View Single Post
Old 31st March 2015, 05:24 PM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 20 Nov 2014
Userid: 2900
Posts: 1,236
Likes: 0
Liked 1 Time in 1 Post
Default Belajar dari Kenekatan dan Ketekunan Kasiadi

Quote:

Kasiadi tengah membagi ilmunya
JAKARTA, Kompas.com - Nama Kasiadi akan selalu selalu melekat dalam gelaran Indonesia Open, berkat kesuksesannya meraih gelar juara turnamen tersebut pada tahun 1989.

Hingga kini, belum satu pun pegolf lokal yang berhasil menyamai pencapaiannya. Ini membuat dia tetap menyandang sebagai satu-satunya pemain lokal yang menjadi juara di turnamen bertaraf internasional itu.

Kasiadi memang legenda. Ia telah menunjukkan eksistensi di lapangan golf selama 38 tahun. Memulai karirnya sebagai kedi di lapangan golf Ahmad Yani, Surabaya, Jawa Timur pada tahun 1977, pada 1984 dia beralih menjadi pemain profesional.

Menjadi kedi bukan sesuatu yang memalukan bagi pria yang kini telah berusia 52 tahun ini. JUtsru dalam keterbatasannya ia melihat impiannya di depan mata dan kesempatan luas untuk meraihnya sebagai tujuan hidupnya.

Dulu, Kasiadi kecil tidak tahu apa-apa soal golf. Namun pengalaman melihat dan menemani para tamu bermain golf membuatnya penasaran mempelajari olahraga ini. Golf membuatnya penasaran. ia mempelajari secara otodidak dengan segala fasilitas yang juga menjadi tanggungjawabnya.

Tidak merasa cukup belajar, Kasiadi pun nekat mendaftarkan diri ikut sebuah turnamen lokal. Tidak tanggung-tanggung, ia tidak menapak dari predikat amatir, namun langsung mendaftar pada kategori ptrofesional. “Saya ikut turnamen dan mendaftar sebagai pro karena saya tidak sanggup membayar pendaftarannya jika mendaftar sebagai amatir. Waktu itu, uang sebanyak itu sangat mahal bagi kami sebagai kedi,” kenang Kasiadi.

Nyatanya, kenekatannya itu berbuah manis. Ia terus memenangkan turnamen demi turnamen profesional. Puncaknya, adalah saat ia memenangi Indonesia Open pada tahun 1989. Kasiadi berhasil membuktikan diri sebagai pahlawan di hadapan publik sendiri dengan menghempaskan para pemain dunia yang turut berpartisipasi dalam turnamen tersebut.

Kasiadi mengenang kemenangannya pada 1989 tersebut seperti mukjizat yang muncul karena pertoilongna Tuhan ditambah kerja keras darinya. Sebelum mengikuti turnamen, Kasiadi mengaku hanya mengusung target masuk 10 besar. Nyatanya, ia keluar sebagai pemenang usai membukukan total 269 pukulan selama empat hari, 68-68-67-66.

Ia fokus pada permainannya saat itu tanpa memikirkan permainan lawan. Hingga hole 16, dia merasakan “keanehan” ketika semakin banyak penonton yang mengiringinya melakoni tiga hole tersisa. Bahkan dia sempat mendengar para penonton kasak kusuk dia dipastikan menjadi juara yang membuat konsentrasinya buyar. Dia pun mulai gemetaran melakukan swing di hole terakhir yang akhirnya menorehkan catatan scorecard-nya dengan bogey. Meski demikian, Kasiadi tetap dinobatkan sebagai juara dengan keunggulan tiga stroke dari para pesaingnya.

Kasiadi yang kini memberikan pelatihan dan pengajaran di lapangan golf Bukit Darmo danGraha Family Surabaya, Jawa Timur, mengaku golf telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. ia menjadi pribadi yang tenang saat menghadapi masalah seberat apa pun baik di lapangan, mau pun dalam kehdiupan berkeluarga bersama isetrinya, Siti Kholifah. "Isteri saya selalu mengingatkan diri saya agar tetap menjadi pribadi yang tak gampang emosi atau marah saat bertanding<'katanya.

