forumku.com logo Forumku Borobudur Budaya Indonesia
forumku  

Go Back   forumku > Indonesia > Indonesia Membangun! > Forum Militer dan Pertahanan | Defence and Military
Register Register
forumku.com kerja sama promosi forumku.com kerja sama promosi Pusat Cutting Sticker 5 December 2012 - 4 Maret 2013
Notices

Forum Militer dan Pertahanan | Defence and Military Forum Militer dan Pertahanan Indonesia.

Post New Thread  Reply
 
Thread Tools Search this Thread Display Modes
Old 21st January 2015, 09:20 AM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 2 Nov 2014
Userid: 2780
Posts: 711
Likes: 0
Liked 4 Times in 4 Posts
Default Apakah sudah saatnya Indonesia keluar dari proyek KF-X?


Yonhap News Agency dan Korean Herald di tahun 2014 lalu melaporkan bahwa perdiksi biaya development cost dan biaya produksi untuk 250 unit KF-X akan mencapai 20 Triliun Won (US$19.7 milyar).

$19.7 milyar. Kontribusi Indonesia 20% membuahkan angka sekurang-kurangnya $4 milyar atau Rp 48 Trilliun. Bahkan kemungkinan, sebagian besar dari $4 milyar itu harus terlebih dahulu dibayar Indonesia, beberapa tahun sebelum KF-X pertama dapat lepas landas.

Kabar terakhir, menurut Aviation week, parlemen Korsel belum menyetujui mulainya “full-scale-development” untuk KF-X. Ini berarti proyek KF-X masih akan tertunda sampai pemerintah baru Korsel terpilih di tahun 2016.

Sejauh ini KF-X tetap adalah pesawat kertas. Sudah saatnya kita menilik kembali faktor-faktor resiko proyek ini untuk Indonesia. Adalah hak rakyat untuk mengetahui bagaimana uang $4 milyar ini akan dipakai, dan apakah pesawat seperti ini dapat memenuhi cita-cita ”membuat pesawat sendiri.”

Masalah pertama, partnership Korsel-Indonesia dalam KF-X bukanlah partner yang seimbang

Pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan tehnology-expertise KAI (Korean Aerospace Industry) dalam bidang pesawat tempur jauh lebih tinggi dibandingkan PT Dirgantara Indonesia, yang sejauh ini lebih berkonsentrasi ke pesawat angkut ringan, dan lisensi pembuatan helikopter.

Bukankah ini artinya Indonesia seperti “berguru” disana?

Kita memang harus belajar, tapi program semacam KF-X bukanlah tempat yang ideal. Program semacam ini justru menuntut partner yang bisa timbal-balik, dan dapat memberi masukan technical. Dalam hal ini, kemampuan Indonesia dalam industri pesawat tempur NOL besar. Tidak seperti Korea, Indonesia tidak pernah mendapat tawaran ToT, dan merakit pesawat tempur sendiri di Bandung, sedangkan semua pesawat tempur TNI-AU dewasa ini, relatif masih berbasis tehnology tahun 1980-an, atau 1990-an. Ini artinya, Indonesia tidak akan punya kemampuan untuk menawar sebagai partner dalam proyek.

Hasilnya, KF-X akan di-desain murni oleh Korea, menurut spesifikasi yang diinginkan Korea, dan akan mempunyai tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan AU Korea. Indonesia tidak akan punya suara apa-apa untuk menentukan semua ini.

Indonesia hanya akan menjadi ”kerbau yang dicocok hidungnya”, yang dipaksa untuk terus menganggukan kepala, untuk semua hal yang di sudah ditentukan kemauan Korsel.

Masalah kedua, Korea Selatan membutuhkan Transfer-of-technology dari salah satu perusahaan yang sudah berpengalaman

Faktanya, walaupun Korea mungkin jauh lebih maju daripada Indonesia, mereka belum mempunyai cukup expertise untuk membuat pesawat tempur sendiri.

Transfer-of-technology dan license-production untuk membuat F-16 C/D di awal tahun 2000-an, dan pengalaman kerjasama membuat T-50 LIFT trainer tidaklah menjadikan Korea sebagai negara yang dapat dibandingkan dengan negara-negara pembuat pesawat tempur tradisional yang lain.

Berkaitan dengan masalah pertama tadi, karena KF-X adalah “100% made in Korea”; Korsel tidak merasa perlu untuk berdiskusi dengan Indonesia dalam hal memilih partner.

Sebaliknya, mereka sudah langsung mengundang Lockheed-Martin sebagai partner tehnology utama dalam KF-X; sebagai salah satu offset (syarat) dari transaksi pembelian 40 F-35A, yang senilai US$7 milyar.

Masalah ketiga, partnership dengan Lockheed-Martin, berarti 90% dari komponen KF-X akan di-source dari US.

Ini tentu saja tidak menjadi masalah besar untuk Korea Selatan, yang dapat dianggap sebagai salah satu negara “sekutu kesayangan” US, menyamai negara-negara lain seperti Australia, Singapore, dan Jepang.

Akan tetapi, ini artinya SEMUA komponen vital yang dibutuhkan untuk KF-X, akan berada di bawah kontrol program FMS (Foreign Military Sales) USA. Pemerintah US akan mempunyai 100% kontrol untuk menentukan kualitas perlengkapan yang boleh dipasangkan ke KF-X, dan ini biasanya adalah mimpi buruk bagi semua pembuat senjata yang memakai komponen buatan US.

Ada berita dari Korea, bahwa akhirnya jumlah komponen Korea akan menggantikan kebanyakan komponen buatan US dalam KF-X. Tapi komponen yang mana?

