View Single Post
Old 15th October 2015, 08:31 AM   #1
Wakil Camat
 
Join Date: 31 Oct 2014
Userid: 2758
Location: SmovieX.com | Tempat nonton dan download Film | Sering-sering berkunjung yah!
Posts: 3,641
Likes: 41
Liked 5 Times in 5 Posts
Default Pengusaha Lagi Bingung, Sebentar-Sebentar Diburu Petugas Pajak

Quote:
PADANG - Pemerintah diminta untuk mengurangi target penerimaan pajak agar iklim usaha tetap kondusif. Pasalnya, target pajak 2016 sebesar Rp1.368,5 triliun dianggap terlalu tinggi.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Barat, Asnawi Bahar, dengan tingginya target pajak tersebut, pengusaha merasa kerap diteror oleh para pegawai pajak. Selain itu, beban pajak yang terjadi juga semakin tinggi.

"Selama ini pengusaha bingung mikir beban pajak yang ditanggungnya. Bahkan, kini mereka tiap sebentar diburu petugas pajak," katanya di Padang, Rabu (14/10/2015).

Menurut dia, jika pemerintah mengurangi target penerimaan pajak tahunannya, maka secara otomatis pemerintah turut mendukung kelangsungan hidup dunia usaha. Dia menambahkan, pemerintah harus mampu mengoptimalkan target penerimaan negara dari berbagai sektor perekonomian lainnya selain pajak.

Dengan demikian, dunia usaha tetap dapat melakukan kegiatan produksinya secara maksimal, mampu bersaing dengan serbuan produk yang datang dari negara lain. Pasalnya, pengusaha saat ini tidak hanya menanggung beban pajak, juga membengkaknya biaya produksi akibat keterpurukan perekonomian dunia yang telah berdampak pada perekonomian nasional.

"Pengurangan target penerimaan pajak negara itu tentunya sejalan dengan sejumlah kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah, utamanya untuk kegiatan investasi," ujarnya.

Sementara Pengamat Ekonomi Universitas Negeri Padang (UNP), Syamsul Amar, mengungkapkan tarif pajak di Indonesia saat ini masih tercatat paling tinggi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). "Sedangkan negara dengan tarif pajak nomor dua tertinggi dari 10 negara-negara yang ada di kawasan ASEAN adalah Thailand," ungkapnya.

Dia mengatakan, tarif pajak yang besar membuat produk yang dihasilkan industri dalam negeri relatif lebih mahal dibandingkan negara lainnya. Akibatnya, daya saing produk menjadi lebih rendah dan tidak mampu bersaing secara sehat di pasar, baik domestik, maupun internasional.

Menurutnya, Indonesia bersama 10 negara di ASEAN memasuki babak baru sistem perekonomian global, yakni ASEAN Free Trade Area (AFTA) atau perdagangan bebas awal 2016 mendatang.

"Tak hanya besaran tarif pajak yang tinggi, tapi bunga kredit perbankan di negara kita pun terpantau lebih besar dari negara lain. Ini juga sangat berpengaruh terhadap saya saing," ujarnya.
SUMBER : Okezone.com
sucyresky is offline   Reply With Quote
Sponsored Links