forumku.com logo Forumku Borobudur Budaya Indonesia
forumku  

Go Back   forumku > Indonesia > Indonesia Membangun! > Forum Militer dan Pertahanan | Defence and Military
Register Register
forumku.com kerja sama promosi forumku.com kerja sama promosi Pusat Cutting Sticker 5 December 2012 - 4 Maret 2013
Notices

Forum Militer dan Pertahanan | Defence and Military Forum Militer dan Pertahanan Indonesia.

Post New Thread  Reply
 
Thread Tools Search this Thread Display Modes
Old 28th January 2015, 09:39 AM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 2 Nov 2014
Userid: 2780
Posts: 711
Likes: 0
Liked 4 Times in 4 Posts
Default Perbandingan Ketiga Eurocanards – Typhoon, Rafale, dan Gripen-NG


Ketiga tipe Eurocanards adalah multirole fighter Generasi terakhir yang sudah operasional. Dibuat untuk menandingi kemampuan F-15 / F-16 / F-18 dari US, dan Su-27/MiG-29 dari Russia, ketiganya mempunyai keunggulan untuk di-desain 10 tahun kemudian, jadi secara tehnis adalah pesawat-pesawat yang jauh lebih baru.

Ketiga Eurocanards menjadi pilihan baik bagi banyak negara yang menginginkan tehnologi modern pesawat tempur Barat, reliability yang terjamin, dan support yang bagus, tapi ingin mengingkari faktor resiko untuk berurusan dengan program FMS pemerintah US, dan “source code” control mereka yang terkenal pelit.

Berikut adalah perbandingan antara ketiga tipe ini.

Radar

Gripen-E/F (Selex Raven ES-05) dan Dassault Rafale (RBE2) sudah memakai AESA radar; sedangkan Typhoon masih memakai radar CAPTOR-M, tipe pulse-doppler 2-channel. CAPTOR-M dianggap sebagai doppler radar dianggap lebih modern dari semua model mechanical doppler yang lain spt APG-68v9 (F-16 Block50+) atau APG-70 (F-15E), tapi tetap tidak bisa menandingi jarak jangkau, dan kemampuan deteksi tipe AESA yang lebih modern.

AESA radar tidak hanya jauh lebih unggul, tapi juga lebih murah (dan lebih mudah) dalam hal perawatan, dibandingkan PESA atau pulse-doppler. Setiap module / element dalam AESA radar beroperasi independent satu sama lain, jadi kalau ada beberapa element yang rusak, tidak akan mempengaruhi performa radar. Hal ini memudahkan maintenance. Radar Pulse-doppler mempunyai MTBF (Mean-Time Between-Failure) / butuh perbaikan setiap 100 jam operasional, jadi secara maintenance lebih mahal dan sulit.

Eurofighter Consortium baru saja menandatangani kontrak upgrade radar ke CAPTOR-E AESA, senilai $1 milyar, menghilangkan kelemahan terakhir Typhoon dibanding kedua pilihan lain. Pembuat CAPTOR-E adalah Selex ES – memberikan base technology radar yang sama dengan Gripen-NG.

Radar CAPTOR-E AESA di Typhoon memiliki keunggulan ukuran yang besar (1500-module), sebanding dengan radar pesawat tempur berat di kelas F-15 atau Su-27 – memberikan jarak jangkau dan kemampuan deteksi akan lebih kuat dibandingkan Raven ES-05 Gripen dan RBE2 Rafale yang hanya 1000 module, atau di kelas pesawat tempur menengah, yang seimbang dengan APG-80 di F-16 Block-60 atau APG-79 di F-18E/F Super Hornet.

CAPTOR-E dan Raven ES-05 (keduanya buatan Selex ES) dapat diputar di pivot-nya, memberikan kemampuan coverage yang lebih besar (120 derajat dari moncong pesawat). Ini akan memberikan keunggulan tambahan dalam BVR combat (lihat di bawah). Radar RBE2 di Rafale fixed-mounted, sama seperti semua radar AESA di pesawat tempur buatan US, memberikan sudut coverage yang lebih terbatas.

Dari segi IRST, ketiganya boleh dibilang sebanding, karena dari base tehnologi yang sama.

Performance

Typhoon dan Gripen-E mempunyai kecepatan maksimum yang lebih tinggi (Mach-2+) dibandingkan Rafale (Mach 1,8). Daya dorong mesin Rafale yang lebih rendah memberikan Thrust-to-weight ratio yang lebih rendah (0.97), dibandingkan Gripen-E (1,06), dan Typhoon (1,07). Semua angka dihitung fully loaded, dengan full internal fuel dan 2 AAM. Dari segi rate climb, Typhoon paling unggul, diikuti Gripen-E, dan terakhir Rafale, tapi sekali lagi, perbedaan antara ketiganya tidak terlalu jauh.

