View Single Post
Old 30th July 2015, 10:16 AM   #1
Sek Des
 
Hendy's Avatar
 
Join Date: 16 Jul 2015
Userid: 4092
Location: Surabaya
Posts: 568
Likes: 25
Liked 17 Times in 16 Posts
Default Pertalite Bukan Produk Import

Pertalite adalah merk dagang Bahan Bakar Minyak jenis baru dengan kadar oktan 90 yang resmi dipasarkan oleh PT. Pertamina (persero) sejak bulan Juli 2015 ini. Produk BBM baru tersebut diklaim bakal mampu menyusutkan impor BBM. Berbeda dengan Premium, Pertamax, dan Pertamax plus, Pertalite seluruhnya diproduksi di dalam negeri, yakni di Kilang Balongan dan Kilang Cilacap.

Seiring dengan naiknya konsumsi Pertalite ke depan, kebutuhan BBM masyarakat dapat lebih banyak dipenuhi dari dalam negeri. "Pengolahan Pertalite menggunakan nafta, HOMC, kemudian aditif. Dengan begini, kelebihan nafta kita yang sebelumnya terpaksa harus diekspor dan dijual dengan harga rendah bisa kita manfaatkan untuk Pertalite," ujar Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto dalam peluncuran Pertalite di Jakarta, kemarin (24/07/2015).

Menurut Dwi, kritik yang berkembang selama ini Indonesia mengekspor nafta kemudian mengimpor kembali dalam bentuk BBM. Terkait dengan besaran pengurangan impor akibat adanya Pertalite, Dwi menyatakan hal itu bergantung pada berapa banyak Pertalite yang terserap di masyarakat.

"Kami siapkan 500 kiloliter Pertalite per hari. Kalikan saja dengan 365 hari. Segitu perkiraan pengurangan impor yang kita harapkan." Pertalite dijual di 102 SPBU di Jakarta, Tangerang, Karawang, Bogor, Bandung, Purwakarta, dan Subang. Pertalite pun ada di 33 SPBU di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto.

Saat ini Pertalite dijual dengan harga promosi Rp. 8.400 selama dua bulan masa uji pasar. Setelah itu, akan ada evaluasi hasil tes pasar atas penerimaan pasar terhadap Pertalite dan evaluasi harga jual. Meski Pertalite telah diluncurkan, Dwi memastikan premium masih akan beredar di pasar sesuai dengan kuota yang ditetapkan.

Pertamina tidak mengurangi, apalagi menghapus penjualan Premium. Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengungkapkan harga keekonomian Pertalite sesungguhnya sebesar Rp. 8.700/liter. Bila dengan harga uji pasar Rp. 8.400 penyerapan masyarakat kurang, Pertamina tidak menutup kemungkinan penjualan Pertalite akan dihentikan.

Kehadiran Pertalite, menurut Kepala BPH Migas Andy N Sommeng, akan meningkatkan ketersediaan BBM nasional. "Masyarakat punya banyak pilihan. Ron 90 (pertalite) ini bisa untuk segmen anak muda," ujarnya.


PERTALITE BUKAN PRODUK IMPORT

Pertalite RON 90 yang mulai masuk tahap uji pasar diakui merupakan produksi kilang Pertamina. Ini menepis anggapan bahwa BBM varian baru dengan RON 90 akan diproduksi dari luar negeri.

Hal ini tegaskan oleh Dwi Soetjipto, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), saat peluncuran uji pasar Pertalite di Jakarta, Jumat (24/7/2015). Dwi mengakui bahwa Pertamina sudah bisa memproduksi BBM dengan kadar oktan tinggi.

"Pertalite produksinya masih di dalam negeri. Kilang kita (Pertamina) di Balongan sudah mampu mengolah BBM dengan RON tinggi seperti 92 (Pertamax)," ujarnya.

Varian baru BBM Pertamina ini merupakan hasil pencampuran BBM beroktan 92 dengan nafta dan aditif. Melalui campuran komponen high octane mogas component (HOMC), yang pengadaanya saat ini juga sudah lokal, beserta zat aditif yang digunakan pada Pertamax, Pertamax Plus dan Pertamax Racing.

Meskipun produksi di Balongan masih kecil, Dwi mengatakan kemunculan Pertalite ini akan mengurangi impor. Pasalnya, Pertalite ini diproduksi untuk mengelola kelebihan nafta sehingga bisa mengurangi impor.

"Nafta yang biasanya kelebihan dan terpaksa diekspor dengan harga murah. Untuk itu kita manfaatkan mengembangkan komponene HOMC yang selama ini masih impor. Produksi Balongan sendiri masih kecil, jadi kita masih butuh impor sekitar 50 persen. Sedangkan nafta kita, kita ekspor, jadi kalau Pertalite ini bisa diproses untuk kelebihan itu (nafta), kan bisa kurangi impor," ucap Dwi.


PERTALITE MERUPAKAN CAMPURAN PERTAMAX DENGAN NAFTA DAN ADITIF.

PT. Pertamina (Persero) akan mengeluarkan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Untuk itu, segera diluncurkan produk baru bensin non subsidi yaitu Pertalite, mulai bulan depan. Salah satu komposisi untuk membuat bensin terbaru dengan RON 90 ini adalah campuran Pertamax RON 95.

Quote:
“Untuk membuat Pertalite, kita menggunakan nafta yang memiliki RON 65-70, agar RON-nya jadi RON 90 kita campurkan HOMC, HOMC ini bisa dibilang ya Pertamax, campurannya HOMC yang RON-nya 92-95, plus zat aditif EcoSAVE biar tambah halus, bersih dan irit. Pokoknya ketiga bahan ini campur-campurin sampai pas RON 90,” jelas Direktur Pemasaran PT. Pertamina Ahmad Bambang di depan Komisi VII DPR, Rabu (22/04/2015).
Bambang mengakui, di Jepang nafta ini justru dapat diolah menjadi Pertamax (RON 92 dan 95), namun di Indonesia belum bisa dilakukan karena kurangnya infrastruktur khususnya kilang.

“Kita punya proyek RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) di Kilang Cilacap yang dapat mengolah nafta menjadi Pertamax, sebenarnya proyek ini sudah ada sejak 2010, namun baru selesai pengerjaanya dan siap operasional pada pertengahan tahun ini,” ujarnya.

Bambang mengatakan, untuk saat ini, pasokan nafta berasal dari produksi dalam negeri, bahkan sebelumnya produksi nafta yang mencapai 400.000 barel per bulan tidak dimanfaatkan dan harus diekspor ke luar negeri terutama ke Jepang. “Nah dengan ada Pertalite ini produksi nafta bisa dimanfaatkan sendiri tidak perlu impor. Kalau permintaan Pertalite meningkat kita bisa impor tambahan nafta, dan nafta ini harganya lebih murah,” ungkapnya.

Artikel aslinya :
Pertalite Bukan Produk Import
Hendy is offline   Reply With Quote
Sponsored Links