forumku.com logo Forumku Borobudur Budaya Indonesia
forumku  

Go Back   forumku > Forumku Regional > Forumku Middle East Timur Tengah > Forumku Bahrainuna > Pengajian Bahrain
Register Register
forumku.com kerja sama promosi forumku.com kerja sama promosi Pusat Cutting Sticker 5 December 2012 - 4 Maret 2013
Notices

Pengajian Bahrain Forum ini Membutuhkan Moderator, Silakan mendaftar !!!

Post New Thread  Reply
 
Thread Tools Search this Thread Display Modes
Old 4th February 2014, 12:22 PM   #1
Wk. RT
 
Join Date: 9 Jul 2012
Userid: 2
Posts: 54
Likes: 6
Liked 20 Times in 12 Posts
Default Mari mentadaburi al qur’an (mma) ke -4 : Tafsir isti’adzah

MARI MENTADABURI AL QUR’AN (MMA) KE -4

TAFSIR ISTI’ADZAH

1. Terdapat beberapa riwayat yang shohih tentang lafadz istiadzah atau taawwudz, tidak mengapa kita membaca salah satu dari lafadz-lafadz tersebut.

Lafadz pertama: audzu billahi minasy syaithonir rojim.
Dari Sulaiman bin Shurod rodhiallahu anhu ia berkata: “Ada dua orang yang saling mencela di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam di saat kami sedang duduk bersama beliau, salah satu dari dua orang itu mencela temannya dalam keadaan marah hingga wajahnya memerah. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam:
إِنِّي لَأُعَلِّمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُهُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ .
“Sesungguhnya aku benar-benar akan mengajarkan satu kalimat, sekiranya ia membacanya maka akan hilang apa yang dihadapinya (kemarahannya), yaitu membaca: ‘audzu billahi minasy syaithonir rojim.” (HR. Bukhori:6115, Muslim:2610)

Lafadz kedua: audzu billahi minasy syaithonir rojim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi. Dari Jubair bin Muth’im rodhiallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca:
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk; dari cekikannya, kesombongannya dan bisikannya.” (HR. Ath Thoyalisi:947, Abu Dawud:764, Ibnu Majah:807, lihat takhrijnya di al irwa’:2/54)

Lafadz ketiga: audzu billahis sami’il alim minasy syaithonir rojim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi. Dari Abu Said al-Khudri rodhiallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca:
أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk; dari cekikannya, kesombongannya dan bisikannya.” (HR. Abu Dawud, Timidzi, Nasai, Ibnu Majah, dihasankan Albani lihat takhrijnya di ashlu sifat sholati nabi: 1/252)

Lafadz keempat: allahumma inni audzu bika minasy syaithonir rojim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi. Dari Abdullah bin Masud rodhiallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan yang terkutuk; dari cekikannya, kesombongannya dan bisikannya.” (HR. Ibnu Majah:808, dishohihkan Albani lihat takhrijnya di al irwa’:2/55)

2. Membaca istiadzah sebelum membaca al-Quran hukumnya wajib, Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ .
“Apabila kamu membaca Al Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An Nahl:98)

3. Makna (أعوذ) ‘audzu’ adalah aku berlindung dari sesuatu yang aku takutkan. Hafidz Ibnu Katsir rohimahullah berkata: “Makna ‘audzu billahi minasy syaithonir rojim’: ‘Aku berlindung dengan kebesaran Allah dari godaan setan yang terkutuk yang akan membahayakan urasan duniaku dan akhiratku, atau menghalangiku dari mengerjakan perintah, atau mendorongku melakukan perbuatan yang dilarang.’ [lihat Ad Durrun Natsir fi Ikhtishor Tafsir Al Hafidz Ibnu Katsir hal 24]

4. Iblis adalah nenek moyang jin, sedangkan Nabi Adam alaihissalam adalah nenek moyang manusia, adapun setan adalah tabiat yang jahat baik dari jin atau manusia atau binatang. Setan dalam bahasa arab diambil dari kata (شطن) ‘syathona’ artinya jauh, dinamakan setan karena ia jauh dari perangai yang baik. Maka semua yang jahat baik jin atau manusia atau binatang disebut setan. Allah Ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا .
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh; yaitu setan-setan manusia dan setan-setan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain dengan perkataan yang indah untuk menipu.” (QS. Al-Anam:112)
Dari Abu Dzar rodhiallahu anhu ia berkata: Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ . فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا بَالُ الْكَلْبِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْأَحْمَرِ وَالْأَصْفَرِ؟ فَقَالَ: الْكَلْبُ الْأَسْوَدُ شَيْطَانٌ .
“Yang memutus sholat seseorang adalah wanita (yang telah baligh), keledai dan anjing hitam.” Aku bertanya: ‘Wahai Rosulullah, apakah yang membedakan antara anjing hitam dengan anjing merah atau anjing kuning? Beliau bersabda: “Anjing hitam adalah setan (jahat).” (HR. Muslim:510)
Namun lafadz ‘setan’ jika disebutkan sendiri dalam al-Quran atau Hadits, maka yang dimaksud adalah setan dari golongan jin, seperti lafadz setan yang terdapat pada kalimat istiadzah yang dimaksud adalah setan dari golongan jin.