Ketiga tipe Eurocanards tentu saja juga dapat supercruise – terbang mendatar, melebihi kecepatan suara tanpa menggunakan afterburner, seperti semua tipe lain.

Range dan Combat Radius

Ketiganya hampir seimbang untuk ferry range (+/- 4,000 km) dan combat radius (+/- 1,000 km).

Payload (Data Angkut)

Rafale bisa mengangkut lebih banyak payload (10,5 ton), dibandingkan Typhoon (8.25 ton) dan Gripen-E/F (5 ton). Kemampuan payload ini hanya akan lebih berpengaruh ke kemampuan Air-to-Ground daripada Air-to-Air.

Catatan di sini:

Ausairpower menunjuk bahwa keunggulan payload Su-35 memberikan kemampuan untuk membawa 14 missile. Penulis blog ini, Carlo Kopp dan Peter Goon, sepertinya lupa, kalau tidak akan pernah ada Angkatan udara di dunia ini yang mau memasang 14 missile ke satu pesawat.

Penjelasannya sederhana. Pertama, faktor resiko yang besar. Setiap missile harganya jutaan dollar. Kalau pesawat tempur membawa sedemikian banyak missile dan tertembak jatuh (atau mengalami kecelakaan), sebelum berhasil menembak, maka ini adalah investasi $100 juta yang mubazir.

Kedua, setiap Angkatan Udara hanya mempunyai stock jumlah missile yang terbatas. Akan jauh lebih optimal untuk membagi jumlah missile itu ke lebih banyak pesawat, dibanding memasang sebanyak mungkin missile ke beberapa pesawat saja. Mereka juga harus menghemat, untuk memastikan tidak akan kehabisan missile sebelum konflik selesai.

Inilah sebabnya dalam Air-to-Air mode, semua pesawat tempur di dunia, secara optimal biasanya dipersenjatai 4 x BVR missile, dan 2 x WVR missile. Su-27 Russia yang di-intercept Typhoon UK di atas Baltic ini saja (Foto: The Aviationist), hanya membawa 4 x R-27 BVR missile (2 di perut, 2 di sayap sebelah dalam), dan 2 x R-73 di sayap sebelah luar.

Beberapa pesawat lain dapat membawa 8 missile. Sebagai contoh: Lihat gambar F-15C ini, yang membawa 4 x AIM-9 jarak dekat, dengan 2 fuel drop tank besar di sayap; 4 AIM-120 BVR missile juga terlihat dibawah perut.

Cockpit Interface dan Networking

Ketiganya kira berimbang dalam hal cockpit layout. Semua tipe menekankan user-interface yang terbaik. Dari segi networking, ketiga tipe ini juga dapat menembakkan BVRAAM secara pasif — tidak perlu menyalakan radar — cukup 1 pesawat yang menyalakan radar dan meng-guide semua BVR missile yang ditembakkan pesawat lain.

Rafale dan Typhoon mengandalkan Link-16 untuk data-link network untuk koordinasi antar pesawat. Gripen juga mempunyai kemampuan berkomsunikasi lewat Link-16, tetapi untuk koordinasi antar pesawat dengan Gripen yang lain, memakai sistem TIDLS Swedia tersendiri. Sistem TIDLS yang lebih mengoptimalkan information-sharing, dan kerja-sama yang lebih dekat dalam setiap formasi pesawat, dinilai lebih unggul untuk memberikan situational awareness yang lebih tinggi dibanding Link-16 yang sifatnya seperti broadcast.

BVR (Beyond Visual Range) Combat

Pilihan default untuk ketiganya tentu saja adalah MBDA Meteor, BVR-missile terbaik di dunia saat ini, yang development-nya sudah selesai, dan sebentar lagi akan memasuki tahap operasional. Gripen-C akan menjadi Eurocanard pertama yang membawa Meteor. Untuk Rafale, ada penjelasan terpisah di bawah.

Dengan mesin ramjet, Meteor dapat menyesuaikan kecepatan yang se-efesien mungkin dari tahap launch. Untuk mencapai jarak jangkau yang lebih jauh, Meteor dapat terbang lebih lambat untuk menghemat bahan bakar. Di saat akhir, Meteor dapat menambah kecepatan untuk meng-optimalkan pK (probability-Kill). Bandingkan dengan AMRAAM yang hanya memakai solid rocket – kecepatannya tidak bisa di kontrol dari awal sampai akhir. AMRAAM dapat kehabisan bahan bakar, atau melaju terlalu cepat, sehingga manuever akhir untuk membunuh lawan justru sebenarnya sangat sulit.

