View Single Post
Old 19th October 2012, 01:20 AM   #1
Administrator
 
admin's Avatar
 
Join Date: 5 Jul 2012
Userid: 1
Posts: 5,267
Likes: 1,721
Liked 196 Times in 118 Posts
Default Traveling Story : Pertaruhan Menuju Hidden Paradise

source and courtesy : Adolf Izaak from mailing list indobackpacker


Pasti akan muncul puluhan bahkan ratusan nama-nama pantai untuk pertanyaan
"pantai
mana yang indah dan ter-indah di negeri ini ?". Maksudnya di Indonesia.
Sangat mungkin daftar akan bertambah setiap tahun. Dari berbagai arus
informasi di negeri ini ternyata masih banyak pantai yang belum terjamah
namun memiliki keindahan.

Namun kalau bertanya pantai mana yang PALING INDAH di negeri ini? Yakin akan
berderet nama pantai muncul plus perdebatan. Bakalan debat panjang kalau
sudah bicara "paling"...."paling".... Karena muara argumen berasal dari
selera, rasa, kekaguman, yang sangat subyektif tentunya. Ditambah lagi
sampai sekarang belum ada kriteria penuntun menilai keindahan sebuah pantai.

Gara-gara testimoni

Seseorang yang ku kenal sebagai "beach lover", punya banyak pengalaman
mengunjungi pantai-pantai baik di negeri ini maupun di belahan negara lain,
penggila traveling, memberikan komentar/testimoni pada sebuah foto di salah
satu media sosial. Inti komentarnya mengatakan sebagai pantai "paling
indah".
Menanggapinya aku hanya tersenyum tidak yakin. Tidak ku tanggapi. Dalam hati
ikut komentar, masa sich paling indah...? becanda doang nich...lebay ngga
sich dia nulis begitu...? atau hanya sekedar "over promotion". Agak
meragukan kesungguhan dia memberikan penilaian begitu. Tetapi saat bersamaan
jadi mikir juga, masa iya ia pertaruhkan nama besar-nya tuk sekedar
mengumbar "lebay" atau testimoni berlebihan semata.

Rupanya aku termakan juga yang dia tulis. Padahal selama ini cuek-cuek aja
tuch melihat foto-foto pantai yang di nilai "paling indah". Meski foto-foto
itu menampilkan keindahan aku anggap hasil kutak-katik "oom Photoshop" atau
sejenisnya. Sudah biasa itu percantik foto di era digital sekarang ini.

Pantai Klayar... itu lah nama pantai yang fotonya ia komentari begitu.
Ooo...pernah baca perihal pantai itu beberapa tahun lalu. Aku masih
menyimpan sebuah link yang membuatku ngeri dan enggan ke sana. Ini linknya :
http://www.fotografer.net/forum/foru...?id=3193933613

Ah kog ngeri ya. Kalau rekan-rekan mengakses link di atas, isinya berupa
MUSIBAH yang di alami sejumlah fotografer saat hunting di sana. Bukan
musibah yang mengantar nyawa ke alam akhirat, melainkan kejadian tragis yang
telah merengut "nyawa" yaitu sejumlah kamera dengan lensa yang oke punya.
Hehehe...aku ngga mau lebay. Tampaknya sudah menjadi "kesepakatan" diantara
rekan-rekan penggila moto nyawa pertama adalah kamera dan lensanya. Nyawa
"kedua"...?
stop ah ngga mau ngejawab.

Tetapi...lagi-lagi testimoni itu mengusik pikiran. Seakan menjadi tertantang
dan bertaruh ingin membuktikan apakah benar paling indah. Okelah, pengalaman
ku tidak sebanyak dia. Hanya beberapa pantai saja yang pernah ku datangi di
negeri ini. Mulai memutar memori membandingkan dengan beberapa pantai yang
aku pribadi kagum keindahannya. Ah masa iya sich Klayar "paling indah".
Duch....dalam hati sempat ngedumel juga. Kog jadi tiba-tiba testimoninya
jadi mengusik ketenangan ya.

Tergerak tuk cari info perihal pantai ini. Browsing...ketemu beberapa
catatan perjalanan. Ah kog gitu-gitu aja. Hanya mengatakan
indah...bagus...mempesona...dan sejenisnya. Kurang greget. Ngga ada yang
mendukung menilai sebagai pantai "paling indah".

Menariknya ketemu catatan lama beberapa komunitas fotografi perihal ajakan
hunting di pantai ini. Majalah Traveling Fotografi edisi 1 2012 terbitan
Kompas Gramedia hal 72 - 75 merekomenkan sebagai spot hunting favorit.
Ditambah lagi salah satu majalah "besar", NG Traveler Vol 3 No 4, tahun
2011, cover depan menampilkan foto di spot ini.

Adalah seorang bernama Misbachul Munir, yang cukup dipanggil Oom Munir,
kebetulan ada juga di forum ini. Satu lagi Oom Yadi Yasin. Aku yakin di
kalangan fotografer tidak meragukan kedua nama besar ini. Levelnya sudah
di "strata" "juara", "pameran", "juri", "dosen", masih berjejer gelar yang
lain. Maksudnya sudah sering menjuarai lomba foto, menyertakan foto-fotonya
di pameran foto, di undang menjadi juri lomba foto, menjadi pengajar
fotografi. Maaf Oom Munir (dan bos Yadi Yasin) kalau membaca posting ini.
Jangan tersinggung ya. Tersipu boleh....Sekali lagi ini bukan lebay lho... I
know you...