5. Kata (رجيم) ‘rojiim’ bisa bermakna (مرجوم) ‘marjuum’ artinya yang terlempar, disebut demikian karena setan terlempar dan terusir dari semua kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِّلشَّيَاطِينِ .
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan.” (QS. Al Mulk:5)
Kata (رجيم) ‘rojiim’ juga bisa bermakna (راجم) ‘roojim’ artinya yang melempar, disebut demikian karena setan selalu melempar was-was dan godaan ke dada manusia. Allah berfirman:
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ .
“Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An Nas:4-6)

6. Musuh manusia dihadapi dengan kebaikan, dihadapi dengan ilmu dan dihadapi dengan kekuatan. Namun musuh setan tidak bisa dihadapi kecuali dengan memohon perlindungan kepada Allah semata dari bisikan dan godaan serta kejahatannya. Allah berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ .
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al A’raaf:199-200) Allah juga berfirman:
اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ، وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ، وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ .
“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. Al Mu’minun:96-98) Allah juga berfirman:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ، وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ، وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ .
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat:34-36)
Ibnu Katsir rohimahullah berkata: “Ini adalah tiga ayat dan tidak ada ayat keempat yang semaknanya, dimana Allah Ta’ala memerintah melawan musuh manusia dengan berbuat baik kepadanya agar asal tabiatnya yang baik mengembalikannya kepada rasa saling mencintai dan bersatu kembali. Dan Allah memeritah memohon perlindungan hanya kepada-Nya dari musuh setan; karena ia tidak mungkin dihadapi dengan kebaikan, dan ia tidak menghendaki melainkan kebinasaan anak manusia karena kerasnya permusuhan antara ia dan ayah manusia yaitu Adam alaihissalam dari dahulu.” [lihat Ad Durrun Natsir fi Ikhtishor Tafsir Al Hafidz Ibnu Katsir hal 22]
positifi is offline   Reply With Quote
Old 4th February 2014, 12:23 PM   #2
positifi
Wk. RT
 
Join Date: 9 Jul 2012
Userid: 2
Posts: 54
Likes: 6
Liked 20 Times in 12 Posts
Default Re: Mari mentadaburi al qur’an (mma) ke -4 : Tafsir isti’adzah

7. Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, maka wajib bagi kita memusuhinya dan membentengi diri dari kejahatannya. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا، إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ .
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia musuh (yang mesti dijahui tipu dayanya), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang mnyala-nyala.” (QS. Faathir:6)

8. Setan menggoda manusia bukan atas perintah Allah, namun setan menggoda manusia karena dendam kesumat dan kedengkian yang amat dahsyat. Allah Ta’ala berfirman:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ، إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ .
“Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Shaad:82-83)

9. Seburuk-buruk manusia adalah orang yang mengambil setan menjadi kawannya. Sekiranya menjadikan penjahat sebagai kawan itu keliru, maka menjadikan setan sebagai kawan adalah kesalahan terbesar. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ، وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُّهْتَدُونَ، حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ .
“Barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat) dia berkata: “Aduhai, sekiranya (jarak) antara aku dan kamu seperti jarak timur dan barat, maka setan itu sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia.” (QS. Az Zukhfur:36-38)

10. Memohon bantuan kepada setan adalah perbuatan syirik dan kebodohan yang nyata. Bagaimana mungkin manusia meminta pertolongan kepada setan, padahal setan selalu berupaya mencelakai manusia?! Apabila memohon bantuan kepada yang tidak mau memberi adalah kehinaan, maka memohon bantuan kepada yang ingin mencelakai adalah kehinaan terbesar, karena bukan bantuan yang ia dapatkan, malah penderitaan dan kerugian yang ia rasakan. Allah berfirman:
أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا .
“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al Kahfi:50) Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِّنْ دُونِ اللهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا، يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا .
“Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setan itu memberikan janji-janji pada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An Nisaa’:119-120)

11. Siapa yang meminta bantuan kepada setan, niscaya setan akan menguasainya. Allah berfirman:
إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ .
“Sesungguhnya kesuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. An Nahl:100)

12. Siapa yang berdoa meminta kepada selain Allah, mereka itu tidak lain hanyalah meminta kepada setan. Allah berfirman:
إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَّرِيدًا .
“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka.” (QS. An Nisaa’:117)

13. Walaupun setan itu musuh yang nyata, walaupun setan selalu berupaya membinasakan manusia, namun kenyataannya banyak di antara manusia yang meminta dan menyembahnya. Allah berfirman:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَئِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ، قَالُوا سُبْحَنَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُّؤْمِنُونَ .
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu? Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau, Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin.” (QS. Saba’:40-41)

Demikian keterangan yang dapat saya jelaskan pada pertemuan ini, mudah-mudahan Allah selalu memberi taufik kepada kita untuk istiqomah di atas jalan yang lurus sampai kita berjumpa dengan-Nya. Amin ya Robbal ‘alamin.

Jumat pagi 29 Robiul Awwal 1435 H/30 Januari 2014 M
Masjid At Tauhid Betiting Cerme Gresik
Penulis: Ahmad Jamil bin Mohammad Alim bin Hamid Malika
positifi is offline   Reply With Quote
Old 4th February 2014, 12:24 PM   #3
positifi
Wk. RT
 
Join Date: 9 Jul 2012
Userid: 2
Posts: 54
Likes: 6
Liked 20 Times in 12 Posts
Default Re: Mari mentadaburi al qur’an (mma) ke -4 : Tafsir isti’adzah

MARI MENTADABURI AL QUR’AN (MMA) KE -3

SURAT AL FATIHAH MAKKIYYAH ATAU MADANIYYAH?

