forumku.com logo Forumku Borobudur Budaya Indonesia
forumku  

Go Back   forumku > >
Register Register
Notices

Forumku USA dan Canada Main Forum Description

Post New Thread  Reply
 
Thread Tools Search this Thread Display Modes
Old 1st February 2018, 08:34 PM   #1
KaDes Forumku
 
Join Date: 20 Jan 2018
Userid: 6851
Posts: 671
Likes: 0
Liked 4 Times in 4 Posts
Default Menabur Garam pada Luka: Kejahatan Trump atas Palestina Juga Dilakukan Pendahulunya

Trump nampaknya menikmati menyiksa yang lemah. Karena itu, dia sangat luar biasa tak tahu malu. Namun, kejahatan Trump atas Palestina pada hakikatnya adalah pengakuan yang tidak bijaksana atas realitas geopolitik terkait Otoritas Palestina.

Oleh: Shaiel Ben-Ephraim (Asia Times)

Kejahatan Trump atas Palestina terlihat dari perlakuannya terhadap Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Otoritas Palestina (PA) baru-baru ini bisa dibilang penuh kekerasan. Pemerintahan Trump mengenakan hukuman mati atas Abbas dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Bagai menabur garam pada luka, Trump menjelaskan bahwa tindakan tersebut “mengeluarkan Yerusalem dari topik perundingan. Kita tidak perlu membicarakannya lagi.”

Kejahatan Trump atas Palestina ditunjukkannya dengan memotong dana sebesar $65 juta yang seharusnya disalurkan kepada Badan Bantuan dan Perburuhan PBB (UNRWA), badan PBB untuk bantuan pengungsi Palestina.

Selain itu, Kejahatan Trump atas Palestina juga diperlihatkan dengan sikap anti-Palestina, niscaya akan membentuk kerangka perdamaian yang saat ini sedang dirajut oleh pemerintahannya. Orang-orang Palestina memperkirakan bahwa hal itu akan memungkinkan Israel untuk mencaplok 10 persen wilayah Tepi Barat dan bahwa ibu kota negara Palestina akan “digeser” ke luar kota Yerusalem. Abbas tentu saja gelisah, dan baru-baru ini merasa khawatir bahwa “‘kesepakatan abad ini’ berubah menjadi tamparan abad ini, dan kita tidak akan menerimanya.”

Alih-alih mengatasi masalah Palestina, Amerika Serikat berupaya untuk memaksa Abbas menyetujui kesepakatan tanpa banyak protes. Trump mengancam untuk menutup kantor Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Washington dan menegaskan bahwa dana UNRWA tidak akan dikembalikan ke dalam kondisi normal, kecuali jika PA mau melakukan pembicaraan mengenai persyaratan Trump.

Mengapa kebijakan pemerintahan Trump jadi berat sebelah? Adakah pertimbangan strategis di baliknya, atau apakah ini merupakan cerminan dari gaya “unik” penghuni Gedung Putih saat ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita memeriksa akar hubungan Palestina-AS. Sebelum kejahatan Trump atas Palestina dimulai, Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya juga tidak selalu menganggap serius orang-orang Palestina. Beberapa dekade yang lalu, mereka memandang keadaan orang Palestina sebagai masalah kemanusiaan daripada kekhawatiran nasionalis yang valid.

Arafat dan bangkitnya Fatah

Dari sudut pandang strategis ini masuk akal. Kepemimpinan politik Palestina telah hancur dalam Perang Arab-Israel 1948. Pemain regional memperlakukan orang-orang Palestina tanpa kemudi sebagai pion dalam permainan politik regional yang kompleks. Organisasi politik Palestina seringkali hanyalah cangkang tipis yang digerakkan oleh negara-negara Arab.

PLO pada awalnya dirancang untuk mengikuti rencana Mesir, serta untuk kepentingan Suriah lebih lanjut dan sebagainya. Sejalan dengan itu, Amerika Serikat merasa bahwa organisasi itu dapat mencapai tujuan utamanya dengan memelihara hubungan dengan negara-negara Arab utama, sementara orang-orang Palestina dapat diabaikan.