Jarak jangkau Meteor tidak di-publish resmi, tapi menurut rumor, melebihi AIM-54 Phoenix tempo dulu (190 km +), atau bahkan AMRAAM-D yang development-nya masih tertunda terus (US menghabiskan terlalu banyak uang di F-35!). Typhoon dan Gripen memiliki keunggulan dalam memakai Meteor karena keduanya dapat melakukan 2-way datalink untuk meng-update posisi terakhir target (sama dengan sistem 2-way-link di AMRAAM), sedangkan Rafale hanya mempunyai 1-way datalink.

Radar AESA di Typhoon, dan Gripen yang dapat diputar untuk mengikuti lawan, memberikan kemampuan keduanya untuk membelok keluar dari jangkauan BVR missile lawan, sementara terus memberikan data-link update ke BVR missile, seperti Meteor untuk menghantam target (lihat gambar di bawah). Ini memberikan kedua tipe ini keunggulan taktis dibanding Rafale, F-15, F-16, dan F-18 yang memakai fixed-mounted AESA-radar.



Dari segi kemampuan close combat, walaupun Rafale tidak mempunyai offbore-sight WVR missile seperti yang lain, tipe ini juga menikmati cukup kesuksesan, untuk melawan F-22 – pesawat tempur yang dianggap paling tangguh di dunia. Rafale berhasil menancapkan “simulasi MICA-IR” ke F-22, seperti di lihat dalam video ini.

Combat record Rafale untuk Air-to-surface di atas Libya dan Afganistan juga cukup menarik, mungkin mengungguli Typhoon. Berbeda dengan US, yang selalu mendahului serangan dengan “radar-jammer” seperti EA-18G, atau puluhan BGM-109 Tomahawk cruise missile, Rafale dapat langsung terbang di atas Libya, dengan mengandalkan perlindungan dari Thales SPECTRA EW defense suite. Perancis juga melaporkan kalau 2 Rafale saja, dapat melakukan tugas yang biasanya harus diemban 2 Mirage-2000-5, dan 6 Mirage-2000D. Availability rate untuk Rafale di Libya juga dilaporkan “mendekati 100%”.

AU Hungaria melaporkan performa Gripen-C dalam latihan NATO melebihi ekspetasi. Gripen dapat melihat semua pesawat NATO lain (di radar), dilain pihak lebih sukar untuk di-deteksi, atau dilihat dalam pertempuran jarak dekat. Gripen-C Hungaria juga mengejutkan negara-negara NATO lain, karena tidak dapat di-”jamming”, seperti pesawat lain.

Dalam latihan NATO ini, Gripen Hungaria berada dalam pihak ”Red Force”; pihak yang seharusnya kalah. Mereka tidak mendapat dukungan pesawat AWACS atau radar lain, tidak memakai data-link, dan tidak dapat melakukan simulasi AMRAAM. Meski begitu, dalam satu latihan, Gripen-C tetap berhasil “menembak jatuh” 8 – 10 pesawat NATO, termasuk 1 Typhoon. Dalam pertempuran jarak dekat melawan F-16 MLU, Gripen-C juga dengan terlalu mudah “menghabisi” F-16.

Kesimpulan

Ketiga Eurocanard saat ini boleh dibilang harus menjadi tolok ukur semua pesawat tempur G4,5 modern dewasa ini. Ketiganya sudah terbukti “mengigit” dalam mengadu manuever, karena mengkombinasikan aspect yang terbaik dari F-16, dan F-18.

Untuk negara yang mengutamakan Air Superiority, dan dapat membayar harganya, Typhoon adalah pilihan terbaik. Dengan perpaduan CAPTOR-E AESA radar, dan Meteor BVRAAM – Keduanya yang akan segera memasuki status operasional, Typhoon justru akan lebih menakutkan lagi dalam latihan Red Flag. Boleh dibilang, saat ini, Typhoon adalah pesawat yang paling mengancam “mahkota” F-22A sebagai pesawat tempur terbaik di dunia.

Kelemahan utama Typhoon adalah belum tersedianya AESA radar; sampai upgrade ke CAPTOR-E selesai. Proses upgrade ini akan berjalan cukup lama, dan belum tentu semua Typhoon akan mendapat AESA karena masalah biaya. Untuk Air-to-Ground, Typhoon juga belum diperlengkapi Anti-shipping missile buatan Eropa.