Para ulama berbeda pendapat apakah surat al-Fatihah termasuk surat Makkiyyah atau Madaniyyah, namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa surat al Fatihah termasuk surat Makkiyyah, karena turunnya surat al-Fatihah disebutkan oleh Allah di dalam surat al-Hijr ayat 87, sedangkan surat al-Hijr termasuk surat Makkiyyah.

Ibnu Katsir rohimahullah berkata: ‘Surat al Fatihah adalah Makkiyyah, ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Qotadah dan Abul ‘Aliyah. Ada pula pendapat yang mengatakan surat al Fatihah adalah Madaniyyah, ini adalah pendapat Abu Huroiroh, Mujahid, ‘Atho’ bin Yasar dan Zuhri. Ada pula pendapat yang mengatakan surat al-Fatihah diturunkan di Makkah dan diturunkan pula di Madinah. Namun pendapat yang pertama (surat al Fatihah itu Makkiyyah) lebih kuat, karena Allah berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ .
“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung.” (QS. Al Hijr:87) Wallahu Ta’ala A’lam.” [lihat Ad Durrun Natsir fi Ikhtishor Tafsir Al Hafidz Ibnu Katsir hal 19]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata: “Surat al-Fatihah adalah surat Makkiyyah tidak diragukan lagi.’ Kemudian beliau berkata: ‘Adapun pendapat yang mengatakan surat al-Fatihah tidak diturunkan melainkan di Madinah, tidak diragukan lagi ini adalah pendapat yang kurang tepat.’ [lihat Tafsir Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah yang dikumpulkan oleh Iyad Al Qaisy jilid.1/59]

APAKAH SURAT YANG PERTAMA KALI DITURUNKAN?

Di antara para ulama’ ada yang berpendapat surat yang pertama kali diturunkan di dalam al-Qur’an adalah surat al-‘Alaq, ada yang berpendapat surat yang pertama kali diturunkan adalah surat al-Muddatstsir, dan ada yang pendapat surat yang pertama kali diturunkan adalah surat al-Fatihah.

1. Diriwayatkan Bukhori no:3 dan Muslim no:252 tentang awal mula datangnya wahyu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, di dalam hadist ini diterangkan dengan tegas bahwa surat yang pertama kali diturunkan adalah lima ayat yang pertama dari surat al-‘Alaq.

2. Dari ‘Aisyah radhiallahu anha ia berkata:
إِنَّ أَوَّلَ شَيْءٍ أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ : اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ .
“Sesungguhnya surat yang pertama kali diturunkan di dalam al-Qur’an adalah ‘iqro’ bismirobbikal ladzi kholaq’ (surat al-‘Alaq).” (HR. Thobari 24/530, Hakim 2/592, Baihaqi di sunan al kubro 18222, dengan sanad yang hasan.

3. Dari Yahya bin Abi Katsir ia berkata: “Aku bertanya kepada Abu Salamah surat apakah di dalam Al Quran yang pertama kali diturunkan?’ Dia menjawab: ‘ya ayyuhal muddatstsir [al-Muddatstsir].’ Aku berkata: ‘Sesungguhnya diceritakan kepadaku bahwa surat yang pertama kali diturunkan adalah: ‘iqro’ bismirobbikalladzi kholaq [al-Alaq].’ Abu Salamah berkata: ‘Aku bertanya kepada Jabir bin Abdillah rodhiallahu anhuma; surat apakah di dalam al-Quran yang pertama kali diturunkan?’ Beliau menjawab: ‘ya ayyuhal muddatstsir [al-Muddatstsir].’ Aku berkata: Mereka berpendapat: ‘iqro’ bismirobbikalladzi kholaq [al-Alaq].’ Jabir berkata: ‘Aku tidak menceritakan kepadamu kecuali dengan apa yang diceritakan Nabi shallallahu alaihi wasallam kepadaku.” (HR. Bukhori:4924, Muslim:257)

4. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma ia berkata:
أَوَّلُ مَا نَزَلَ بِهِ جِبْرِيلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الهُل عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ اِسْتَعِذْ بِالهِ ثُمَ قَالَ: بِسْمِ الهِm الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ .
“Yang pertama kali diturunkan Jibril kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah; ‘Wahai Muhammad bacalah ta’awwudz kemudian beliau membaca ‘bismillahirrohmanirrohim [al-Fatihah].” (HR. Thobari;1/112, Ibnu Abi Hatim;1/17, namun hadits ini adalah hadits yang dilemahkan oleh Ibnu Hajar al-Asqolani di kitab ‘al ujab bi bayanil asbab;1/222)

Keterangan:
Surat yang pertama kali diturunkan adalah surat al-Alaq lima ayat yang pertama, ini adalah pendapat yang lebih kuat. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan dikatakan surat yang pertama kali diturunkan adalah ‘iqro’ bismirobbikal ladzi kholaq’ ini adalah pendapat yang lebih kuat.” [lihat Ad Durrun Natsir fi Ikhtishor Tafsir Al Hafidz Ibnu Katsir hal 20]

