View Single Post
Old 3rd October 2015, 10:31 PM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 16 Feb 2015
Userid: 3276
Posts: 1,017
Likes: 0
Liked 5 Times in 5 Posts
Default 2016, Jababeka Luncurkan Korean Town

Jakarta - PT Jabebeka Tbk berencana meluncurkan proyek properti terpadu (mixed use), Korean Town, di kawasan Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Proyek bertemakan Korea itu akan ditawarkan ke pasar pada 2016.

"Saat ini masuk tahap perencanaan. Tahun depan kami luncurkan, ujar Direktur PT Jababeka, Tbk Suteja Sidarta Darmono, kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (1/10).

Korean Town merupakan proyek properti terpadu (mixed use) yang terdiri atas beberapa unit properti. Unit-unit itu diantaranya residensial,sekolah, apartemen, hotel, dan proyek-proyek lainnya.
Guna membangun proyek tersebut, Jababeka telah menyiapkan lahan seluas 5-10 hektare (ha). Hanya saja, kata Suteja, pihaknya belum bisa memperkirakan nilai investasi yang dibutuhkan.

"Saat ini, kami belum sampai ke pembahasan tentang investasi. Tapi yang jelas, kami tidak sendiri menggarap proyek ini. Jababeka akan kerja sama degan innvestor Korea," jelas Suteja.

Kendati bertemakan Korea, lanjut dia, Korean Town tidak hanya dikhususkan untuk komunitas Korea. Unit-unit properti di atasnya juga bisa dan boleh dibeli oleh komunitas negara lain. "Misalnya, ada warga negara Jepang, mau membeli, ya tidak apa-apa. Tapi, apakah Orang Jepang mau tinggal dengan Orang Korea," kata Suteja.

Korean Town, tambah dia, bukan satu-satunya proyek properti komunitas. Ada poyek lain, yang dikerjakan secara simultan, yakni Litle Tokyo. Proyek ini berisi unit-unit properti bertema Jepang.

Pembangunan Korean Town dan Litle Tokyo adalah jawaban Jababeka terhadap kebijakan pemerintah yang membuka kran kepemilikan properti bagi warga negara asing. Dalam kebijakan pemerintah, warga negara asing yang dibolehkan membeli properti adalah tenaga kerja asing yang sudah tinggal di Indonesia.

Menurut Suteja, banyak tenaga kerja asing yang sudah lama di Indonesia, dan ingin membeli properti. Hingga kini, keinginan itu belum terealisasi. "Dengan keberadaann tenaga kerja asing yang besar itu, kami hanya ingin menyiapkan sebuah produk, yang bisa mengakomodasi keinginan mereka," ujar dia.

Suteja mengaku telah membicarakan masalah tenaga kerja asing dengan salah satu kementerian. Ddalam pembicaraa itu, dia mengatakan, dari 70 ribu tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di Indonesia, sebanyak 10 ribu bekerja di kawasan Cikarang. Artinya, sepertujuh dari TKA di Indonesia, ada di Cikarang.

Hanya saja, menurut penilaian Suteja, batasan harga yang dibolehkan dibeli oleh TKA sebesar Rp 10 miliar, terlalu mahal. Apalagi, penentuan batasan harga tersebut dikaitkan dengan ketentuan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PpnBM).

"Saya sampaikan, kami melakukan survei terhadap 10 ribu TKA di Cikarang. Ternyata, tidak banyak dari mereka yang mampu membeli properti dengan harga Rp 10 miliar. Harga itu juga terlalu berat bagi orang asing. Kami perkirakan, mereka hanya mampu di harga Rp 5 miliar," papar Suteja. Di negara tetangga, lanjut dia, properti untuk orang asing dijual dengan harga Rp 5 miliar.

Peluang Hilang

Pemerintah diharapkan tidak mematok harga terlalu mahal bagi TKA. "Peluang itu akan hilang jika bertahan di angka Rp 10 miliar. Peluang ads di depan mata. Sekarang tergantung, kita bisa ambil atau tidak," tegas Suteja.

Jika mundur ke belakang, wacana kepemilikan properti bagi asing sempat memicu polemik, di kalangan pelaku bisnis properti. Ketika itu muncul kekawatiran pasar asing akan menggerus pasar domestik.

Kala itu, Ketua Umum DPP REI Eddy Hussy langsung bereaksi. Dia menegaskan, pasar asing tidak akan menghancurkan pasar lokal. Menurut Eddy, pasar asing hanya lah salah satu segmen pasar yang menjadi bidikan pengembang. Artinya, masih ada segmen lain yang tetap diprioritaskan.

"Pengembang tetap hati-hati dan tidak akan hanya mengejar pasar yang berharga mahal. Apalagi, faktanya pengembang justru banyak menggarap pasar menengah," tegas Eddy.

Di samping itu, secara kuantitas warga negara asing yang berpotensi menjadi pembeli properti nasional tidak dalam jumlah besar. Tidak mungkin, kata Eddy, mereka akan berbondong-bondong membeli properti di Tanah Air.













http://www.beritasatu.com/forum-bisn...rean-town.html
partisusanti is offline   Reply With Quote
Sponsored Links