Rafale adalah tipe yang paling unggul di dalam Air-to-Ground. Kemampuan Thales SPECTRA EW suite-nya juga sudah terbukti. Permasalahan utama Rafale adalah senjata-senjata yang eksklusif kebanyakan buatan Perancis, walaupun bebas dari pengaruh US, integrasi senjata lain diluar yang sudah disetujui Perancis sangat sulit. Tidak adanya HMD juga memberi kelemahan dalam pertempuran WVR jarak dekat. Dan dalam penggunaan Meteor BVRAAM, Rafale juga performa-nya dinilai lebih rendah dibanding yang lain karena hanya mempunyai 1-way datalink.

Dassault Rafale tentu saja juga satu-satunya tipe Eurocanards yang dapat beroperasi dari kapal induk. Tapi kemampuan ini kurang relevan dalam konteks Indonesia.

Gripen-E adalah satu-satunya Eurocanard bermesin tunggal, performa air-to-ground (dan daya angkut) juga masih dibawah kedua tipe yang lain. Sama seperti Rafale, Gripen sudah memiliki portfolio senjata Eropa – non-Amerika, termasuk RBS-15 anti-ship missile, yang lebih penting untuk negara maritim seperti Indonesia. Keunggulannya, tidak seperti Rafale, Gripen memberikan lebih banyak kebebasan untuk mengintegrasikan senjata manapun (terserah pembeli), tanpa perlu persetujuan atau campur tangan SAAB.

Tidak seperti Rafale, dan Typhoon yang hanya dapat memakai Link-16 (ini masih dalam pengaruh FMS US) untuk aerial network, Gripen juga memilih sistem TIDLS untuk koordinasi antar pesawat dalam Gripen-formation. Gripen juga sudah didesain untuk information sharing melalui sistem Link-16 NATO, atau pilihan network sendiri seperti STRiC Swedia, dan sistem SIVAM di Brazil.

Gripen-E akan menjadi satu-satunya yang sudah diperlengkapi HMD dan AESA; sedangkan kedua Eurocanard yang lain, saat ini hanya punya satu, tapi belum diperlengkapi dengan yang lain. Tentu saja biaya per unit dan biaya operasional per jam juga paling murah, karena pesawat ini lebih ringan, dan bermesin tunggal.
Gripen (versi C) belum mengumpulkan banyak combat training record seperti Eurocanard yang lain. Kelemahan utamanya, tentu saja belum pernah “menjajal” F-22 seperti kedua Eurocanards yang lain. Tapi ini bukan berarti, dalam training air-to-air NATO, tipe ini bisa diremehkan.

Larger size doesn’t mean it’s better. Pengalaman Hungaria menunjukkan ukuran Gripen-C yang kecil, justru menjadi keunggulan dalam latihan NATO; sukar dilihat di radar, ataupun dari pandangan mata.

Oleh: Gripen-Indonesia
supry is offline   Reply With Quote
Post New Thread  Reply

Bookmarks



Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Landasan Ketiga Bandara Soekarno-Hatta Butuh Rp 10 triliun nonasakamoto Business and Economy! 0 27th January 2015 11:17 AM
Rafale akan Ditepuk seperti Nyamuk ! supry Forum Militer dan Pertahanan | Defence and Military 0 26th January 2015 04:22 PM
Rafale akan Ditepuk seperti Nyamuk ! supry Forum Militer dan Pertahanan | Defence and Military 0 27th November 2014 08:44 AM
Forumku.com melawan Kompetisi, Perbandingan Grafik admin Situs Forumku 7 5th February 2014 01:45 PM
Perbandingan Apple IOS 6 Vs. Android 4.1 Jelly Bean irvan.dikky Gadgets and Gizmos 8 20th June 2013 10:59 PM


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 06:41 PM.


forumku.com is supported by and in collaboration with

forumku.com kerja sama promosi kiossticker.com 5 December 2012 - 4 Maret 2013 Web Hosting Indonesia forumku.com kerja sama promosi my-adliya.com forumku.com kerja sama promosi situsku.com

Peserta Kontes SEO Forumku :

kontes SEO: business review

Positive Collaboration :

positive collaboration: yukitabaca.com positive collaboration: smartstore.com positive collaboration: lc-graziani.net positive collaboration: Info Blog

Media Partners and Coverages :

media partner and coverage: kompasiana.com media partner and coverage: wikipedia.org media partner and coverage: youtube.com

forumku.com
A Positive Indonesia(n) Community
Merajut Potensi untuk Satu Indonesia
Synergizing Potentials for Nation Building

Powered by vBulletin® Version 3.8.7
Copyright ©2000 - 2016, vBulletin Solutions, Inc.
Google Find us on Google+

server and hosting funded by:
forumku.com kerja sama webhosting dan server
no new posts