Korea bahkan belum mampu menulis “Software Source Code” sendiri untuk pesawat FA-50 mereka (versi tempur dari T-50 Golden Eagle). Ini adalah komponen terpenting (yang juga tidak kelihatan) dalam pesawat tempur untuk menentukan perlengkapan apa yang bisa dipasangkan, mulai dari radar, missile, aerial-network, air-combat programming mode, dan counter-measure. Lockheed-Martin (yang juga partner pembuat T-50) adalah penulis Source Code untuk FA-50.

Kalau menulis code untuk FA-50 yang jauh lebih sederhana saja Korea tidak bisa, bagaimana dengan KF-X yang jauh lebih rumit?

Faktanya, Korea belum mempunyai kemampuan industri mandiri untuk membuat AESA radar, aerial network modern, flight control software, dan semua komponen penting lain yang vital. Setelah Lockheed-Martin mengunci “software source code” di KF-X, Korea / Indonesia tidak akan mungkin mengganti semua komponen vital dari buatan US, menjadi non-US.

Hal ini membawa kita ke masalah yang berikutnya.

Masalah keempat, campur tangan program FMS, berarti IF-X Indonesia hanya akan menjadi versi “downgrade” dari KF-X Korea.

Sudah menjadi rahasia umum, kalau pemerintah US selalu campur tangan dalam mengatur level persenjataan yang dibeli negara-negara client-nya.

Mari menengok kembali salah satu deal terpenting US – Indonesia akhir-akhir ini: Pembelian F-16 Block-52ID.

Dan walaupun daftar ini kelihatannya sangat bagus, dan Indonesia mendapat bermacam-macam hadiah, ada beberapa hal yang hilang jika dibandingkan semua transaksi pembelian F-16 Block-50/52 lainnya.

Pertama, dokumen dari DCDA ini saja, bahkan sengaja tidak menyebutkan versi dari radar APG-68. Ini artinya, Indonesia mendapat versi paling basic dari APG-68, bukan tandingan dari APG-68v7 atau v9 yg memperlengkapi F-16 Block-50-52/52+/50+ Singapore, Korea Selatan, Pakistan, dan Maroko. Tentu saja, performa radar v7 dan v9 akan dapat men-lock BVR missile sekelas AMRAAM dari jarak yang lebih jauh dibandingkan APG-68v basic.

Komponen berikutnya yang hilang dari daftar DCDA dibanding dengan F-16 yang dibeli negara-negara diatas adalah Joint-Helmet-Mounted Cueing System (JHMCS). Helm pilot modern ini memungkinkan F-16 untuk membawa AIM-9X. Ini adalah missile generasi terakhir dari keluarga Sidewinder, yang dapat ditembakkan dengan sudut 90 derajat dari arah moncong pesawat. Ketidakberadaan JHMCS di F-16 Block-52ID, berarti jenis Sidewinder yang dapat dibawa hanya akan terbatas di tipe terakhir – AIM-9M.

Terakhir, tentu saja Link-16 data network yang seharusnya menjadi standar pesawat tempur modern juga abstain dalam daftar DCDA untuk F-16 Block-52ID.

Tentu saja, dengan semua perlengkapan yang jauh lebih modern, F-16 Block-52ID kemampuannya jauh diatas jika dibandingkan dengan F-16 Block-15OCU yang sudah kita miliki. Tetapi, jika F-16 Block-52ID dibandingkan dengan semua F-16 Block-50/52 yang lain, tentu saja Block-52ID akan kalah. Ini bukan karena Indonesia membeli bekas, tetapi karena kualitas perlengkapan Indonesia memang sudah beberapa tingkat dibawah standar F-16 Block-50/52 yang lain.
supry is offline   Reply With Quote
Post New Thread  Reply

Bookmarks



Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Karya Sastra Indonesia Saatnya Mendunia andi.teguh Indonesia Bangga! 11 16th August 2016 03:15 PM
Apakah Makanan Bayi Anda Sudah Benar ? amy1234 Bayi dan Balita 3 10th October 2015 11:30 AM
Saatnya Indonesia Akhiri Puasa Gelar akiyamashinichi Olah Raga dan Organisasi! 0 20th November 2014 08:21 AM
Rp 16 Miliar Sudah Digelontorkan, PU Tak Masalah Proyek JSS Dihentikan miss_nha Business and Economy! 0 10th November 2014 09:11 AM
Tahun 1880 (sudah ada) Jemaah Haji dari Sumatera dan Aceh Indonesia. berita.bahrain Forumku the Lounge 0 9th October 2014 06:26 PM


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 12:52 PM.


forumku.com is supported by and in collaboration with

forumku.com kerja sama promosi kiossticker.com 5 December 2012 - 4 Maret 2013 Web Hosting Indonesia forumku.com kerja sama promosi my-adliya.com forumku.com kerja sama promosi situsku.com

Peserta Kontes SEO Forumku :

kontes SEO: business review

Positive Collaboration :

positive collaboration: yukitabaca.com positive collaboration: smartstore.com positive collaboration: lc-graziani.net positive collaboration: Info Blog

Media Partners and Coverages :

media partner and coverage: kompasiana.com media partner and coverage: wikipedia.org media partner and coverage: youtube.com

forumku.com
A Positive Indonesia(n) Community
Merajut Potensi untuk Satu Indonesia
Synergizing Potentials for Nation Building

Powered by vBulletin® Version 3.8.7
Copyright ©2000 - 2016, vBulletin Solutions, Inc.
Google Find us on Google+

server and hosting funded by:
forumku.com kerja sama webhosting dan server
no new posts