forumku.com logo Forumku Borobudur Budaya Indonesia
forumku  

Go Back   forumku > >
Register Register
forumku.com kerja sama promosi forumku.com kerja sama promosi Pusat Cutting Sticker 5 December 2012 - 4 Maret 2013
Notices

Forumku Media, Internet and Communication Forum ini Membutuhkan Moderator, Silakan mendaftar !!!

Post New Thread  Reply
 
Thread Tools Search this Thread Display Modes
Old 25th November 2019, 08:51 AM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 20 Jan 2018
Userid: 6851
Posts: 671
Likes: 0
Liked 4 Times in 4 Posts
Default Bukan Tentang Usia, ‘OK Boomer’ Lebih Rumit dari Hanya Sekadar ‘Meme’




Dialog lintas generasi antara baby boomer, atau biasa disingkat boomer (generasi yang lahir kira-kira antara 1946 dan 1965) dan milenial (lahir kira-kira antara 1980 dan 1996) telah dibangun di atas berbagai tema.

Generasi boomer mencibir para milenial mengharapkan piala partisipasi untuk hal-hal kecil yang mereka lakukan. Sementara, generasi milenial mengklaim boomer tidak terbuka dan memiliki kesadaran rendah. Milenial meruntuhkan industri yang sebelumnya stabil dengan menabung dan berhemat. Sebaliknya, boomer telah menggadaikan masa depan demi menimbun kekayaan, sambil mengakhiri program sosial penting.

Selain boomer dan milenial, anggota generasi Z (Gen Z) juga terseret dalam pusaran ini. Gen Z (lahir antara 1996 dan 2015) telah menjadi sasaran fitnah retorik yang lebih kejam. Mereka digambarkan sebagai kalangan yang kecanduan gawai, tidak toleran terhadap orang tua mereka, dan terjebak dalam dunia yang berbeda berkat internet.

Dengan semua tuduhan ini, tidak mengherankan meme “OK boomer” marak di arus utama internet. “OK boomer” menjadi upaya milenial dan Gen Z untuk merangkum argumen berbelit ini dan menampiknya. Ini menunjukkan percakapan seputar kecemasan dan kekhawatiran generasi muda menjadi begitu melelahkan dan tidak produktif.

“OK boomer” menyiratkan, generasi yang lebih tua salah memahami budaya dan politik generasi milenial dan Gen Z secara mendasar. Sikap merendahkan dan pemahaman representasi yang salah oleh boomer selama bertahun-tahun telah menyebabkan bantahan dan penolakan ini.

Namun, tak sampai di situ, kebangkitan meme “OK boomer” telah memicu reaksi bersamaan dari kubu baby boomer, banyak dari mereka telah salah membaca meme ini. Mereka merasa itu termotivasi terutama oleh prasangka atau diskriminasi berdasarkan usia seseorang. Lucunya, kesalahan membaca meme oleh para boomer ini dirayakan oleh kubu yang lebih muda―karena fakta bahwa baby boomer gagal memahami poin “OK boomer” adalah inti dari “OK boomer” itu sendiri.

Menurut analisis Aja Romano yang dimuat di Vox, penting untuk memahami bahwa apa yang sebenarnya ada di balik meme itu adalah meningkatnya kecemasan ekonomi, lingkungan, dan sosial, serta perasaan bahwa generasi baby boomer meninggalkan kekacauan mereka untuk dibersihkan oleh generasi yang lebih muda.

Dilansir dari op-ed The Guardian, novelis Francine Prose menulis, “Penjelasan dan pembenaran yang dapat diterima untuk semua ini adalah bahwa generasi yang lebih tua telah menghancurkan banyak hal untuk generasi muda: perubahan iklim, ketidaksetaraan pendapatan, krisis keuangan, serta tingginya biaya pendidikan.”

LATAR BELAKANG “OK BOOMER”

“OK boomer” pertama kali muncul pada 2015 di forum 4chan. Frasa tersebut digunakan sebagai penghinaan oleh pengguna anonim di forum, yang ditujukan pada orang asing lain yang memiliki pandangan tertutup, kurang wawasan, dan kurang simpatik.

Ungkapan ini menjadi viral tahun ini melalui TikTok, sebagai bantahan terhadap kemarahan baby boomer tentang anak-anak belakangan ini. Lagu Peter Kuli & Jedwill yang berjudul OK BOOMER menjadi pilihan terpopuler para remaja pengguna TikTok saat menyuarakan keluhan mereka terhadap boomer.

