View Single Post
Old 5th October 2017, 05:00 PM   #1
Warga Forumku
 
Join Date: 12 Sep 2017
Userid: 6495
Posts: 10
Likes: 0
Liked 0 Times in 0 Posts
Post Menikmati Cerita Pendek pada Lima Keluarga Miskin Oscar Lewis

Sebaik-baiknya pengetahuan adalah pengetahuan yang bermanfaat. Sebaik-baiknya share plus connecting adalah membaca buku yang ditulisbagikan hasil bacaannya. Bisa begitu gak ya? Kalau bisa, oke lanjut.

Barisan kata-paragraf sehabis itu di bawah ini bukanlah resensi atau kritik pada buku. Apalagi sejenis “meta-teori”. Sungguh-sungguh ini hanya sedikit cerita perihal karya, sedikit kesaksian atas pembacaan.

Ini perihal sebuah buku yang lahir berasal dari rutinitas antropologi. Buku yang waktu pertama kali diterbitkan, S Aji masihlah ruh yang belum diamanahkan Tuhan menekuni tugas sebagai manusia fana di bumi yang sementara. Buku yang dalam bahasa asalnya berjudul Five Families; Mexican Case Studies in the Culture of Poverty (Basic Books). Terbit tahun 1959 oleh antropolog berkewarganegaraan Amerika Serikat, Oscar Lewis.

Five Families; Mexican Case Studies in the Culture of Poverty diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2001 oleh penerbit Yayasan Obor Indonesia. Lalu tersedia kembali cetakan ke dua pada tahun 2016 bersama bersama bersama bersama judul Kisah Lima Keluarga: Telaah-telaah Kasus Orang Meksiko dalam Kebudayaan Kemiskinan. Saya tidak lumayan jelas terkecuali sebelum akan waktu ini udah tersedia penerbit yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Yang jelas, berasal dari ucapan terimakasih penulisnya, buku ini lahir berasal dari studi etnografis yang memakan waktu tidak lumayan lebih 10 tahun yakni berasal dari tahun 1948 hingga 1958. Studi yang termasuk menandai pergeseran lapangan penelitian antropologi berasal dari fokus pada masyarakat primitif kepada petani dan masyarakat (miskin) perkotaan.

Sebagaimana judulnya, buku ini menceritakan keadaan hidup sehari-hari lima keluarga Meksiko. Kelima keluarga itu adalah keluarga Martinez, Gomez, Gutierrez, Sanchez, dan Castro. Ada tidak lumayan lebih 422 halaman yang mesti dihabiskan terkecuali menghendaki menikmati pelukisan mendalam Oscar Lewis atas kebudayaan kemiskinan (Culture of Poverty) keluarga Meksiko.

Saya sendiri baru membaca keluarga pertama, Martinez. Sang kepala keluarga bernama Pedro dan istrinya bernama Esperanza, nama-nama yang mengingatkan kita perihal telenovela yang dulu jaya di stasiun tv tanah air tidak lumayan lebih tahun 1990an. Pedro mewakili style kepala keluarga yang otoriter dan berkuasa, tengah Esperanza, perempuan simple dan patuh. Saking miskinnya keluarga ini, untuk menyalakan tungku, Esperanza menampik menggunakan korek api yang selalu merupakan barang mewah waktu itu. Esperanza pilih mengipasi arang yang mengendapkan bara selama malam.

Kehebatan Oscar Lewis, hemat saya, adalah ia menuliskan aktifitas proporsi kerja bagian keluarga laki-laki dan perempuan dalam tempat tinggal keluarga Martinez secara detail. Apa yang dikerjakan Esperanza dan anak perempuannya selama hari termasuk anak laki-laki mereka yang pergi bekerja di ladang mengikuti bapak mereka hingga senja memanggil pulang tergambar begitu hidup. Pelukisan proporsi kerja ini dibaluti oleh pelukisan lingkungan tempat tinggal mereka bersama bersama bersama bersama detail pula. Sehingga yang terbaca adalah pelukisan mendalam yang bolak balik antara kehidupan dalam tempat tinggal (domestik) dan kehidupan di luar (publik) dalam lansekap besar kebudayaan kemiskinan manusia Meksiko.

Tidak berhenti di situ, Oscar Lewis termasuk melukiskan emosi-emosi yang muncul berasal dari jalinan bagian keluarga, konflik-konflik Pedro bersama bersama bersama bersama anak perempuan termasuk anak lelakinya. Termasuk keresahan Esperanza waktu membuat persiapan makanan untuk keluarga besar yang hidup di tempat sempit. Asiknya lagi, tidak tersedia evaluasi moral atau kritik pada kemiskinan yang termuat dalam pelukisan keluarga Meksiko ini. Sehingga kenikmatan membaca tidak berhenti sejenak dikarenakan mesti mencari penjelasan pada kritik-kritik teori pembangunan.

Saya termasuk merasakan bahasa yang digunakan oleh Oscar Lewis, sejauh membaca hasil terjemahannya, relatif lebih gampang menuntun asumsi dan perasaan. Kenikmatan yang mirip tidak saya langsung temukan waktu pertama kali membaca buku antropolog Clifford Geertz--nama yang mesti ditulis hati-hati dikarenakan letak huruf z dan t yang tidak boleh tertukar demi tidak ditegur kali ke dua oleh Pakde Ahmad Jayakardi, he he he-- perihal Involusi Pertanian, misalnya. Bisa jadi dikarenakan kekuatan tangkap saya selalu sangat sederhana. Sesederhana kerinduan kepada kemunculan kembali Vonny Cornelia..[lhooo!! #GagalPindahIdola]

Yang jelas, Oscar Lewis menulis laporan penelitian lapangannya layaknya sebuah kata kata bijak yang sangat detail dan mendalam kembali hidup. Saya jadi tersedia di dalam cerita lucu , mengalami emosi yang diaduk-aduk, terenyuh dan 1/2 tidak percaya tersedia potret keluarga layaknya tempat tinggal tangga Martinez.

Ternyata kesan bahwa pelukisan lima keluarga dalam kebudayaan kemiskinan Meksiko layaknya membaca karya sastra termasuk dianggap oleh Parsudi Suparlan. Antropolog Indonesia yang ikut berikan kata pengantar. Begini kata Parsudi Suparlan yang
zutens is offline   Reply With Quote
Sponsored Links