View Single Post
Old 14th September 2015, 08:12 PM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 16 Feb 2015
Userid: 3276
Posts: 1,017
Likes: 0
Liked 5 Times in 5 Posts
Default Hindari Tsunami, Landasan Bandara Ini Harus Ditinggikan

TEMPO.CO, Yogyakarta - Untuk menghindari resiko diterjang tsunami, landasan bandara yang akan dibangun di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, disarankan untuk ditinggikan 10-20 meter. “Risiko itu bisa diperkecil dengan melakukan rekayasa desain bangunan bandara,” ujar Deputi Bidang Geofisika Masturyono, Senin 14 September 2015.

Menurut dia, BMKG telah mengingatkan kawasan sepanjang pantai selatan Pulau Jawa rawan gempa dan tsunami. Termasuk Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo yang ditetapkan Pemerintah DIY sebagai lokasi bandara pengganti Bandara Adisutjipto.

Masturyono mengatakan, informasi yang merupakan hasil kajian tersebut telah disampaikan kepada tim pembangunan bandara Kulon Progo saat masih proses feasibility studies atau studi kelayakan. Dia mencontohkan Bandara Ngurah Rai di Bali yang juga di tepi laut selatan.
“Jadi ini hanya persoalan teknis. Ada solusinya,” kata Masturyono.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Heri Siswanto menjelaskan ada tiga kabupaten di DIY yang potensial dilanda tsunami karena berada di pantai selatan Jawa. Ketiganya meliputi Gunung Kidul dengan 18 desa dan 6 kecamatan, Bantul dengan 5 desa dan 3 kecamatan, serta Kulon Progo di 10 desa dan 3 kecamatan. “Untuk Kulon Progo termasuk Temon,” kata Heri.

Berdasarkan pendataan 2012, prediksi jumlah korban akibat tsunami di kawasan selatan di wilayah DIY itu mencapai 100 ribu orang, dengan gempa bumi di atas 8 Skala Richter dan ketinggian gelombang tsunami hingga 11 meter. “Gelombang sampai ke darat sekitar 29 menit dengan jarak 2-3 kilometer dari bibir pantai. Tergantung topografinya,” kata Heri.

Potensi tsunami di kawasan selatan Jawa itu, menurut Masturyono, karena pergerakan lempeng Hindia Australia yang menyusup ke lempeng Eurasia yang kemudian membentuk Pulau Jawa itu masih berlangsung terus-menerus. Lapisan lempeng bersifat elastis sehingga seperti karet yang tak mudah putus. Tapi ketika akumulasi energi yang selalu bertumpuk itu tak memungkinkan ditahan lagi, maka terjadilah gempa yang berpotensi tsunami.

Yang membedakan potensi gempa dan tsunami dengan kawasan barat Sumatera adalah di selatan Jawa hanya butuh kekuatan gempa tak lebih dari 8 SR untuk menghasilkan gelombang tsunami. Sedang di barat Sumatera perlu gempa berkekuatan lebih dari 8 SR untuk terjadi tsunami. “Batasnya itu, sebelah timur adalah Banyuwangi dari kasus tsunami 1994 dan barat itu Pangandaran dari kasus 2006,” kata Masturyono.

Proyek pembangunan bandara di Kulon Progo itu hingga kini masih menghadapi perlawanan dari penduduk setempat. Bahkan Pengadilan Tata Usaha Negera (PTUN) Yogyakarta membatalkan izin penggunaan lahan yang dikeluarkan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, karena dinilai hakim bertentangan dengan rencana tata ruang DIY.












http://nasional.tempo.co/read/news/2...us-ditinggikan
partisusanti is offline   Reply With Quote
Sponsored Links