View Single Post
Old 29th July 2015, 07:31 AM   #1
Sek Des
 
Hendy's Avatar
 
Join Date: 16 Jul 2015
Userid: 4092
Location: Surabaya
Posts: 568
Likes: 25
Liked 17 Times in 16 Posts
Default Tentang dan Seputar BBM Pertalite

Info Blog. Pertalite resmi hadir sebagai varian baru dari produk yang dijual oleh Pertamina. Dari segi harga maupun kualitas, Pertalite ini berada di antara BBM jenis Premium dan Pertamax. Namun ada 5 hal positif dan negatif dari kehadiran Pertalite di Indonesia. Apa sajakah itu ? mari kita simak bersama. Pertalite adalah merupakan Bahan bakar minyak (BBM) jenis baru yang diproduksi Pertamina, jika dibandingkan dengan Premium, Pertalite memiliki kualitas bahan bakar lebih bagus sebab memiliki kadar Research Oktan Number (RON) 90, di atas Premium, yang hanya memiliki RON 88. Berdasarkan uji tes antara Pertalite dan Premium maka dapat dikatakan bahwa penggunaan bahan bakar Pertalite akan membuat kendaraan dalam pemakaian BBM lebih irit. Sebab, lebih iritnya karena Pertalite memiliki RON yang lebih tinggi. Benarkah demikian ??


Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, Pertalite merupakan produk yang lebih bersih dan ramah terhadap lingkungan. Kualitas dari Pertalite yang lebih bagus, serta diproduksi untuk cocok dengan segala jenis kendaraan. Keunggulan Pertalite adalah membuat tarikan mesin kendaraan menjadi lebih ringan. Zat adiktif yang diberikan pada BBM Pertalite lah yang membuat kualitasnya ada di atas Premium dan bersaing dengan Pertamax.


Sisi Positif Pertalite

1. Kualitas
Melalui kadar oktan yang mencapai 90 - 91, Pertalite menjadi opsi terbaru bagi sebagian jenis kendaraan yang "tanggung". Banyak kendaraan yang tidak cocok menggunakan Premium karena kadar oktannya yang hanya 88, sehingga mesin sering 'ngebrebet'. Sedangkan jika menggunakan Pertamax dengan oktan 92, maka tenaga tidak keluar secara maksimal. Selain itu, Pertalite yang non-timbal membuat mesin tetap bersih. Oktan yang sesuai dengan kompresi mesin dapat membuat tarikan menjadi lebih enteng.

2. Beban Import
Sudah jadi rahasia umum bahwa beban impor Premium sungguhlah besar, hal inilah yang membuat pemerintah sering menanggung beban subsidi yang cukup besar untuk subsidi BBM. Melalui Pertalite, maka pemerintah meyakini dapat mengurangi kebutuhan impor BBM karena Pertalite diproduksi di dalam negri.

3. Alternatif
Secara spesifikasi, oktan 92 memang menjadi alternatif bagi banyak kendaraan dengan kompresi 9,0 : 1 ke atas. Karena Pertamax sendiri memiliki standar yang setara dengan bahan bakar kualitas luar negeri. Namun meskipun hanya berselisih beberapa ratus rupiah, Pertalite dapat menjadi alternatif baru bagi konsumen yang memiliki kompresi mesin 9,0 : 1 melalui kadar oktan 90 - 91, yang juga setara dengan bahan bakar kualitas luar negeri.

4. Pesaing Produk Luar
Banyak masyarakat di kota besar yang memandang sebelah mata SPBU Pertamina, sehingga mereka lebih memilih untuk mengisi bensin di SPBU luar negeri yang dianggap memiliki kualitas lebih baik.
Melalui Pertalite, maka diharapkan konsumen bisa mendapatkan bahan bakar kualitasnya lebih tinggi dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

5. Subtitusi Produk
Kejadian yang sudah lama terjadi adalah ketergantungan masyarakat dengan bahan bakar Premium. Perubahan harganya sebesar beberapa ratus rupiah dapat disikapi sangat kritis oleh para masyarakat. Wajar apabila Premium menjadi anak emas di antara masyarakat Indonesia. Dengan adanya Pertalite, diharapkan masyarakat dapat mengurangi ketergantungannya terhadap Premium.


