View Single Post
Old 4th February 2014, 12:22 PM   #1
Wk. RT
 
Join Date: 9 Jul 2012
Userid: 2
Posts: 54
Likes: 6
Liked 20 Times in 12 Posts
Default Mari mentadaburi al qur’an (mma) ke -4 : Tafsir isti’adzah

MARI MENTADABURI AL QUR’AN (MMA) KE -4

TAFSIR ISTI’ADZAH

1. Terdapat beberapa riwayat yang shohih tentang lafadz istiadzah atau taawwudz, tidak mengapa kita membaca salah satu dari lafadz-lafadz tersebut.

Lafadz pertama: audzu billahi minasy syaithonir rojim.
Dari Sulaiman bin Shurod rodhiallahu anhu ia berkata: “Ada dua orang yang saling mencela di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam di saat kami sedang duduk bersama beliau, salah satu dari dua orang itu mencela temannya dalam keadaan marah hingga wajahnya memerah. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam:
إِنِّي لَأُعَلِّمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُهُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ .
“Sesungguhnya aku benar-benar akan mengajarkan satu kalimat, sekiranya ia membacanya maka akan hilang apa yang dihadapinya (kemarahannya), yaitu membaca: ‘audzu billahi minasy syaithonir rojim.” (HR. Bukhori:6115, Muslim:2610)

Lafadz kedua: audzu billahi minasy syaithonir rojim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi. Dari Jubair bin Muth’im rodhiallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca:
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk; dari cekikannya, kesombongannya dan bisikannya.” (HR. Ath Thoyalisi:947, Abu Dawud:764, Ibnu Majah:807, lihat takhrijnya di al irwa’:2/54)

Lafadz ketiga: audzu billahis sami’il alim minasy syaithonir rojim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi. Dari Abu Said al-Khudri rodhiallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca:
أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk; dari cekikannya, kesombongannya dan bisikannya.” (HR. Abu Dawud, Timidzi, Nasai, Ibnu Majah, dihasankan Albani lihat takhrijnya di ashlu sifat sholati nabi: 1/252)

Lafadz keempat: allahumma inni audzu bika minasy syaithonir rojim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi. Dari Abdullah bin Masud rodhiallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan yang terkutuk; dari cekikannya, kesombongannya dan bisikannya.” (HR. Ibnu Majah:808, dishohihkan Albani lihat takhrijnya di al irwa’:2/55)

2. Membaca istiadzah sebelum membaca al-Quran hukumnya wajib, Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ .
“Apabila kamu membaca Al Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An Nahl:98)

3. Makna (أعوذ) ‘audzu’ adalah aku berlindung dari sesuatu yang aku takutkan. Hafidz Ibnu Katsir rohimahullah berkata: “Makna ‘audzu billahi minasy syaithonir rojim’: ‘Aku berlindung dengan kebesaran Allah dari godaan setan yang terkutuk yang akan membahayakan urasan duniaku dan akhiratku, atau menghalangiku dari mengerjakan perintah, atau mendorongku melakukan perbuatan yang dilarang.’ [lihat Ad Durrun Natsir fi Ikhtishor Tafsir Al Hafidz Ibnu Katsir hal 24]

4. Iblis adalah nenek moyang jin, sedangkan Nabi Adam alaihissalam adalah nenek moyang manusia, adapun setan adalah tabiat yang jahat baik dari jin atau manusia atau binatang. Setan dalam bahasa arab diambil dari kata (شطن) ‘syathona’ artinya jauh, dinamakan setan karena ia jauh dari perangai yang baik. Maka semua yang jahat baik jin atau manusia atau binatang disebut setan. Allah Ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا .
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh; yaitu setan-setan manusia dan setan-setan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain dengan perkataan yang indah untuk menipu.” (QS. Al-Anam:112)
Dari Abu Dzar rodhiallahu anhu ia berkata: Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ . فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا بَالُ الْكَلْبِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْأَحْمَرِ وَالْأَصْفَرِ؟ فَقَالَ: الْكَلْبُ الْأَسْوَدُ شَيْطَانٌ .
“Yang memutus sholat seseorang adalah wanita (yang telah baligh), keledai dan anjing hitam.” Aku bertanya: ‘Wahai Rosulullah, apakah yang membedakan antara anjing hitam dengan anjing merah atau anjing kuning? Beliau bersabda: “Anjing hitam adalah setan (jahat).” (HR. Muslim:510)
Namun lafadz ‘setan’ jika disebutkan sendiri dalam al-Quran atau Hadits, maka yang dimaksud adalah setan dari golongan jin, seperti lafadz setan yang terdapat pada kalimat istiadzah yang dimaksud adalah setan dari golongan jin.

5. Kata (رجيم) ‘rojiim’ bisa bermakna (مرجوم) ‘marjuum’ artinya yang terlempar, disebut demikian karena setan terlempar dan terusir dari semua kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِّلشَّيَاطِينِ .
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan.” (QS. Al Mulk:5)
Kata (رجيم) ‘rojiim’ juga bisa bermakna (راجم) ‘roojim’ artinya yang melempar, disebut demikian karena setan selalu melempar was-was dan godaan ke dada manusia. Allah berfirman:
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ .
“Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An Nas:4-6)

6. Musuh manusia dihadapi dengan kebaikan, dihadapi dengan ilmu dan dihadapi dengan kekuatan. Namun musuh setan tidak bisa dihadapi kecuali dengan memohon perlindungan kepada Allah semata dari bisikan dan godaan serta kejahatannya. Allah berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ .
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al A’raaf:199-200) Allah juga berfirman:
اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ، وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ، وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ .
“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. Al Mu’minun:96-98) Allah juga berfirman:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ، وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ .
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat:34-36)
Ibnu Katsir rohimahullah berkata: “Ini adalah tiga ayat dan tidak ada ayat keempat yang semaknanya, dimana Allah Ta’ala memerintah melawan musuh manusia dengan berbuat baik kepadanya agar asal tabiatnya yang baik mengembalikannya kepada rasa saling mencintai dan bersatu kembali. Dan Allah memeritah memohon perlindungan hanya kepada-Nya dari musuh setan; karena ia tidak mungkin dihadapi dengan kebaikan, dan ia tidak menghendaki melainkan kebinasaan anak manusia karena kerasnya permusuhan antara ia dan ayah manusia yaitu Adam alaihissalam dari dahulu.” [lihat Ad Durrun Natsir fi Ikhtishor Tafsir Al Hafidz Ibnu Katsir hal 22]
positifi is offline   Reply With Quote
Sponsored Links