Terkadang, keluhan yang dirujuk remaja dalam video-video mereka membahas konflik generasi yang khas. Namun, yang lebih sering, mereka bereaksi terhadap orang dewasa yang menilai hal-hal seperti ekspresi gender mereka, pilihan keuangan mereka, pendekatan mereka dalam mencari kerja, atau kegiatan rekreasi mereka.

Latar belakang yang lebih luas dari semua kebencian ini adalah ironi bahwa walaupun boomer menilai buruk pilihan-pilihan spesifik generasi muda, pilihan boomer sendiri-lah yang menciptakan lanskap sosial ekonomi suram yang dihadapi oleh generasi milenial dan Gen Z saat ini.

“Dua kata itu terasa puitis setelah bertahun-tahun mendengar generasi saya disalahkan karena mengacaukan segalanya,” tulis Miyo McGinn di Grist. “Bahkan banyak tantangan yang dihadapi generasi saya―hutang pinjaman mahasiswa, ketidakstabilan ekonomi secara umum, dan, tentu saja, planet yang cepat memanas―adalah hasil dari keputusan picik yang dibuat oleh generasi sebelumnya.”

BOOMER TAK PAHAM

Baru-baru ini, tagar #boomeradvice juga viral di Twitter. Alih-alih memuji pengetahuan dan nasihat bijaksana boomer, maksud dari tagar ini adalah untuk menyindir saran yang paling tidak peka yang biasanya dilontarkan boomer―tentang pekerjaan, pencarian pekerjaan, dan keuangan.

Seperti yang dijelaskan oleh Brian Resnick di artikel Vox baru-baru ini, sebuah penelitian tentang fenomena yang disebut “presentisme” menunjukkan, “orang dewasa yang lebih otoriter lebih cenderung mengatakan anak-anak sekarang jauh lebih tidak menghormati orang tua daripada mereka dulu. Orang dewasa yang banyak membaca akan mengatakan bahwa anak-anak sekarang tidak tertarik untuk membaca. Orang dewasa yang menganggap mereka lebih cerdas cenderung mengatakan anak-anak sekarang kurang pintar daripada anak-anak zaman dulu.”

Jadi, jika generasi yang lebih tua melihat diri mereka sebagai orang yang sukses secara finansial, sopan santun, dan loyal pada pekerjaan, penelitian ini menunjukkan bahwa mereka mungkin akan lebih cenderung memandang generasi yang lebih muda sebagai pencari pekerjaan yang tidak bertanggung jawab secara finansial dan tidak memiliki sopan santun.

Menurut Romano, ini semua bisa dibilang merupakan iterasi baru dari siklus generasi “anak-anak sekarang” yang dialami setiap era―setidaknya, reaksi terhadap meme “OK boomer” menggarisbawahi kepercayaan yang dipegang oleh banyak milenial bahwa boomer tidak pernah memahami generasi mereka. Tetapi karena momen budaya dan politik yang kita hadapi saat ini, taruhannya terasa jauh lebih berisiko daripada bentrokan antargenerasi lainnya.

ARTI SEBENARNYA “OK BOOMER”

Adriana Lepera (16 tahun) adalah salah satu remaja pengguna TikTok yang membuat video “OK boomer”. Melalui akunnya yang memiliki 120.000 pengikut, ia bereaksi terhadap percakapannya dengan kakeknya yang menyuruhnya bekerja―meskipun ia telah menjelaskan, ia belum memiliki SIM dan itu membuatnya lebih sulit untuk mencari pekerjaan.

“Setelah video “OK boomer” saya, saya mendapat beberapa komentar dari boomer yang menjelaskan berapa banyak pekerjaan yang mereka miliki (saat seumuran saya) dan seberapa keras mereka bekerja, membuktikan lelucon itu benar,” katanya saat diwawancarai Vox.

Lepera mengakui bahwa remaja saat ini memang lebih dimudahkan daripada para boomer dalam beberapa hal. “Anak-anak sekarang mendapat akses yang lebih mudah dalam beberapa hal, dan itu tidak disukai para boomer, jadi mereka membuat komentar sinis karena mereka percaya bahwa mereka yang lebih unggul,” tambahnya.

Dia juga berpendapat, boomer tidak mengerti bahwa hal-hal lain yang justru lebih penting jauh lebih sulit mereka dapatkan. “Kami lebih sulit mencari pekerjaan,” katanya. “Itu sebabnya kami marah, karena boomer-lah yang menyebabkan itu.”

Remaja seperti Lepera memahami bahwa meme “OK boomer” digerakkan oleh kecemasan ekonomi generasi mereka, dan oleh nilai-nilai progresif yang tumbuh semakin kuat dari waktu ke waktu.