Adapun pendapat surat yang pertama kali diturunkan adalah surat al-Muddatstsir; maksudnya surat al-Muddatstsir adalah surat yang pertama kali diturunkan setelah surat al-Alaq karena wahyu sempat berhenti setelah turunnya surat al-Alaq, dan masa berhentinya wahyu adalah tiga tahun. Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Terdapat riwayat di kitab tarikh karya Ahmad bin Hanbal dari Sya’bi bahwasanya masa berhentinya wahyu adalah tiga tahun, ini adalah pendapat yang dikuatkan Ibnu Ishaq.” [lihat Fathul Bari Syarh Shohih Bukhori;1/37]

Dan kalau kita perhatikan dengan cermat apa yang ditulis oleh Imam Bukhori dalam kitabnya Shohih Bukhori; ketika beliau mendahulukan hadits diturunkannya surat al-Alaq, setelahnya beliau meletakkan hadits diturunkannya surat al-Muddatstsir, yang demikian itu terdapat pelajaran bahwa turunnya surat al-Alaq mendahului turunnya surat al-Muddatstsir.

Sedangkan pendapat surat al-Fatihah adalah surat yang pertama kali diturunkan dalilnya lemah sehingga tidak bisa dijadikan hujah, sekiranya dalilnya tidak lemah maka maknanya surat al-Fatihah adalah surat yang pertama kali diturunkan secara sempurna, wallahu a’lam.
positifi is offline   Reply With Quote
Old 4th February 2014, 12:25 PM   #4
positifi
Wk. RT
 
Join Date: 9 Jul 2012
Userid: 2
Posts: 54
Likes: 6
Liked 20 Times in 12 Posts
Default Re: Mari mentadaburi al qur’an (mma) ke -4 : Tafsir isti’adzah

HUKUM MEMBACA SURAT AL FATIHAH DI DALAM SHOLAT

Membaca surat a-Fatihah di dalam shalat hukumnya wajib bahkan tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca surat al-Fatihah, ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal; dan ini adalah pendapat yang benar. Dari Ubadah bin Shamith radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ .
“Tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca surat al-Fatihah.” (HR. Bukhori:756, Muslim:394)

Dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu ia berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَا يُقْرَأُ فِيهَا بِأُمِّ الْكِتَابِ .
“Tidak sah sholat yang tidak dibacakan di dalamnya surat al-Fatihah.” (HR. Ibnu Khuzaimah:893, Ibnu Hibban:1789, dishohihkan oleh Albani di Shohih Mawarid Dhom’an:384)

Dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu ia berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَلَّى لَمْ يَقْرَأْ بِهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ، هِيَ خِدَاجٌ، هِيَ خِدَاجٌ، غَيْرُ تَمَامٍ .
“Barangsiapa sholat tidak membaca surat al-Fatihah maka sholatnya kurang, sholatnya kurang, sholatnya kurang; tidak sempurna.” (HR. Muslim:395)

HUKUM MEMBACA SURAT AL FATIHAH BAGI MAKMUM

Dalam permasalahan ini para ulama berbeda menjadi tiga pendapat;

Pendapat pertama; wajib bagi makmum membaca surat al-Fatihah setiap rokaat sebagaimana yang diwajibkan kepada imam.

Dari Ubadah bin Shamith radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ .
“Tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca surat al-Fatihah.” (HR. Bukhori:756, Muslim:394)

Pendapat kedua; tidak wajib bagi makmum membaca surat al-Fatihah; baik sholat sirriyyah (sholat yang dibaca pelan seperti sholat dhuhur) atau sholat jahriyyah (sholat yang dibaca keras seperti sholat subuh).

Dari Jabir bin Abdillah rodhiallahu anhuma ia berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ .
“Barangsiapa yang sholat di belakang imam, maka bacaan imam termasuk bacaannya.” (HR. Thohawi, Daroquthni, Baihaqi, lihat takhrijnya di Ashl Sifat Sholat Nabi:1/336)

Pendapat yang ketiga; wajib bagi makmum membaca surat al-Fatihah di sholat sirriyyah (sholat yang dibaca pelan), dan tidak diwajibkan membacanya di sholat jahriyyah (sholat yang dibaca keras). Pendapat ini adalah pendapat yang lebih kuat, karena ini adalah pertengahan dari ketiga pendapat yang disebutkan, pendapat ini yang dipilih Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Dari Abu Musa rodhiallahu anhu ia berkata: Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ؛ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا .
“Hanya saja dijadikan imam itu untuk diikuti; apabila imam bertakbir maka bertakbirlah, dan apabila imam membaca maka diamlah.” (HR. Muslim:404)

Dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu ia berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tatkala beliau selesai menunaikan sholat subuh:
هَلْ قَرَأَ مَعِي مِنْكُمْ أَحَدٌ آنِفًا؟ فَقَالَ رَجُلٌ: نَعَمْ؛ أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ . فَقَالَ: إِنِّي أَقُولُ: مَا لِي أُنَازَعُ؟! قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: فَانْتَهَى النَّاسُ عَنِ الْقِرَاءَةِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا جَهَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِرَاءَةِ حِينَ سَمِعُوا ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَرَؤُوا فِي أَنْفُسِهِمْ سِرًّا فِيمَا لَا يَجْهَرُ فِيهِ الْإِمَامُ .
“Apakah ada seseorang di antara kalian yang membaca surat bersamaku tadi? Salah seorang sahabat menjawab: ‘Ya, aku wahai Rosulullah.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya aku berkata: ‘Kenapa bacaanku diganggu?!’ Abu Huroiroh berkata: ‘Maka para sahabat berhenti membaca bersama Rosulullah shallallahu alaihi wasallam di sholat yang bacaannya dikeraskan Rosulullah shallallahu alaihi wasallam setelah mereka mendengarnya dari Rosulullah shallallahu alaihi wasallam, dan mereka membaca sendiri secara pelan di sholat yang imamnya tidak mengeraskan bacaannya.” (HR. Malik dan yang lainnya, dishohihkan Albani, lihat takhrijnya di Ashl Sifat Sholat Nabi:1/336)

Dari Jabir bin Abdillah rodhiallahu anhuma ia berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ .
“Barangsiapa yang sholat di belakang imam, maka bacaan imam termasuk bacaannya.” (HR. Thohawi, Daroquthni, Baihaqi, lihat takhrijnya di Ashl Sifat Sholat Nabi:1/336)

Maksud hadits di atas adalah siapa yang sholat dibelakang imam maka cukup baginya bacaan imam di sholat jahriyyah, namun apabila di sholat sirriyyah maka wajib bagi makmum membaca surat al-Fatihah.

Demikian keterangan yang dapat saya jelaskan pada pertemuan ini, mudah-mudahan Allah memudahkan kita mempelajari dan mengamalkan al Quran sesuai dengan pemahaman yang benar, mudah-mudahan Allah selalu memberi taufik kepada kita untuk istiqomah di atas jalan yang lurus sampai kita berjumpa dengan-Nya. Amin ya Robbal ‘alamin.

Rabu pagi 20 Robiul Awwal 1435 H/22 jan 2014 M
Masjid At Tauhid Betiting Cerme Gresik
Penulis: Ahmad Jamil bin Mohammad Alim.
positifi is offline   Reply With Quote
Old 4th February 2014, 12:27 PM   #5
positifi
Wk. RT
 
Join Date: 9 Jul 2012
Userid: 2
Posts: 54
Likes: 6
Liked 20 Times in 12 Posts
Default Re: Mari mentadaburi al qur’an (mma) ke -4 : Tafsir isti’adzah

MARI MENTADABBURI AL QUR’AN (MMA) KE -2

DALIL KEUTAMAAN SURAT AL FATIHAH

1. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ .
“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung.” (QS. Al Hijr:87)

Faedah:

- (As Sab’ul Matsani) ‘Tujuh yang diulang-ulang’ adalah surat al Fatihah sebagaimana yang ditafsirkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, dan ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud rodhiallahu anhum sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. [lihat Tafsir Ibnu Katsir jilid.8/275]
- Surat al Fatihah selalu diulang-ulang bacaannya di setiap rokaat dalam sholat.
- Wajib belajar membaca surat al Fatihah dengan benar dan mempelajari makna yang terkandung di dalamnya karena ia selalu diulang di dalam sholat.
- Sangatlah merugi orang yang tidak mengetahui makna yang terkandung di dalam surat al Fatihah. Bagaimana tidak merugi?! Surat yang selalu dia baca namun dia tidak mengerti apa arti dan maknanya.

2. Dari Anas radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam:
أَفْضَلُ الْقُرْآنِ : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .
“Surat yang paling mulia di dalam al Qur’an adalah: “alhamdulillahi robbil alamin” (surat Al Fatihah).” (HR. Hakim, dishohihkan Albani di Ash Shohihah:1499)

Faedah:

- Surat al Fatihah adalah surat yang paling agung di dalam al Quran, sedangkan ayat yang paling agung di dalam al Qur’an adalah ayat Kursi.
- Semua surat yang ada di dalam al Quran mulia karena semuanya adalah Kalamullah (Firman Allah Ta’ala), namun ada sebagian yang satu lebih mulia dari sebagian yang lain sesuai dengan kehendak-Nya.
- Surat al Fatihah adalah surat yang paling mulia, di dalamnya terdapat pernyataan tauhid rububiyah (hanya Allah yang menciptakan, memiliki dan mengatur alam semesta), tauhid uluhiyah (ibadah hanya untuk Allah semata) dan tauhid asma’ dan sifat (hanya Allah yang memiliki nama dan sifat yang sempurna). Di dalamnya terdapat penjelasan iman kepada hari akhir, bahwasanya kebahagiaan di hari akhir tidak dapat diraih melainkan dengan jalan ibadah yang benar dan murni hanya untuk Allah Ta’ala, dan ibadah tidak akan terwujud kecuali atas pertolongan Allah. Di dalamnya terdapat penjelasan doa yang paling agung dan paling mulia. Di dalamnya terdapat pembagian golongan manusia ada yang diridhoi, ada yang dimurkai dan ada pula yang tersesat.

3. Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma ia berkata:
بَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ جَبْرَائِيلُ إِذْ سَمِعَ نَقِيضًا فَوْقَهُ، فَرَفَعَ جِبْرِيلُ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: هَذَا بَابٌ قَدْ فُتِحَ مِنَ السَّمَاءِ مَا فُتِحَ قَطُّ . فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُوْرَيْنِ قَدْ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ؛ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ حَرْفًا مِنْهُمَا إِلَّا أُوتِيتَهُ .
“Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersama Jibril tiba-tiba terdengar suara keras dari arah atas. Jibril pun mengarahkan pandangannya ke atas seraya berkata: ‘Itu adalah suara salah satu pintu langit yang dibuka dan tidak pernah dibuka sebelumnya.’ Lalu turunlah dari pintu itu seorang malaikat mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam seraya berkata: ‘Aku membawa kabar gembira berupa dua cahaya yang telah diberikan kepadamu dan tidak pernah diberikan kepada Nabi sebelummu; Fâtihatul Kitâb dan dua ayat terakhir surat al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf darinya melainkan akan diberikan apa yang kau minta.” (HR. Muslim:806, An Nasai:912)

Faedah:

- Jibril selalu mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, kedatangan Jibril kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam berwujud manusia terutama sering kali ia menyerupai wajah sahabat Dihyah al Kalbi rodhiallahu anhu.
- Langit merupakan bangunan yang sangat kuat dan memiliki banyak pintu, hal ini merupakan bantahan bagi yang menyatakan kalau langit itu hanya tanda ketinggian namun tidak ada wujudnya.
- Surat al Fatihah surat paling mulia yang Allah khususkan hanya untuk Nabi yang paling mulia yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
- Surat al Fatihah dan dua ayat yang terakhir surat al Baqarah adalah cahaya yang sempurna bagi yang membacanya dengan tadabbur dan tafakkur.
- Di dalam surat al Fatihah terdapat doa, siapa yang membacanya dengan khusu’ maka Allah akan mengabulkan permintaannya.

4. Dari Abu Huroiroh rodhiallahu anhu ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman:
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، قَالَ اللهُ : حَمَدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرَّحْمَنِ الرَحِيمِ، قَالَ اللهُ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي . فَإِذَا قَالَ: مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي-. فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ . فَإِذَا قَالَ: اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ .
“Aku telah membagi surat al Fatihah antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian dan hamba-Ku memperoleh apa yang dimintanya. Apabila hamba membaca: ‘alhamdulillahi robbil ‘alamin.’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah memujiku.’ Dan apabila seseorang membaca: ‘arrohmanirrohim.’ Allah berfirman: ‘Hambaku telah memuliakan-Ku.’ Apabila seseorang membaca: ‘maliki yaumiddin.’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’ Di kesempatan yang lain Allah berfirman: ‘Hamba-Ku menyerahkan dirinya kepada-Ku.’ Apabila seseorang membaca: ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.’ Allah berfirman: ‘Ini adalah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku, dan hamba-Ku memperoleh apa yang dimintanya.’ Apabila seseorang membaca: ‘ihdinash shrothol mustaqim shirothol ladzina an’amta alaihim ghoiril maghdhubi ‘alaihim waladh dhollin.’ Allah berfirman: ‘Ini adalah untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku memperoleh apa yang dimintanya. (HR. Muslim:395)

Faedah:

- Surat al Fatihah adalah surat percakapan antara Allah dan hamba-Nya.
- Apabila seseorang berbicara begitu sopan kepada presiden dan raja, maka wajib membaca surat al Fatihah dengan thuma’ninah karena ia sedang berbicara dengan Allah Ta’ala.
- Jika seseorang sopan dalam tutur katanya akan dicintai atasannya, maka orang yang baik bacaannya di saat ia membaca surat Al Fatihah dengan khusu’ maka ia akan dicintai oleh Allah Ta’ala.
- Jika seseorang yang berbicara terlalu cepat kepada orang yang lebih tua dikatakan tidak sopan, maka orang yang sangat cepat membaca surat al Fatihah dia berarti tidak beradab dengan Allah Ta’ala.
- Orang yang meminta sesuatu kepada yang lain harus baik tutur katanya supaya dia mendapatkan apa yang diminta, maka seseorang wajib membaca surat al Fatihah dengan thuma’ninah dan khusu’ agar Allah mengabulkan permintaannya yang ada terkandung di dalam surat al Fatihah.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata: ‘Semua manusia memerlukan surat al Fatihah melebihi keperluan mereka dengan yang lain, sehingga diwajibkan membacanya di setiap sholat.’ [lihat Tafsir Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah yang dikumpulkan oleh Iyad Al Qaisy jilid.1/62]
positifi is offline   Reply With Quote
Old 4th February 2014, 12:27 PM   #6
positifi
Wk. RT
 
Join Date: 9 Jul 2012
Userid: 2
Posts: 54
Likes: 6
Liked 20 Times in 12 Posts
Default Re: Mari mentadaburi al qur’an (mma) ke -4 : Tafsir isti’adzah

