View Single Post
Old 8th October 2012, 06:39 PM   #1
[M]
newbie
 
andi.teguh's Avatar
 
Join Date: 22 Sep 2012
Userid: 285
Location: http://www.forumku.com
Posts: 1,697
Real Name: andi teguh
Likes: 0
Liked 232 Times in 171 Posts
Default 5 Warga Difabel Indonesia yang Berprestasi & Menginspirasi

1. Ratna Indraswari Ibrahim




Ratna Indraswari Ibrahim, seorang penulis dan sastrawati kelahiran Malang, Jawa Timur, pada 21 April 1949 ini mengalami kelumpuhan sejak usia 10 tahun, demikian dikutip dari BBC Indonesia.

Karena kelumpuhannya itu, Ratna terus menggunakan kursi roda, mengaku sempat terpuruk dan mengalami kemarahan saat usianya beranjak remaja. Ratna bahkan sempat tidak percaya akan adanya Tuhan dan menjadi atheis.

"Tapi ternyata Tuhan itu ada..," simpulnya, setelah menjalani kehidupan lebih dari 50 tahun.

Ratna dibesarkan di keluarga yang cinta akan buku, dan diperkenalkan oleh ayahnya dengan bacaan-bacaan yang berat sejak usia 6 tahun. Perempuan ini kemudian menemukan jalan hidupnya dalam dunia tulis-menulis dan sastra.

"Dunia tulis-menulis itulah jalan saya," katanya.

Dalam berkarya, Ratna dibantu asistennya untuk mengetikkan buah ide dan cerpen atau novel yang dia lontarkan. Tempat favoritnya mengerjakan itu adalah di kamar pribadinya yang dipenuhi dengan buku yang terletak di Jalan Diponegoro 3, Malang. Tak heran Ratna menjuluki dirinya sebagai 'sastrawan lisan'.

Dari hasil berkarya dengan cara itu, sudah ada sekitar 400 cerpen dan novel yang dilahirkannya. Kecintaannya akan buku juga membuatnya mendirikan toko buku 'Tobuki, Toko Buku Kita' di sebelah rumahnya.

"Saya ingin menjadi seperti Virginia Woolf," jawab Ratna, jika diberi kesempatan untuk mengulang waktu. "Dan, karena itu, saya ingin lebih tekun menulis...," imbuhnya.

Virginia Woolf adalah penulis Inggris dan tokoh feminis. Selain menulis, Ratna juga mendirikan organisasi dan kerap berdiskusi dengan aktivis, seniman dan mahasiswa di Kota Malang.

Hingga pada tahun 2011, Ratna terserang stroke dengan komplikasi penyakit jantung dan paru-paru hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Senin, 28 Maret 2011 di RS Saiful Anwar, Malang. Ratna meninggalkan novel yang belum selesai dan belum berjudul mengenai romantika aktivis di era reformasi tahun 1998.


2. M Ade Irawan




M Ade Irawan merupakan penyandang tunanetra, namun keterbatasan fisiknya itu mempertajam penggunaan indera-indera lainnya. Ade lahir dari pasangan Endang Dewi Mardeyani dan Irawan Subagyo pada 15 Januari 1994 di Colchester, Inggris.

Kendati sempat terguncang, orang tua Ade menerima kondisi Ade dan selalu men-support minat Ade. Ibundanya, Endang, pada penghujung 1995 mendapatkan beasiswa master di universitas ternama di New York, AS hingga 1999, dan mendapati putra kecilnya aktif dan senang meraba-raba alat musik perkusi seperti kendang.

Kembali ke Indonesia tahun 1999, Ade yang saat itu diajak orang tuanya jalan ke mal, Ade menekan tuts piano dan berbunyi. Spontan, Ade langsung meminta dibelikan alat musik itu. Satu keyboard Casio pun mulai menjadi teman Ade saat usia 7 tahun.

Ade kemudian mengagumi musisi jazz George Benson dan setahun kemudian, dia memutuskan memilih jazz sebagai musik pilihannya. Bakatnya semakin terasah saat mengikuti ibundanya yang bertugas di Chicago, AS tahun 2004. Chicago merupakan tempat para berkumpul musisi blues dan jazz di dunia.

Ibu Ade kemudian sering membawa putranya bermain di kafe-kafe dan untuk bertemu teman-teman sesama musisi. Menginjak usia belasan tahun permainan piano Ade makin luar biasa dan tampil di Chicago Winter Jazz Festival pada tahun 2006 dan 2007, saat usianya 12 tahun.

Ade juga mengkuti audisi khusus dengan musisi jazz Amerika Serikat, seperti Coco Elysses-Hevia, Peter Saxe, Ramsey Lewis, John Faddis, Dick Hyman, Ryan Cohen, dan Ernie Adams. Ade mempelajari huruf braille Farnsworth School plus pianis tetap pada acara musik di sekolah itu dan di Jazz Links Jam Session (Jazz Institute of Chicago) di Chicago Cultural Center.

Musisi jazz dalam negeri seperti Idang Rasjidi, Indra Lesmana, Bubi Chen hingga bos Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana juga memberinya perhatian. Jaya membuatkan Ade pagelaran resital tunggal pada Juni 2010 lalu, dan menjulukinya Ade 'Wonder' Irawan, merujuk musisi tunanetra, Stevie Wonder. Ade juga menjadi penampil pada Java Jazz Festival 2010 lalu.

Ade yang kini duduk di kelas 3 SMA SLB Lebak Bulus ingin menjadi pianis yang terkenal di dunia.



lanjutan di bawah
andi.teguh is offline   Reply With Quote
Sponsored Links