Sikap inilah yang membuat kasiadi mampu menghadapai cobaan ber5at saat mengalmai kecelakaan mobil usai mengikuti turnamen di lapangan golf Gombel, Semarang. ia mengalami cedera patah tangan kiri yang di kemudian hari membuatnya kehilangan kemampuan terbaiknya dalam bermain golf. "Kalau saya dulu dengan mudah pukulan saya mencapai jarak 250 meter, sekarang untuk mencapai 200 meter saja sudah bagus,"kata Kasiadi.

Ia akhirnya harus mennerima kenyataan bahwa mungkin ini tanda-tanda dari alam agar ia lebih berkonsentrasi pada pengembangan golf kepada generasi yang lebih muda. Ia meninggalkan kejuaraan dan berkosentrasi pada perannya sebagai pelatih golf. Baik untuk para peminat, mau pun kepada para calon yang berminat menjadi pemain amatir atau profesional, termasuk puteranya, Benita Yuniarto Kasiadi.

Benita mewarisi bakat sang ayah. Dia menjajal persaingan di kancah profesional sejak 2010.Gelar pertamanya di Ancora Pro Series ketiga pada tahun yang sama, mengantarkan dia menjadi Rookie of The Year saat itu. Tahun 2015 ini, pegolf yang kerap dipanggil Benny ini sukses mengawali dengan kemenangan, keluar sebagai juara Indonesian Golf Tour seri I yangberlangsung di Padang Golf Nasional Matoa.

Dengan pengalaman 38 tahun di dunia golf, Kasiadi sudah mencapai tingkatan master, bukan hanya dari teknik, tetapi terutama dalam memahami filosofi golf. Kepada penerusnya, Kasiadi selalu mengingatkan akan pentingnya manajemen di lapangan, visi akan kemana bola harus ditempatkan. “Semua itu harus sudah bisa dibayangkan,” kata Kasiadi. “Percuma bisa mukul jauh tapi tidak tahu kemana bola dituju.

Hal lainnya yang penting bagi seorang profesional menurut Kasiadi adalah kecakapan berbahasa dan keterbukaan. “Kecakapan berbahasa, terutama bahasa Inggris sebagai bahasa internasionalakan memudahkan komunikasi dengan pemain lainnya jika bertanding melawan pemain asing. Demikian pula halnya dengan keterbukaan, seorang pemain sebisa mungkin membuka diri juga tidak segan untuk bertanya tentang permainan ini.

Sikap dan pengetahuan inilah yang memebuat George Gandranata, salah seorang pemain professional papan atas Indonesia, memuji Kasiadi. Menurut George, Kasiadi adalah local role bagi para pemain muda. “Dia itu first and only Indonesia yang bisa menang di Indonesia Open. Karena itu beliau merupakan pemain Indonesia terbaik selama ini. Beliau juga memiliki shortgame yang bagus,"kata George.

peran kasiadi sebagai perintis dan orang INdonesia oertama yang menjuarai Indonesia Open tuntas sudah. Kini Menghadapi CIMB Niaga Indonesian Masters Presented by Enjoy Jakarta Golf pada 23-26 April mendatang, para pemain lokal harus bisa meniru semangat yang ditunjukkan Kasiadi. Pantang menyerah dan terus belajar, sehingga pemain di perhelatan berhadiah sebesar 750.000 dollar AS dan di sanctioned oleh Asian Tour bisa bermain under. Tidak sekadar under, tapi setidaknya bisa mencapai dua digit. Dengan perolehan ini, bukan tidak mungkin para pemain lokal yang bertanding di Royale Jakarta Golf Club pada 23-26 April 2015 akan mampu bersaing dengan para pemain asing dan menorehkan tinta emas di dunia golf Indonesia seperti yang pernah dilakukan Kasiadi.
sumber http://olahraga.kompas.com/read/2015...ekunan.Kasiadi
agung209 is offline   Reply With Quote
Sponsored Links