View Single Post
Old 26th March 2015, 07:56 PM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 16 Feb 2015
Userid: 3276
Posts: 1,017
Likes: 0
Liked 5 Times in 5 Posts
Default Revitalisasi Pabrik Gula Butuh Dana Rp 25 Triliun

TEMPO.CO, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan kondisi pabrik-pabrik gula di Jawa Tengah sangat memprihatinkan. “Pabriknya jadul (jaman dulu) semua. Mesti ada revitalisasi,” ujar dia, 25 Maret.

Namun, untuk merealisasinya, dibutuhkan dana dalam jumlah besar. Ganjar memperkirakan satu pabrik gula membutuhkan investasi sekitar Rp 2 triliun. Saat ini di Jawa Tengah ada 13 pabrik gula yang perlu direvitalisasi. “Butuh anggaran sekitar Rp 26 triliun,” kata Ganjar.

Menurut dia, dana sebesar itu tak mungkin dipenuhi oleh pemerintah provinsi. Sebab, dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah saat ini hanya sekitar Rp 17 triliun. Padahal pabrik gula yang ada saat ini sangat tidak efisien. Misalnya, rendemen gula sangat rendah, yang berujung pada hasil yang tak maksimal.

Ihwal permintaan pupuk subsidi untuk petani tebu, Ganjar menyatakan, pemberian pupuk subsidi akan diberikan sesuai dengan aturan. Sebab, sulit membedakan mana petani dan mana pengusaha besar.

Beberapa pabrik gula yang sudah uzur adalah Pabrik Gula (PG) Jatibarang (Brebes), PG Pangkah (Tegal), PG Sumberharjo (Pemalang), PG Sragi (Pekalongan), PG Weleri, PG Mojo, PG Rendeng, PG Trangkil, PG Tasikmadu. Saat ini akan dibangun satu pabrik gula di Comal, Pemalang, dan Todanan, Blora.

Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan, pada 2014 produksi gula kristal di Jawa Tengah surplus 20 ribu ton. Selama 2014, Jawa Tengah memproduksi 290 ribu ton gula. Padahal kebutuhannya hanya 270 ribu ton. Luas lahan tebu naik menjadi 76 ribu hektare dari 73,5 ribu hektare pada 2013 dan 67,1 hekatare pada 2012.

Namun Ketua Umum Asosiasi Tebu Indonesia Arum Sabil menyatakan, meski berusia tua, pabrik gula di Jawa masih mampu berproduksi dengan baik. “Bahkan bisa menghasilkan gula premium,” kata dia, di Jakarta, kemarin.

Beberapa pabrik gula tua tersebut menghasilkan rendemen di atas 10 persen. Arum menyebut beberapa pabrik seperti Pabrik Gula Asembagus (Situbondo, Jawa Timur), Pabrik Gula Ngadirejo, dan Pabrik Gula Gempol Krep di Jawa Timur.

Pabrik-pabrik itu mampu menghasilkan gula berkualitas baik karena menggunakan proses karbonatasi. Pabrik gula yang berdiri pada 1926, Semboro, menggunakan teknik tersebut. Proses karbonatasi menghasilkan gula dengan ICUMSA (standar warna gula) di bawah 100, dan berbutiran halus. “Tapi biaya lebih tinggi 10 persen ketimbang sulfitasi,” kata Arum.

Pabrik tua lainnya, Gempol Krep, masih menggunakan sulfitasi (pemurnian dengan belerang). Gula yang diproduksi juga lebih baik dibanding gula produksi pabrik modern yang menggunakan proses sama. Selain itu, pabrik menggunakan varietas tebu unggulan sebagai bahan baku.


“Walau tua tetap dijaga dengan baik, menggunakan tebu berkualitas bagus,” ujar dia.

Menurut Direktur Jenderal Impor Kementerian Perdagangan Thamrin Latuconsina, di Indonesia terdapat sekitar 62 pabrik gula. Berdasarkan usia, 40 pabrik berusia 100–184 tahun, tiga pabrik berusia 50–99 tahun, 14 pabrik berusia 25–49 tahun, dan lima pabrik baru berusia 25 tahun. Selain pabrik yang memproduksi gula, terdapat 11 pabrik gula rafinasi.


http://www.tempo.co/read/news/2015/0...-Rp-25-Triliun
partisusanti is offline   Reply With Quote
Sponsored Links