forumku.com logo Forumku Borobudur Budaya Indonesia
forumku  

Go Back   forumku > >
Register Register
forumku.com kerja sama promosi forumku.com kerja sama promosi Pusat Cutting Sticker 5 December 2012 - 4 Maret 2013
Notices

Forumku Middle East Timur Tengah Main Forum Description

Post New Thread  Reply
 
Thread Tools Search this Thread Display Modes
Old 1st March 2018, 11:55 AM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 20 Jan 2018
Userid: 6851
Posts: 671
Likes: 0
Liked 4 Times in 4 Posts
Default Benarkah Hari Valentine Tandai Batas Upaya Reformasi Islam Pangeran Saudi?

Terdapat perbedaan nyata reformasi Islam antara Riyadh yang menjadi liberal secara sosial, dan Islamabad yang semakin konservatif; Makassar, Surabaya, dan Banda Aceh yang konservatif di Indonesia; dan Majelis Islam tertinggi di Indonesia dan Malaysia yang bersikap sangat keras.

Oleh: James M. Dorsey (Eurasia Review)

Hari Valentine di Riyadh dan Islamabad serta wilayah-wilayah di Indonesia dan Malaysia, sangat nyata menunjukkan kemampuan Arab Saudi dalam menahan ultra-konservatisme Muslim Sunni global, yang sebelumnya dipromosikan oleh kerajaan tersebut, di saat Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman sedang melakukan pembatasan terhadap beberapa masalah reformasi Islam di negerinya sendiri.

Supaya adil, kontroversi tentang Hari Valentine tidak eksklusif merupakan pelestarian ultra-konservatif Muslim. Kaum nasionalis Rusia dan Hindu telah mengecam perayaan tersebut sebagai pertentangan dari warisan budaya negara mereka atau sebuah ‘festival asing.’

Namun, kontroversi Muslim memiliki makna global yang lebih besar, karena implikasi politik, keamanan, dan geopolitiknya. Kepentingannya terletak pada fakta, bahwa Hari Valentine menunjukkan bahwa Arab Saudi—setelah mendanai promosi global ultra-konservatisme Muslim Sunni selama empat dekade hingga mencapai $100 miliar—telah membantu mewujudkan situasi yang tidak bisa dikembalikan seperti semula.

Terdapat perbedaan reformasi Islam yang nyata, ya, antara Riyadh yang menjadi liberal secara sosial, dan Islamabad yang semakin konservatif; Makassar, Surabaya, dan Banda Aceh yang konservatif di Indonesia; dan Majelis Islam tertinggi di Indonesia dan Malaysia yang bersikap sangat keras.

Setelah dilarang bertahun-tahun merayakan Hari Valentine—di mana toko-toko dilarang menjajakan sesuatu yang berupa kartu merah yang mengisyaratkan pesta cinta—Arab Saudi tahun ini menghadapi gambaran yang sangat berbeda di pasar dan toko. Tahun ini, toko-toko dipenuhi dengan barang-barang dengan berbagai jenis warna merah.

Seorang pedagang bunga Saudi melaporkan, bahwa dia telah menjual 2.000 mawar merah dalam satu hari, tanpa adanya gangguan dari polisi agama yang dulu ditakuti di negara kerajaan tersebut.

Sheikh Ahmed Qasim Al-Ghamdi—mantan kepala polisi agama yang blak-blakan, yang berbanding terbalik dengan sikap pendirian agama yang konservatif—menjadikan Hari Valentine setara dengan Hari Nasional Arab Saudi dan juga Hari Ibu.

“Semua ini adalah peristiwa sosial biasa yang dimiliki oleh umat manusia, dan bukan masalah agama yang memerlukan adanya bukti religius untuk mengizinkannya,” kata Sheikh Ahmed dalam kata-kata yang juga disuarakan oleh otoritas keagamaan di Mesir dan Tunisia.

Sementara masyarakat Saudi menikmati kebebasan sosial mereka yang baru diberikan—yang mencakup pencabutan larangan mengemudi perempuan—masyarakat Pakistan sedang menjalani tahun kedua dari larangan yang terinspirasi Saudi, sebagian akibat dukungan Saudi terhadap ultra-konservatisme di negara tersebut selama lebih dari enam dekade.

Pengadilan Tinggi Islamabad tahun lalu melarang perayaan Hari Valentine berdasarkan petisi warga negara setempat, yang menegaskan bahwa “ketika menyebarkan cinta, sebenarnya amoralitas, ketelanjangan, dan ketidaksenonohan juga ikut dipancing—yang bertentangan dengan budaya kita yang kaya.”

Larangan tersebut menyusul seruan kepada warga Pakistan oleh Presiden Mamnoon Hussain, untuk mengabaikan Hari Valentine, karena “tidak memiliki hubungan dengan budaya kita dan hal itu harus dihindari.”

Tahun ini, pembuat kebijakan media elektronik Pakistan memerintahkan media siaran untuk tidak menayangkan apapun yang bisa ditafsirkan sebagai perayaan Hari Valentine.

Oposisi resmi menyoroti fakta bahwa sikap ultra-konservatif yang terinspirasi oleh Saudi telah mengakar di dalam negara Pakistan, dan akan memakan waktu bertahun-tahun—atau satu dekade—untuk dihapuskan tanpa menimbulkan bencana yang lebih besar lagi di negara ini.

Sementara ultra-konservatisme mendominasi sikap di seluruh Pakistan, negara-negara seperti Indonesia dan Malaysia terlibat dalam perang budaya dengan para pendukung pandangan dunia yang dipengaruhi Saudi yang melawan Hari Valentine, atau memaksakan kehendak mereka di beberapa bagian negara di mana mereka memegang kendali atau memberikan pengaruh yang signifikan.