Gerakan Fatah di bawah Yasser Arafat bekerja keras untuk mengubah ini. Dengan menggunakan kombinasi manuver politik bermata-dua, serangan teror profil tinggi dan destabilisasi negara-negara Arab yang tidak bersahabat, Arafat mentransformasikan gerakan nasionalis terfragmentasi Palestina menjadi gerakan utuh yang koheren. Setelah Perang Enam Hari tahun 1967, Fatah mengambil alih PLO dan mengubahnya dari alat kepentingan Mesir menjadi gerakan yang independen dan (relatif) bersatu.

Keuntungan diplomatik dari konsolidasi itu luar biasa. Pada pertengahan 1970-an, Liga Arab dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui PLO sebagai satu-satunya perwakilan sah rakyat Palestina. Negara-negara Arab semakin menegaskan bahwa PLO diperhitungkan. Pada akhir 1970-an AS tidak bisa mengabaikan perkembangan ini. Presiden Jimmy Carter menimbulkan kemarahan pendukung pro-Israel ketika dia menyatakan pada tahun 1977 bahwa “harus ada tanah air yang disediakan untuk pengungsi Palestina yang telah menderita selama bertahun-tahun.”

Intifadah Pertama adalah wilayah lain dalam hubungan Palestina-AS. Protes terhadap pendudukan Israel membingungkan Israel secara strategis. Gerakan nasional Palestina memanfaatkan momentumnya dengan mempertahankan front persatuan. Pemberontakan tersebut berawal dari organisasi masyarakat sipil akar rumput, di mana PLO memiliki pengaruh yang kecil. Namun, ketika AS berusaha untuk bernegosiasi langsung dengan pemimpin lokal, mereka bersikeras bahwa PLO harus mewakili mereka dalam perundingan.

Proses tersebut membuka jalan bagi pengakuan Israel dan AS terhadap PLO dan peluncuran Kesepakatan Oslo. Memang, pengaruh Palestina di dunia Arab pada tahun 1990-an menyebabkan ketidak-stabilan, sehingga sebagian besar analis dan praktisi berasumsi bahwa resolusi konflik Israel-Palestina adalah kunci stabilitas regional. Sebagai bukti relevansi Palestina, PA sebagian didanai oleh Amerika Serikat, sementara pasukan keamanannya menerima pelatihan dan dukungan logistik AS.

Kepentingan strategis PA telah makin berkurang sejak saat itu, karena dua alasan. Pertama, Intifadah Kedua adalah bencana bagi gerakan nasional Palestina. Terorisme Palestina diatasi, sementara Israel menghindari membuat konsesi apapun. Kemenangan Israel sangat besar, dan sejak saat itu mereka mempertahankan keunggulannya.

Kedua, gerakan nasionalis terbelah secara efektif. Hamas mendapat pengaruh selama Intifadah Kedua dan memenangkan pemilihan PA 2006. Fatah tidak akan menerima hasil pemilihan dan tetap berkuasa di Tepi Barat, sementara Hamas merebut Jalur Gaza. Hasil akhirnya adalah gerakan nasionalis Palestina yang lemah dan terbagi tidak akan dapat memainkan peran regional yang berarti.

Presiden Trump tampaknya menikmati menyiksa pihak yang lemah. Karena itu, dia sangat luar biasa tak tahu malu. Namun, pada hakikatnya kejahatan Trump atas Palestina adalah pengakuan yang tidak bijaksana atas realitas geopolitik. Pemerintahan George W Bush dan Barack Obama juga tak mengacuhkan PA, namun melakukannya dengan cara yang lebih diplomatis. Memang, ini tipikal perilaku AS. Dalam kasus demi kasus, dari Vietnam Selatan hingga Kurdistan, ceritanya sama: AS sudah biasa meninggalkan sekutu yang lemah.