Menurut Romano, generasi muda lebih beragam, kurang religius, dan lebih langsung terkena dampak ketidaksetaraan ekonomi daripada generasi yang lebih tua. Generasi milenial yang menghargai budaya kerja dan kualitas kerja, bekerja keras untuk mendapat promosi, terblokir oleh baby boomer. Namun, ketika mereka pindah kerja atau berganti karier demi mencapai hal-hal itu, mereka dicap dengan stereotip “kutu loncat”.

Banyak dari boomer yang tersinggung oleh “OK boomer” tampaknya kurang memahami hal ini. “Mereka sangat kolot. Saya merasa seolah-olah mereka tidak berubah seiring waktu,” kata Lepera kepada Vox. “Menurut mereka, apa pun yang mereka melakukan ketika mereka masih muda, kita juga harus melakukannya.”

Apakah itu dibenarkan atau tidak, boomer umumnya dianggap anti terhadap perubahan progresif. Pada 2016, penelitian menunjukkan boomer lebih cenderung memilih opsi konservatif seperti Brexit dan Donald Trump daripada pemilih muda. Secara statistik, boomer kurang peduli tentang perubahan iklim dibandingkan generasi muda. Bahkan, baby boomer terkaya terus mengumpulkan kekayaan untuk diri mereka sendiri di tengah ketidakadilan ekonomi yang membuat generasi yang lebih muda tak berdaya.

Merespons kemarahan boomer terhadap fenomena “OK boomer”, Lepera menuduh mereka munafik. “Mereka merasa seolah-olah mereka bisa mengatakan apa pun yang mereka inginkan tentang generasi kita,” kata Lepera kepada Vox, “tetapi ketika kita membuat lelucon tentang mereka, itu menjadi akhir dunia.”

Pada akhirnya, perdebatan tentang “OK boomer” ini mungkin merupakan pengulangan lain dari parade perdebatan ideologis tanpa akhir yang dipicu oleh internet.

Untuk generasi muda dan remaja yang frustrasi, “OK boomer” adalah respons yang secara emosional sah untuk sikap merendahkan boomer. Namun, bagi baby boomer yang tersinggung, dua kata itu kedengarannya kurang ajar dan tidak sopan: Saat Anda berkata, “OK boomer,” yang saya dengar adalah “seluruh generasi Anda telah menghancurkan peradaban manusia.”

Jika Anda seorang boomer, Anda bisa mengikuti saran Lepera: “Kami hanya bercanda, tenanglah, boomer!”

Sumber
Itsaboutsoul is offline   Reply With Quote
Sponsored Links
Post New Thread  Reply

Bookmarks

Tags
boomer, dan, generasi, mereka, yang



Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Simeone: Saya Hanya Memikirkan Tentang Kemenangan rezky setiawan Forumku Sepak Bola 1 15th June 2019 01:18 AM
Dybala: Bukan Hanya Roma yang Tantang Juventus BernandaSundul Forumku Sepak Bola 0 16th December 2016 03:13 PM
Pep: Saya Bukan Hanya Mengincar Gelar carirumahdijual Forumku Europe Eropa 0 26th June 2015 06:50 PM
Wapres JK: Indonesia Butuh Investor Bukan Sekadar Agen Dagang nonasakamoto Business and Economy! 0 6th February 2015 09:48 AM
Muhammad Taufik: Penolak Ahok Bukan Hanya FPI kloningan.gue Forumku the Lounge 0 13th November 2014 12:00 AM


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 01:56 PM.


forumku.com is supported by and in collaboration with

forumku.com kerja sama promosi kiossticker.com 5 December 2012 - 4 Maret 2013 Web Hosting Indonesia forumku.com kerja sama promosi my-adliya.com forumku.com kerja sama promosi situsku.com

Peserta Kontes SEO Forumku :

kontes SEO: business review

Positive Collaboration :

positive collaboration: yukitabaca.com positive collaboration: smartstore.com positive collaboration: lc-graziani.net positive collaboration: Info Blog

Media Partners and Coverages :

media partner and coverage: kompasiana.com media partner and coverage: wikipedia.org media partner and coverage: youtube.com

forumku.com
A Positive Indonesia(n) Community
Merajut Potensi untuk Satu Indonesia
Synergizing Potentials for Nation Building

Powered by vBulletin® Version 3.8.7
Copyright ©2000 - 2019, vBulletin Solutions, Inc.
Search Engine Optimisation provided by DragonByte SEO v2.0.37 (Lite) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2019 DragonByte Technologies Ltd.
Google Find us on Google+

server and hosting funded by:
forumku.com kerja sama webhosting dan server
no new posts