga memangkas produksi minyak mereka, untuk menaikkan harga. Dari kasus ini menunjukkan tidak ada negara di dunia yang senang jika negara saingannya maju dan berkembang.

Jakarta -Anjloknya harga minyak dunia sepanjang tahun ini membuat Rusia rugi US$ 100 miliar, atau sekitar Rp 1.200 triliun. Kerugian ini ditambah dengan sanksi ekonomi dari negara Barat yang membuat negara ini rugi US$ 40 miliar, atau sekitar Rp 480 triliun.

Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov mengatakan, total kerugian Rusia karena anjloknya harga minyak ditambah sanksi Barat adalah US$ 140 miliar, atau sekitar Rp 1.680 triliun.

Laporan-laporan ekonomi hari ini menyarankan Rusia memangkas produksi minyaknya sekitar 300 ribu barel per hari, untuk bisa mengangkat harga.

Harga minyak dunia telah turun sejak pertengahan tahun ini, karena tingginya suplai. Sementara permintaan minyak di Eropa dan Asia turun. Minyak jenis Brent harganya turun lebih dari 30% dari menyentuh level terendah dalam 4 tahun menjadi US$ 76,76 per barel pada 14 November 2014.

Kalangan analis memprediksi anggota OPEC bakal memangkas produksi minyak untuk mengangkat harga. Harga minyak jenis Brent ditutup di atas US$ 80 per barel pada Jumat akhir pekan lalu, sementara minyak AS mencapai US$ 76,51 per barel.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan, Rusia mempertimbangkan untuk memangkas produksi minyaknya.

Sementara Menteri Pengembangan Ekonomi Rusia, Alexei Ulykayev mengatakan, turunnya harga minyak akan berdampak signifikan kepada perusahaan di Rusia.

Rusia saat ini juga tengah dilanda oleh pelemahan nilai tukar ruble yang jatuh hampir 30% terhadap dolar tahun ini.

Vladimir Putin mengatakan Rusia akan sangat menderita karena sanksi, turunnya harga minyak dan nilai mata uang rubel.

Dia juga mengatakan hal ini akan mempengaruhi negara-negara lain.

“Negara modern saling tergantung. Tidak ada jaminan bahwa sanksi, jatuhnya harga minyak dan turunnya nilai mata uang nasional akan menyebabkan pengaruh negatif atau kehancuran hanya bagi kami saja,” kata presiden Rusia kepada kantor berita pemerintah TASS.
Harga Minyak Anjlok, Tiongkok Hemat Rp 1.200 Triliun

Harga minyak dunia sampai saat ini masih bertahan di level rendah. Dalam beberapa waktu terakhir, harga si emas hitam ‘betah’ berada di bawah level US$ 50/barel.

Mengutip data perdagangan Reuters, harga minyak jenis Light Crude untuk pengiriman Februari 2015 ada di posisi US$ 45,29/barel. Sementara harga minyak Brent adalah US$ 48,55/barel.

Bagi negara-negara importir minyak, penurunan harga minyak menjadi berkah tersendiri. Salah satunya dialami Tiongkok, importir minyak terbesar di dunia.

“Akibat harga minyak yang rendah, Tiongkok bisa menghemat US$ 100 miliar (Rp 1.200 triliun) hanya dalam 6 bulan terakhir. Dan kami tidak melakukan apa-apa,” kata Boqiang Lin, analis energi dari China Institute for Energy Policy Studies seperti dilansir CNN, Sabtu (24/1/2015).

Tiongkok, lanjut Lin, tentu berharap harga minyak bisa terus rendah. “Harga minyak rendah menjadi momentum bagi kami untuk tumbuh dan menciptakan lapangan kerja,” tuturnya.

Dalam 6 bulan terakhir, harga minyak turun dari US$ 116 barel menjadi di bawah US$ 50/barel. Meski menjadi berkah bagi Tiongkok, tetapi penurunan harga minyak membuat susah negara seperti Rusia. Pasalnya, separuh ekonomi Rusia tergantung dari penjualan minyak.

“Tidak ada kabar baik buat kami saat ini, 2015 akan menjadi tahun yang berat,” kata Igor Shuvalov, Deputi Perdana Menteri Rusia.
Menteri Keuangan: Harga Minyak Dunia Melorot Ancam Penerimaan Negara

Melorotnya harga minyak dunia menjadi ancaman penerimaan negara tahun fiskal 2015. Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro bahkan mengaku, perlu upaya lebih untuk membiayai seluruh program, di tengah melorotnya harga minyak dunia. Salah satunya, dari optimasi perpajakan.

“Asumsi minyak mentah sudah turun dari 105 dollar AS per barel menjadi kita usulkan 70 dollar AS per barel. Tapi nanti kalau nanti lebih rendah dari itu (70 dollar AS), penerimaan 2015 beresiko lebih rendah,” kata dia dalam rapat bersama Badan Anggaran DPR-RI, Jakarta, Senin (19/1/2015).

Artinya, lanjut dia, pemerintah perlu extra effort untuk mengejar penerimaan perpajakan. Dalam APBN Perubahan 2015, pemerintah telah mengusulkan ada kenaikan target perpajakan sebesar Rp 104,6 triliun dibanding yang dipagukan dalam APBN 2015. Sementara itu, jika dibandingkan dengan realisasi APBN Perubahan 2014, maka usulan pemerintah sudah lebih tinggi Rp 151,6 triliun.

“Karena itu, kami sangat mengharapkan dukungan penuh. Karena penerimaan perpajakan inilah yang bisa menjamin penerimaan negara 2015 lebih baik. Karena belanja itu sudah mengikat, atau sudah menjadi komitmen, maka pajak ini yang harus dikejar,” lanjut Bambang.

Adapun sejumlah upaya yang akan dilakukan adalah memperbaiki birokrasi dan struktur Direktorak Jenderal Pajak, Kemenkeu. Selain itu, pemerintah akan meningkatkan penerapan e-tax invoice untuk mencegah terjadinya kebocoran dan klaim restitusi palsu.

Bambang menambahkan, pemerintah juga akan meminimalisasi terjadinya transfer pricing, serta mengintensifkan PPh, PPN, serta PPnBM.

Ditemui usai rapat, Bambang mengatakan, pemerintah belum berencana melakukan penghematan anggaran atau merevisi belanja. “Ya enggak (berencana menghemat), kita fokus dulu untuk extra effort pada penerimaan,” kata Bambang.

Bambang juga bilang, belum ada rencana pemerintah untuk mengurangi Penyertaan Modal Negara (PMN) yang diusulkan Kementerian BUMN sebesar Rp 48,01 triliun. Pemerintah justru akan menambah pembiayaan dari penerbitan Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp 30 triliun.

(Sumber: Finance.Detik.com dan Kompas.com).
supry is offline   Reply With Quote
Sponsored Links