5. Dari Abu Said Al Khudri rodhiallahu anhu ia berkata:
كُنَّا فِي مَسِيرٍ لَنَا فَنَزَلْنَا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ فَقَالَتْ: إِنَّ سَيِّدَ الْقَوْمِ سَلِيمٌ، وَإِنَّ نَفَرَنَا غُيَّبٌ، فَهَلْ مِنْكُمْ رَاقٍ؟ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مَا كُنَّا نَأْبِنَهُ بِرُقْيَةٍ، فَرَقَاهُ فَبَرَأَ، فَأَمَرَ لَهُ بِثَلَاثِينَ شَاةً، وَسَقَانَا لَبَنًا، فَلَمَّا رَجَعَ قُلْنَا لَهُ: أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً أَوْ كُنْتَ تَرْقِي؟ قَالَ: لَا، مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْكِتَابِ . قُلْنَا: لَا تُحْدِثُوا شَيْئًا حَتَّى نَأْتِيَ أَوْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَاهُ لِلَّنِبِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ اِقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ .
“Tatkala kami berada di suatu perjalanan kami singgah (di sebuah desa), tiba-tiba datanglah seorang wanita kepada kami seraya berkata: ‘Sesungguhnya kepala suku dalam keadaan sakit (disengat kalajengking), sedangkan orang-orang kami sedang tidak ada, apakah di antara kalian orang yang bisa mengobati?’ Maka bangkitlah seseorang bersama wanita tadi, dan kami tidak menyangkanya bisa mengobati, lalu ia mengobatinya dengan ruqyah, setelah itu sembuhlah pemuka desa itu, lalu ia memerintahkan untuk memberi 30 ekor kambing kepada orang yang mengobatinya dan memberi kami minum susu, ketika ia kembali kami katakan kepadanya: ‘Apakah kamu pandai mengobati dengan ruqyah? Apakah kamu biasa meruqyah?’ Ia menjawab: ‘Tidak, aku hanya membaca surat al Fatihah.’ Kamipun berkata: ‘Janganlah kalian melakukan sesuatu sampai kita mendatangi dan bertanya kepada Rosulullah shallallahu alaihi wasallam.’ Ketika sampai di Madinah kami ceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliaupun bersabda: ‘Dari mana dia mengetahui kalau surat al Fatihah adalah obat, bagikan kambing tersebut dan beri aku bagian.” (HR. Bukhori: 5007, Muslim: 2201)

Faedah:

- Keutamaan surat al Fatihah yang merupakan obat, dengan izin Allah menyembuhkan semua penyakit terutama demam yang disebabkan sengatan hewan berbisa.
- Al Quran adalah obat penyakit hati dan penyakit badan.
- Anjuran membantu orang yang kesusahan walaupun di tengah perjalanan.
- Membalas keburukan dengan kebaikan, karena di riwayat Bukhori disebutkan bahwa penduduk desa sebelumnya tidak mau menjamu para sahabat yang singgah di desa tersebut.
- Boleh mengambil upah dari mengobati seseorang dengan membacakannya al Quran, demikian halnya boleh mengambil upah bagi orang yang mengajarkan al Qur’an, namun dengan syarat tidak berlebihan, apalagi ditentukan nominalnya harus dengan jumlah yang besar.

6. Dari Abu Huroiroh rodhiallahu anhu ia berkata:
خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَ: يَا أُبَيُّ! فَلْتَفَتَ ثُمَّ لَمْ يُجِبْهُ، ثُمَّ قَالَ: أُبَيُّ! فَخَفَّفَ أُبَيٌّ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيْ رَسُولَ اللهِ، قَالَ: وَعَلَيْكَ السَّلَامُ، قَالَ: مَا مَنَعَكَ أَيْ أُبَيُّ إِذْ دَعَوْتُكَ أَنْ تُجِيبَنِي . فَقَالَ: كُنْتُ فِي الصَّلَاةِ . قَالَ: أَوَلَسْتَ تَجِدُ فِيمَا أَوْحَى اللهُ إِلَيَّ: اِسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ . قَالَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ لَا أَعُودُ، قَالَ: أَتُحِبُّ أَنْ أُعَلِّمَكَ سُورَةً لَمْ يُنَزَّلْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلَهَا . قُلْتُ: نَعَمْ أَيْ رَسُولَ اللهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ لَا أَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْبَابِ حَتَّى تَعْلَمَهَا . قَالَ: فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي يُحَدِّثُنِي وَأَنَا أَتَبَطَّأُ مَخَافَةَ أَنْ يَبْلُغَ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ الْحَدِيثَ، فَلَمَّا دَنَوْنَا مِنَ الْبَابِ قُلْتُ: أَيْ رَسُولَ اللهِ، مَا السُّورَةُ الَّتِي وَعَدْتَنِي؟ قَالَ: مَا تَقْرَأُ فِي الصَّلَاةِ؟ قَالَ: فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ أُمَّ الْقُرْآنِ، قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا أَنْزَلَ اللهُ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلَهَا؛ إِنَّهَا السَّبْعُ الْمَثَانِي .
“Rosulullah shallallahu alaihi wasallam keluar (dari rumah) menuju Ubay bin Ka’ab yang sedang sholat, beliau berkata: ‘Hai Ubay.’ Diapun menoleh namun tidak menjawabnya. Lalu beliau berkata: ‘Hai Ubay.’ Maka Ubay mempercepat sholatnya kemudian ia mendatangi Rosulullah shallallahu alahi wasallam, ia berkata: ‘Assalamu ‘alaika ya Rasulullah.’ Beliau menjawab: ‘Wa ‘alaika assalam.’ Beliau berkata: ‘Apa yang menghalangimu menjawab panggilanku di saat aku memanggilmu?’ Ubay menjawab: ‘Aku sedang dalam kondisi sholat.’ Beliau berkata: ‘Bukankah kamu mengetahui ayat yang Allah wahyukan kepadaku: ‘Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu.’ [QS. Al Anfal:24] Ubay menjawab: ‘Benar ya Rasulullah aku tidak akan mengulanginya.’ Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Apakah kamu suka jika aku ajarkan kepadamu surat yang tidak diturunkan di Taurot dan tidak pula di Injil dan tidak pula di Zabur, dan tidak pula di al Quran semisalnya?’ Ubay menjawab: ‘Ya aku mau ya Rasulullah.’ Beliau berkata: ‘Aku berharap tidak keluar dari tempat ini sampai kamu mengetahuinya.’ Ubay berkata: ‘Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggandeng tanganku seraya berbincang denganku, sedangkan aku memperlambat jalan karena aku khawatir sudah sampai pintu namun beliau belum menyampaikan hadits itu, ketika kami dekat dengan pintu aku bertanya kepadanya: ‘Ya Rasulullah, surat apa yang engkau janjikan kepadaku?’ Beliau bersabda: ‘Apakah yang kamu baca di dalam sholat?’ Ubay berkata: ‘Akupun membacakannya surat al Fatihah.’ Beliau bersabda: ‘Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidak menurunkan surat di Taurot, tidak pula di Injil, tidak pula di Zabur, tidak pula di al Quran surat yang semisalnya, sesungguhnya ia adalah as sab’ul matsani dan al quranul adhim yang dikaruniakan kepadaku.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh Albani di Shahih Tirmidzi: 2037)