Di Indonesia, setidaknya 10 kota melarang atau membatasi perayaan pesta cinta itu. Pihak berwenang di Surabaya—kota kedua terbesar di negara itu—pekan lalu sempat menahan sekitar dua lusin pasangan yang dicurigai merayakan Hari Valentine.

Banda Aceh di provinsi Aceh, dan Makassar di pulau Sulawesi, menjunjung larangan tersebut selama bertahun-tahun. Tahun lalu, polisi kota Makassar menggerebek toko-toko pada tanggal 14 Februari dan menyita kondom, mengklaim bahwa kondom tersebut dijual ‘dengan cara yang tidak diatur,’ untuk mendorong orang agar melakukan hubungan seksual pada Hari Valentine.

Tindakan tersebut dilegitimasi oleh sebuah keputusan pada tahun 2012 oleh dewan tertinggi reformasi Islam Indonesia, yang menetapkan bahwa Hari Valentine melanggar ajaran Islam.

Sikap Departemen Pengembangan Islam Malaysia (JAKIM), berdasarkan fatwa atau pendapat keagamaan yang dikeluarkannya pada tahun 2005, sejalan dengan mitranya di Indonesia. JAKIM setiap tahun menyalahkan Hari Valentine, bahwa itu digambarkan sebagai hari libur Kristen, di mana dosanya bisa dimulai dari aborsi dan pengabaian anak, sampai alkoholisme dan perilaku penipuan.

Pihak berwenang telah bertahun-tahun berulang kali menahan pemuda pada Hari Valentine, atas tuduhan berada di dekat seseorang dari lawan jenis yang tidak terikat pernikahan atau bukan kerabat dekat.

Hari Valentine seringkali hanyalah satu medan pertempuran dalam perang budaya yang melibatkan hak gay dan transgender, serta adanya penerapan undang-undang penistaan dan peran reformasi Islam di masyarakat. Sebagian besar pendukung ultra-konservatif tidak memiliki hubungan dengan reformasi Islam di Arab Saudi, namun didukung oleh kontribusi Saudi terhadap munculnya lingkungan yang kondusif dan pemerintahan oportunistik yang sesuai dengan tuntutan mereka.

Perang budaya—termasuk perang Hari Valentine—menunjukkan bahwa upaya Pangeran Mohammed untuk memberlakukan tingkat kebebasan sosial yang lebih besar dan berencana untuk menghentikan pendanaan ultra-konservatisme Saudi di negara lain, kemungkinan memiliki dampak yang terbatas di luar negara kerajaan tersebut, meskipun kode moral Saudi yang tegas secara tradisional di negara-negara Muslim, sangat berkualitas.

Sebuah keputusan Saudi pada awal bulan ini untuk menyerahkan kendali Masjid Agung di Brussels, dalam menghadapi kritik Belgia terhadap dugaan intoleransi dan supremasi yang didukung oleh pemerintah masjid Saudi, tampaknya paling bisa menjadi upaya untuk memoles citra dan garis besar kerajaan tersebut. Keseriusan Pangeran Mohammed bukan tanda awal dari gelombang moderasi.

Brussels adalah salah satu dari sedikit institusi Saudi yang dikelola oleh Saudi. Sebagian besar institusi serta kelompok politik dan individu di seluruh dunia yang diuntungkan dari kemurahan hati Arab Saudi, beroperasi secara independen.

Akibatnya, kontroversi Hari Valentine membangkitkan ketakutan di beberapa penganut ultra-konservatif, yang menjadi kritis terhadap Arab Saudi, yang menurut mereka melawan ortodoksi agama.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Sumber : Benarkah Hari Valentine Tandai Batas Upaya Reformasi Islam Pangeran Saudi?
Itsaboutsoul is offline   Reply With Quote
Sponsored Links
Post New Thread  Reply

Bookmarks

Tags
arab saudi



Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Cantona: Zlatan Bisa Jadi Pangeran MU sundulmen Forumku Europe Eropa 0 11th July 2016 07:12 PM
Pele: Messi Sang Pangeran, Saya Rajanya sundulmen Forumku the Lounge 0 16th May 2016 03:07 PM
Buat Rumah Berkesan Romantis di Hari Valentine rikasalsabilah Forumku Designs 1 9th February 2016 11:08 AM
Upaya Penyembuhan Kanker Raihanafaiza8 Health Kesehatan 0 1st October 2015 03:27 PM


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 09:05 AM.


forumku.com is supported by and in collaboration with

forumku.com kerja sama promosi kiossticker.com 5 December 2012 - 4 Maret 2013 Web Hosting Indonesia forumku.com kerja sama promosi my-adliya.com forumku.com kerja sama promosi situsku.com

Peserta Kontes SEO Forumku :

kontes SEO: business review

Positive Collaboration :

positive collaboration: yukitabaca.com positive collaboration: smartstore.com positive collaboration: lc-graziani.net positive collaboration: Info Blog

Media Partners and Coverages :

media partner and coverage: kompasiana.com media partner and coverage: wikipedia.org media partner and coverage: youtube.com

forumku.com
A Positive Indonesia(n) Community
Merajut Potensi untuk Satu Indonesia
Synergizing Potentials for Nation Building

Powered by vBulletin® Version 3.8.7
Copyright ©2000 - 2019, vBulletin Solutions, Inc.
Search Engine Optimisation provided by DragonByte SEO v2.0.37 (Lite) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2019 DragonByte Technologies Ltd.
Google Find us on Google+

server and hosting funded by:
forumku.com kerja sama webhosting dan server
no new posts