Sisi Negatif Pertalite.

1. Harga yang Lebih Mahal
Karena Premium sudah ada sejak lama, bukan menjadi hal yang mudah jika pemerintah ingin masyarakatnya beralih menggunakan Pertalite secara langsung. Meskipun hanya berbeda beberapa ratus rupiah, namun hal ini bisa menjadi perubahan yang berefek jika digunakan oleh pengguna mode transportasi umum atau perusahaan jasa kurir. Untuk saat ini, Pertalite dijual dengan harga Rp 8.400 per liter, namun harga ini merupakan harga promosi dari Pertamina yang berlaku selama 2 bulan sejak produk pertama diluncurkan. Pertalite sendiri jika dijual dengan harga normal mencapai kisaran Rp 8.700 per liter. Harga 8400 diklaim Pertamina sebagai harga BEP saja (Break Even Point).

2. Efek Kenaikan Harga
Sudah menjadi tradisi lama apabila kenaikan harga bahan bakar memiliki efek domino yang dapat menaikan harga kebutuhan lainnya semacam sembako, dan harga barang lainnya, bahkan kenaikan harga BBM juga dapat berpengaruh terhadap kenaikan harga tarif dasar listrik.

3. Bahan Dasar Pertalite
Meskipun memiliki kadar oktan 90 - 91, namun beredar kabar miring bahwa bahan dasar Pertalite ini merupakan Premium dan Pertamax yang dicampur melalui sebuah proses tertentu. Namun hal ini sempat ditepis oleh Pertamina, karena Pertalite di klaim sebagai bahan bakar non-timbal sedangkan Premium masih memiliki kandungan Timbal didalamnya.

4. Kecocokan
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Pertalite cocok digunakan oleh kendaraan yang memiliki kompresi 9,0 : 1, sedangkan di Indonesia sendiri, masih banyak kendaraan yang kompresinya dibawah 9,0 terutama kendaraan yang keluarannya sebelum tahun 2005 dan masih banyak beroperasi di Indonesia. Oleh sebab itu Pertalite sepertinya masih sulit mendapatkan pangsa pasar yang luas dalam waktu dekat ini.

5. Urgensi
Pertalite hadir dengan mengadirkan bahan bakar non timbal yang kualitasnya jauh berada diatas Premium. Namun bagaimana dengan negara lainnya ? Mungkin beberapa dari kita beranggapan bahwa di luar negeri hanya menjual bahan bakar dengan oktan 92 dan 95 saja. Namun di Amerika dan Australia ternyata masih menjual bahan bakar dengan oktan 87 khusus untuk mobil mobil tua yang kompresinya masih sangat rendah.


Kriteria Penggunaan BBM jenis Pertalite.

Menurut Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, pada dasarnya, bensin Pertalite cocok untuk jenis MPV terbaru seperti Avanza, Mobilio, dan sejenisnya dan motor matik dengan teknologi terbaru seperti Mio, atau Vario. Namun lebih jauh lagi, menurut dosen ITB, Tri Yuswidjajanto mengatakan ada kriteria khusus selain teknologi terbaru, yaitu berkaitan dengan kompresi mesin.

Pertalite cocok dengan mesin-mesin kendaraan yang memiliki kompresi mesin 9,0 : 1 sedangkan kendaraan dengan kompresi dibawahnya masih cocok dengan menggunakan Premium. dan untuk kendaraan dengan teknologi baru pada umumnya memiliki kompresi antara 9,0 hingga 11. Sehingga mesin dengan kompresi 10 - 11 cocok menggunakan Pertamax atau oktan 92, sedangkan mesin dengan kompresi 11 keatas menggunakan Pertamax Plus atau oktan 95.

Sumber tulisan :
BBM Pertalite
Likes:(1)
Hendy is offline   Reply With Quote
Sponsored Links