Faedah:

- Seorang sahabat yang sholat sunnah, lalu dipanggil oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia wajib membatalkan sholatnya untuk memenuhi panggilannya, demikian halnya seorang yang sholat sunnah lalu dipanggil ibunya maka ia wajib membatalkan sholat dan menjawab panggilannya sebagaimana kisah Juraij yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim. Adapun selain panggilan Nabi dan ibu tidak boleh bagi seseorang membatalkan sholatnya, karena tidak ada dalil tentang hal ini.
- Boleh menoleh di dalam sholat jika ada hal yang penting atau darurat.
- Seseorang yang telah niat memanjangkan sholat, tidak mengapa merubah niatnya di tengah sholat untuk mempercepat sholatnya apabila ada urusan yang penting, namun dengan syarat harus tetap thuma’ninah.
- Kesungguhan sahabat Ubay bin Ka’ab radhiallahu anhu untuk mendapatkan ilmu sehingga ia memperlambat jalannya agar memperoleh ilmu yang akan disampaikan Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan beliau sendiri adalah sahabat yang paling hafal al Quran.
- Keutamaan surat al Fatihah yang merupakan surat yang paling mulia yang diturunkan oleh Allah Ta’ala.

Demikian keterangan yang dapat saya jelaskan pada pertemuan ini, mudah-mudahan Allah memudahkan kita mempelajari dan mengamalkan al Quran sesuai dengan pemahaman yang benar, mudah-mudahan Allah selalu memberi taufik kepada kita sampai kita berjumpa dengan-Nya. Amin ya Robbal ‘alamin.

Jumat pagi 30 shofar 1435 H/3 jan 2014 M
Masjid At Tauhid Betiting Cerme Gresik
Penulis: Ahmad Jamil bin Mohammad Alim.
positifi is offline   Reply With Quote
Old 6th February 2014, 10:55 AM   #7
admin
Administrator
 
admin's Avatar
 
Join Date: 5 Jul 2012
Userid: 1
Posts: 5,254
Likes: 1,687
Liked 196 Times in 118 Posts
Default Re: Mari mentadaburi al qur’an (mma) ke -4 : Tafsir isti’adzah

Makasih oom , bermanfaat nih ...
admin is offline   Reply With Quote
Post New Thread  Reply

Bookmarks



Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Mari Mencintai Lingkungn Sejak Kecil admin Forum Lingkungan Hidup 5 9th August 2014 11:37 PM
yuk mari bergabunglah bersama gaoshape.com investasi terpercaya klikjod Peluang Usaha 2 29th January 2014 01:37 PM
Yuk Mari bergabung dengan gaoshape.com investasi aman klikjod Peluang Usaha 2 26th December 2013 10:49 AM
Presiden : Mari tingkatkan Ekonomi Domestik admin Business and Economy! 0 27th November 2013 12:55 PM
Mari Belajar Bahasa Jerman admin Guten Morgen Deutsch 0 30th November 2012 11:08 PM


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 12:45 AM.


forumku.com is supported by and in collaboration with

forumku.com kerja sama promosi kiossticker.com 5 December 2012 - 4 Maret 2013 Web Hosting Indonesia forumku.com kerja sama promosi my-adliya.com forumku.com kerja sama promosi situsku.com

Peserta Kontes SEO Forumku :

kontes SEO: business review

Positive Collaboration :

positive collaboration: yukitabaca.com positive collaboration: smartstore.com positive collaboration: lc-graziani.net positive collaboration: Info Blog

Media Partners and Coverages :

media partner and coverage: kompasiana.com media partner and coverage: wikipedia.org media partner and coverage: youtube.com

forumku.com
A Positive Indonesia(n) Community
Merajut Potensi untuk Satu Indonesia
Synergizing Potentials for Nation Building

Powered by vBulletin® Version 3.8.7
Copyright ©2000 - 2016, vBulletin Solutions, Inc.
Google Find us on Google+

server and hosting funded by:
forumku.com kerja sama webhosting dan server
no new posts