Jika PA ingin dianggap serius kembali, ia harus membangun kembali kepentingan regional dan internasionalnya. Ini akan melibatkan dua tugas sulit. Pertama, mereka harus menyingkirkan satu halaman dari buku pegangan Arafat dan membangun persatuan dalam gerakan nasionalis. Rekonsiliasi sebenarnya dengan Hamas sangat penting. Mereka kemudian harus membangun kembali pengaruh di dunia Arab. Untuk melakukannya, mereka harus terbukti berguna dalam obsesi saat ini tentang pemerintah Arab: melemahkan Iran.

Hal ini mungkin terdengar tidak mungkin, namun kedua tujuan tersebut saling kompatibel dan saling menguatkan. Kesepakatan yang berhasil menyatukan kembali gerakan nasionalis Palestina harus melibatkan pembagian kekuasaan sejati dengan Hamas sebagai imbalan bagi kelompok Islam yang memutuskan hubungan dengan Iran. Sebuah gerakan nasionalis bersatu Palestina yang menentang pengaruh Iran akan berada dalam posisi untuk membangun kembali hubungan dengan dunia Arab dan memulihkan posisi diplomatiknya.

Sampai langkah-langkah ini diambil, Trump dan penerusnya akan terus menggertak orang-orang Palestina.

Shaiel Ben-Ephraim adalah rekan postdoctoral di Nazarian Center for Israel Studies di University of California, Los Angeles. Shaiel adalah pemenang penghargaan Kimmerling tahun 2015. Dia baru saja menyelesaikan gelar PhD di Pusat Studi Militer, Keamanan dan Strategis di University of Calgary.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Sumber : Menabur Garam pada Luka: Kejahatan Trump atas Palestina Juga Dilakukan Pendahulunya
Itsaboutsoul is offline   Reply With Quote
Sponsored Links
Post New Thread  Reply

Bookmarks

Tags
amerika serikat



Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Wasir Rentan Terjadi Pada Usia 50 tahun ke atas nov_saari Health Kesehatan 1 27th January 2018 02:14 PM
Inilah Tips Penting Untuk Dilakukan Pada Usia Kehamilan Muda tipsku Forum TulisanKu MyWriting 0 27th December 2017 08:49 PM
Renesas Menang atas Djarum pada Laga Pamungkas Grup D agung209 Olah Raga dan Organisasi! 0 30th January 2015 08:05 AM
Aliansi dan Arsenal Perang Palestina supry Forum Militer dan Pertahanan | Defence and Military 0 21st January 2015 10:07 AM
Cerita Tentang Gaza - Palestina r1n2rd Berita dan Informasi 0 30th August 2014 12:55 AM


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 04:34 PM.


forumku.com is supported by and in collaboration with

forumku.com kerja sama promosi kiossticker.com 5 December 2012 - 4 Maret 2013 Web Hosting Indonesia forumku.com kerja sama promosi my-adliya.com forumku.com kerja sama promosi situsku.com

Promosi Forumku :

CakeDefi Learn to Earn

Positive Collaboration :

positive collaboration: yukitabaca.com positive collaboration: smartstore.com positive collaboration: lc-graziani.net positive collaboration: Info Blog

Media Partners and Coverages :

media partner and coverage: kompasiana.com media partner and coverage: wikipedia.org media partner and coverage: youtube.com

forumku.com
A Positive Indonesia(n) Community
Merajut Potensi untuk Satu Indonesia
Synergizing Potentials for Nation Building

Powered by vBulletin® Version 3.8.7
Copyright ©2000 - 2022, vBulletin Solutions, Inc.
Search Engine Optimisation provided by DragonByte SEO v2.0.37 (Lite) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2022 DragonByte Technologies Ltd.
Google Find us on Google+

server and hosting funded by:
forumku.com kerja sama webhosting dan server
no new posts