Kaitannya Oom Munir dan Oom Yadi Yasin dengan Pantai Klayar? dalam sebuah
testimoni menyebutkan beliau berdua rela ber-camping ria menunggu sunset dan
sunrise di pantai itu. Wah kalau mereka berdua mau "stay" disana secara
tidak langsung mengatakan ada yang menarik di sini. Bahkan mungkin lebih
dari sekedar menarik. Pasti ada yang luar biasa menurut pandangan
fotografinya..

Bertaruh

Tapi....huuuuhhhh....lagi-lagi berkutat dengan ragu-ragu perihal musibah
beberapa rekan fotografer tadi. Kalau aku harus ngalami musibah itu gimana
ya? Mereka-mereka sich dengan segera bisa mengganti kamera dan lensanya. Lah
wong dompetnya tebel. Lah kalau aku tuk beli satu kamera aja butuh penantian
bertahun-tahun.

Curhat ini aku sampaikan ke rekan fotografer yang tinggal di Bandung dan
pernah kesana, sebutlah Pak Andi. Aku kenal dia sebagai fotografer outdoor
yang suka tantangan. Aku bilang fotografer nekad, suka nyerempet-nyerempet
bahaya, eeee dia ngga mau. "Gue hanya berani doang bukan nekad. Gue pake
perhitungan ngga main asal tubruk kalau di alam", Ia bilang begitu
mengoreksi julukkan nekad tadi. Chatting dengan beliau mendapat petuah yang
cukup membesarkan hati.

"Pertama, mata harus jeli. Jangan terpikat kalau ketemu obyek cakep lalu
lupa di sekitarnya lalu ending masuk jurang. Kalau itu sich bukan alam yang
ganas tapi loe-nya yang ceroboh. Kedua, ini yang penting, harus
pandai-pandai membaca tanda-tanda alam. Di Klayar memang ombaknya besar.
Khas laut selatan. Tapi....bukan berarti ngga bisa di kenali. Ombak besar
tidak selalu nongol tiba-tiba. Pasti ada ombak kecil atau agak besar yang
muncul dulu. Loe cermatin dech itu kondisi ombak. Liat baik-baik, amat-i
pinggir tebing, ada batas air sebagai tolak ukur massa ombak. Kalau batas
air masih rendah, okelah masuk ke tempat "berbahaya" tadi. Sebaliknya, jika
memang sudah tinggi segera menjauh cari spot lain".

Membaca petuah salah satu sesepuh fotografer rasanya cukup usaha mencari,
menemukan, membaca, membayangkan, seperti apa pantai Klayar. Waktunya sudah
cukup untuk "ketok palu", yes or no. Kesimpulannya aku harus kesana...!!!
Ok.gak apa-apa sebagai ajang pertaruhan ku. Sebagai ajang pembuktian apakah
benar sebagai pantai "paling indah". Kepingin tahu seperti apa unik, indah,
dan sejenisnya, sehingga di gandrungi para fotografer khususnya. Kalau bagus
ya datang lagi. Seandainya biasa aja, ya cukup sekali saja.

Berbekal informasi dan mencermati pengalaman teman-teman yang pernah kesana,
menimbang waktu yang terbatas, mulai membuat rencana rute. Waktu ku hanya
bisa Sabtu Minggu. Rencana memilih Jakarta - Solo - Pacitan - Solo -
Jakarta. Menghemat waktu perjalanan memilih sewa kendaraan 2 hari. Oke
mantap....

Welcome my "old friend"

Berikutnya....mau berangkat sama siapa? Adakah yang ingin di ajak...? Tuk
yang satu ini, setelah merasakan kenikmatan beberapa ber-"solo traveling"
alias pergi sendiri, kenapa ngga di lakukan lagi. Belakangan aku perlu
meralat dan membuka diri kehadiran rekan yang sering ku panggil "cak".
Karena memiliki ciri fisik kulit gelap bukan mata sipit jadinya tidak perlu
ku panggil "ko cak". Walau karena celotehannya suka ku bilang "ko cak loe
ya....".

Satu lagi bergender wanita. Sempat ragu dengan keseriusannya tuk gabung
karena biasanya prefer traveling ke luar negeri. Ternyata dengan percaya
diri, tidak khawatir di kawal 2 cowok, punya tekad kuat tuk gabung.

Oke...bertiga saja cukup. Ku kenal dua rekan ini tidak ribet, tidak
bertele-tele, bukan tipe manja, siap menerima kondisi apa pun. Kalaupun mau
ajak rekan maksimal bisa tambah 2 lagi sesuai kapasitas mobil. Dengan
catatan jangan pada manja ya. Jangan rewel, jangan banyak maunya,
bla...bla...Ngeri kalau tuntutannya banyak. Padahal belum pernah harus siap
maklum dengan kemungkinan kondisi. Catatan juga, meski aku yang punya ide
tetap bukan aku lho yang leading. Ngga ada yang jadi leader. Pun mau jadi
leader tiga-tiga-nya jadi leader.

Atas usulan si "Cak" kami sedikit merubah rute. Kalau dari awal start dan
finish lewat solo, berubah lewat Yogya. Rutenya, Jakarta - Yogya - Pacitan -
Solo - Jakarta. Pilihan lewat Yogya karena akan hunting sunrise di Istana
Boko.

Rencana pilihan transportasi dan hari keberangkatan berubah dikit. Sepakat
kami bertiga berangkat jumat malam pulang kantor naik kereta Argo Lawu turun
di Yogya. Di stasiun tugu dengan mobil yang sudah kami sewa berangkat ke
Candi Boko. Setelah hunting disana langsung melanjutkan ke Pacitan. Hari
minggu dari Pacitan kami menuju Solo, drop di Bandara Adi Sumarmo, lalu
kembali ke Jakarta.
admin is offline   Reply With Quote
Sponsored Links